Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Said Kelana Asnawi dan Johanes Handy Claudio

Said Kelana Asnawi dan Johanes Handy Claudio

Memaknai Ukuran, Beta, dan Portofolio Bagus

Kamis, 19 November 2020 | 23:41 WIB
Said Kelana Asnawi dan Johanes Handy Claudio *)

Jargon beta telah hadir lebih dari 50 tahunan lalu, dan tampaknya masih dipakai para pelaku di pasar modal. Alasannya adalah kesederhanaan menginterpretasikannya. Namun, jangan salah, konsep ini dibuat dengan pemikiran sangat logis dan terstruktur. Untuk itu, sang pencetus, Mbah Sharpe dan Markowitz, ‘dihadiahi’ Nobel Ekonomi (1990) karena kontribusinya.

Beta merupakan salah satu indikator untuk mengukur sensitivitas suatu saham terhadap pergerakan pasar seca ra keseluruhan. Beta menunjukkan ‘dansa’ harga saham dengan rerata (pasar). Jika dansa sama besar, maka (risiko) saham itu setara dengan pasar. Beta pasar bernilai satu (1), dan angka (1) ini jadi patokan. Jika sebuah saham me miliki beta lebih dari satu, dianggap saham itu lebih berisiko.

Konsekuensinya, ekspektasi terhadap return-nya akan lebih tinggi. Pasangan kondang ’risk-return’ ini dicetuskan oleh Sharpe dan Markowitz sebagai Capital Asset Pricing Model (CAPM).

Pelaku pasar bertanya, bera pa beta saham ABC? Dengan men dapatkan angka beta saham, dia tahu kategori risiko saham tersebut. Mu dah, bukan?

Malangnya, apa yang dinyatakan dalam CAPM, tidak serta merta terbukti empiris. Pemenang Nobel, Fama dan muridnya, French, kon dang dengan jampinya: beta is death, yang bermakna tidak ada hubungan (lurus) antara expected return dan risiko, di mana ditemui portofolio saham dengan beta ting gi tidak serta merta return tinggi. Melalui berbagai pengujian (portofolio), Fama & French (FF), menyimpulkan tidak ada bukti relasi beta-return.

Peneliti lainnya, mereplikasi FF dan ikut mencari bukti hu bu ngan ini. Baker et al (2011) ber pendapat telah terjadi anoma li, di mana perusahaan dengan be ta tinggi memiliki imbal hasil yang lebih rendah dibanding ekspektasi, sementara perusahaan de ngan beta rendah, memiliki im bal hasil yang lebih tinggi di banding ekspektasi.

Fenomena ini dikenal dengan nama Betting Against Beta (BAB). Vendrame (2018) menyampaikan, sebuah return saham tentunya tidak bisa ditarik ‘garis lurus’ hanya dengan beta saja.

Sedangkan French (2017) merujukkan bahwa CAPM hasilnya akan lebih tepat jika yang diukur adalah Indeks, karena menunjukkan data agregat. Kami juga melakukan replikasi atas FF (2020), dengan mempergunakan data indeks Kompas 100. Hasilnya tidak terdapat pengaruh ukuran perusahaan terhadap imbal hasil saham, dan juga beta is death.

Anomali ukuran (size), sebagaimana teori, yakni yang kecil lebih berisiko sehingga menghasilkan expected return yang lebih tinggi, juga tidak terjadi.

Anomali ukuran tidak berlaku di pasar modal (Indonesia) oleh pe laku yang cukup cerdas dan ber tipe investor ‘rasional’. Hal ini da pat dijelaskan sebagai berikut: pelaku membeli saham pada LQ 45, di mana secara konsep likuid (dan besar). Kontribusi 45 saham ini berkisar 70% dari pasar. Namun, jika ingin dipakai dalam konsep anomali, juga dapat dibedakan antarkapitalisasi yang besar dan yang kecil.

Jangan salah juga, ada saham yang dapat masuk LQ 45 lalu keluar menjadi gocapan dan saat ini terdampar. Ini sesung guhnya ‘sangat ironi’ betapa begitu mudahnya keluar-masuk, dan terpenting mencerminkan ‘gelembung’ harga.

Bagi investor pemula, tentu sa rannya, carilah saham emiten dengan kapitalisasi pasar yang besar, memahami fundamental dan mempelajari sejarah perusa haan tersebut, barulah memutus kan.

Apa yang terjadi hari ini, sesungguhnya bisa jadi, terlepas dari kemarin dan juga terlepas dari hari esok. LQ 45 dapat menjadi sarana pilihan investasi yang ‘less-risk’ namun tidak berarti ‘less-return’. LQ 45 juga menjadi panduan untuk investasi bagi para fund manager. LQ 45 secara umum adalah saham emiten perusahaan besar, bukan perusahaan kecil.

Hal lain yakni berkenaan ukuran beta yang tinggi menunjukkan risiko tinggi, juga secara praktik dapat menyesatkan. Alasannya adalah: pertama, pada saham gocapan, tidur dalam damai, maka betanya sudah pasti rendah (nol). Hal ini justru menunjukkan situasi sangat berisiko: terjebak dalam kubangan lumpur.

Kedua, beta tinggi adalah fluktuasi tinggi, justru memberi kesempatan berbagai pihak (termasuk investor dan spekulan) untuk merasakan ‘kedamaian’ ada kehidupan yang bergairah. Saham-saham yang aktif, menyebabkan potensi terjebak menjadi berkurang, dan ini secara psikologis sangat baik untuk semua pelaku pasar. Keputusan jual-beli dapat didasarkan berbagai pertimbangan, misal untuk kebutuhan investasi (beli), dan juga karena keperluan uang tunai (jual).

Jika didasarkan hal demikian, keputusan itu dapat sangat rasional. Namun, perlu juga waspada, saham dengan fluktuasi tinggi ada potensi ‘digoreng’ dan terjebak kerugian.

Dari uraian di atas, pelaku pasar dapat memahami, anomali ukuran dan beta is death perlu disesuaikan interpretasinya.

Reaksi Lebih (Overreact)

Waktu dirujukkan teori CAPM dan bukti oleh FF, dunia investasi masih ‘lurus’. Informasi bergerak linear, internet belumlah dikenal. Gerakan harga memang telah ter jadi setiap detik, tetapi hiruk pi kuknya tidaklah sekencang sekarang. Walau begitu, perilaku di pasar modal, oleh praktisi, telah juga dianalisis melalui teori perilaku keuangan.

De-bondt dan pemenang Nobel Thaler (1987) mengeluarkan jampi over-react, di mana dia menunjukkan portofolio winner dalam jangka panjang kinerjanya akan lebih rendah dibandingkan portofolio losser. Wah, jika ini terjadi, maka saham yang bunting sekarang, siapa tahu besok bisa untung. Saham gocapan bisa menjadi koleksi.

Ingat, ini bukan nasihat investasi! Kami tidak menganjurkan demikian itu sebagai arahan investasi. Jika saham tersebut ‘busuk’ fundamentalnya, kemungkinan se makin disimpan akan semakin bu suk. Saham gocapan, harganya diterbangkan oleh ‘pelaku angin’ kecuali memang ada fakta bahwa secara bisnis masih memiliki pros pek bagus. Konsep over-react, looser is winner oleh pelaku pasar dianggap tidak sesuai. Sekali lagi, tampaknya perlu kehati-hatian dalam berinvestasi.

Ukuran, Beta dan Portofolio

Apakah ada kepastian relasi ukuran, beta dan portofolio yang untung dengan return? Ja wabnya, tidak. Sebagaimana per nyataan klasik, yang pasti ada lah ketidakpastian. Lalu untuk apakah mengetahui itu semua, jika hal tersebut tidak berguna? Ja wabnya, hal tersebut berguna sebagai informasi awal yang pen ting, namun perlu ditambah per timbangan lainnya untuk pe ngambilan keputusan.

Ukuran besar menunjukkan pemegang sahamnya banyak/besar, sehingga perhatian pemangku kepentingan (stakeholder) juga besar. Fluktuasi tinggi ‘dapat’ menunjukkan ketidakwajaran (digoreng), menunjukkan hal yang kurang sehat, namun dapat juga diartikan banyak investor memberikan perhatian.

Saham yang bagus hari ini, dapat tetap bagus di masa depan, jika fundamentalnya bagus, secara bisnis/ industri akan tetap eksis, dan atau perusahaan dapat terus berinovasi menyesuaikan kebutuhan. Jadi halhal itu dapat menjadi pertimbangan umum.

Misalkan saja pertanyaan: apakah perusahaan berbasis financial technology (fintech) akan menghancurkan perbankan, sehingga saham industri perbankan akan turun? Investor dapat mengajukan beberapa pertanyaan seperti: apakah perbankan ikut serta dalam fintech?; apakah fintech membuat bank sendiri untuk menyimpan uangnya? Apakah kredit yang diberikan fintech dapat mengimbangi kredit bank?

Apakah risiko bisnis fintech lebih rendah dari risiko perbankan? Siapa kelompok pengguna fintech?; apakah masyarakat kelas bawah, menengah atau atas? Di manakah masyarakat menyimpan uang: fintech atau perbankan? Kemudahan apa yang diberikan fintech dibandingkan bank?

Jawaban investor dapat jadi panduan prediksi bisnis perban kan di era fintech, selanjutnya pre diksi indeks harga saham per bankan. Apakah beta ‘mati’? Ya tapi tidak! Apakah ada anomali ukuran? Ya tapi tidak! Apakah winner is looser?Ya tapi tidak! Kita perlu menyempurnakan informasinya. Dan, disclaimer: risiko ditanggung sendiri! Selamat berinvestasi.

*) Pengajar & Alumni PSMM Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, Jakarta

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN