Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Memanasnya Pertikaian Tiongkok Vs Amerika

Jumat, 28 Agustus 2020 | 08:37 WIB
Tri Winarno *)

Sekarang hubungan Tiongkok-Amerika Serikat (AS) menuju era perang dingin baru. Di samping sedang berlangsung perang dagang yang panjang dan melelahkan antarkeduanya, kedua negara sedang memberlakukan sanksi yang destruktif, melakukan penutupan konsulat, dan saling mencibir dalam setiap pidato resmi kenegaraaan

Upaya merenggangkan ekonomi AS dari Tiongkok sedang berlangsung, dipicu oleh ketegangan yang semakin meningkat antarkedua Negara di Laut China Selatan dan Selat Taiwan.

Terjadinya perang dingin Tiongkok-Amerika Serikat akan mengakibatkan penurunan kesejahteraan global, dan tentu kedua negara tersebut akan semakin sengsara.

Bendera nasional Amerika Serikat (AS) dan bendera nasional Tiongkok. ( Foto: Reuters )
Bendera nasional Amerika Serikat (AS) dan bendera nasional Tiongkok. ( Foto: Reuters )

Perang dingin akan sangat berbahaya dan berbiaya tinggi. Apalagi dalam situasi sekarang yang semestinya justru dibutuhkan kerja sama global dalam mengatasi krisis yang sedang terjadi akibat pandemi Covid-19. Berita baiknya adalah perang dingin Tiongkok-Amerika Serikat masih dapat dihindari. Berita bu ruknya adalah peluang terjadinya perang dingin kedua Negara itu sekarang semakin tinggi dibandingkan dengan beberapa bulan lalu. Bahkan akan semakin memburuk, dan kemungkinan ter jadinya benturan militer an tarkedua negara tersebut semakin meningkat.

Kenapa kondisi demikian bisa terjadi? Yang jelas konfrontasi Tiongkok-AS ini tidak terlepas dari friksi antarkeduanya untuk memperebutkan hegemoni global, di mana AS saat ini sebagai penguasa global dan Tiongkok sedang menantang supremasi AS. Benturan kedua negara tersebut sulit untuk dihindarkan. Tetapi sejarah mencatat, dari perebutan hegemoni dunia selama 16 kali, hanya ada 5 kali yang tanpa peperangan.

Sebenarnya pergeseran hegenomi tersebut masih memungkinkan tanpa disertai pertikaian tajam yang menjurus pada perang terbuka. Beberapa analisis mencatat, awal dari benturan antara Tiongkok- AS ini bermula dari sikap, perilaku dan aksi Tiongkok. Be berapa tahun terakhir ini, khususnya beberapa bulan ini, pemerintah Tiongkok telah menunjukkan sikap agresif, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Misalnya, baru-baru ini Tiongkok melakukan pemberangusan demokrasi di Hong Kong, dengan me nerbitkan undang-undang ke amanan nasional yang baru; perlakuan tidak manusiawi pemerintah Tiongkok terhadap minoritas muslim Uighur; konfrontasi militer di perbatasan dengan India; penenggelaman kapal Vietnam di Laut China Selatan yang masih dipersengketakan; dan menunjukkan kekuatan militer di dekat wilayah Taiwan dan kepulaun Senkaku, suatu daerah yang masih dipersengketakan antara Tiongkok dan Jepang.

Semua faktor tersebut memicu kebencian yang semakin mendalam dari masyarakat AS terhadap Tiongkok. Ditambah dengan persepsi masyarakat AS secara umum bahwa selama ini Tiongkok telah melakukan pencurian Hak atas Kekayaan In telektual (HaKI), praktik perdagangan yang tidak fair sehingga meng akibatkan AS kehilangan pekerjaan di sektor manufaktur, serta unjuk kekuatan militer secara terbuka, dan meningkatnya penindasan terhadap rakyatnya di dalam negeri.

Tetapi, mengapa baru kali ini Tiongkok terlihat semakin agresif?

Pertama, dimungkinkan karena Presiden Tiongkok Xi Jinping melihat peluang untuk memperluas kepentingannya tatkala AS mengalami kesulitan mengatasi pandemi Covid-19.

Kedua, dimungkinkan dalam upaya pemerintah Tiongkok untuk mengalihkan perhatian domestik karena kegagalan upayanya dalam mengendalikan pandemi Covid-19 serta dampak ekonominya. Bahkan, Tiongkok saat ini tidak bisa mematok target pertumbuhan ekonominya. Ini bukan kali pertama bahwa suatu pemerintahan memacu rasa nasionalismenya dalam upaya memutar arah percakapan politiknya.

Ketiga, penjelasannya cukup mengkhawatirkan. Karena, interpretasinya adalah perubahan perilaku Tiongkok akhir-akhir ini terkait dengan keyakinannya bahwa ambisi Tiongkok untuk menjadi hegemoni global sudah waktunya karena faktor kekuatannya sudah dirasa memadai. Kalau ini alasannya, maka pendapat bahwa perang dingin antara Tiongkok dan AS tak dapat dihindarkan, dan bahkan lebih buruk lagi, yaitu akan terjadi perang terbuka antarkeduanya.

Tentu, ketegangan akhir-akhir ini, tidak terlepas dari semakin mendekatnya pemilu presiden AS, di mana pemerintahan Presiden Donald Trump sedang men cari 'kambing hitam' atas ke gagalannya mengendalikan pandemi Covid-19 di negaranya. Memang benar Tiongkok harus bertanggung jawab atas mengglobalnya virus corona, tatkala Tiongkok sejak awal munculnya virus corona berusaha menekan informasi terkait dengan wabah tersebut.

Apalagi sangat lambat merespons penyebaran wabah corona, dan gagal melaku kan kerja sama yang memadai dengan World Heal th Organization (WHO) dan negara lain.

Tetapi Tiongkok tidak dapat di salahkan atas kegagalan AS me ngendalikan wabah corona. Karena pemerintah AS kurang melakukan uji dan pelacakan, dan kegagalan Presiden Trump mengakui dan me nerapkan metode ilmiah, serta menjalankan protokol kesehatan seperti kebijakan jaga jarak dan kewajiban pemakaian masker. Namun, juga salah kalau hanya melihat perubahan sikap AS terhadap Tiongkok karena kondisi politik domestik AS akhir-akhir ini.

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski
Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelum pertemuan bilateral yang diadakan di sela-sela pertemuan puncak kelompok G-20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. AFP / Brendan Smialowski

Kebijakan keras AS kepada Tiongkok akan tetap berlaku, siapapun yang akan menjadi presiden AS berikutnya. Bahkan, kebijakan AS atas Tiongkok akan semakin kritis apabila di bawah kepresidenan Joe Biden, yang kebijakannya akan membalik arah kebijakan ekonomi Trump dan akan lebih memfokuskan pada aspek penyimpangan perilaku Tiongkok yang mengancam hegemoni AS.

Dengan memperhatikan perkem bangan tersebut, maka dalam jangka pendek kedua pihak harus memastikan bahwa kri sis komunikasi dapat dikelola dengan baik dan tepat. Sehingga me reka dapat menyikapi dengan cepat terhadap setiap pertikaian mi liter yang muncul dan dijaga agar pertikaiannya hanya bersifat terbatas.

Akan lebih positif jika kedua pemerintahan tersebut melakukan kerja sama pembuatan vaksin Covid-19 yang tersedia untuk Negara lain pula, dan membantu negara- negara miskin yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Setelah pemilu AS, kedua Negara seharusnya memulai dialog strategis secara diam-diam untuk mengembangkan langkah-langkah guna perbaikan hubungan bilateral. AS harus melupakan cita-citanya untuk melakukan pergantian pe nguasa Tiongkok, dan memfokuskan pembentukan perilaku Tiongkok yang sesuai dengan norma yang wajar. Tiongkok harus ingat bahwa terdapat batas kesabaran bagi AS dan sekutunya terhadap tindakan unilateral Tiongkok yang mengubah status quo di South China Sea, Taiwan, atau dengan Senkaku Islands.

Dalam jangka panjang, harapan terbaik adalah adanya kompetisi yang terkelola dalam hubungan antara Tiongkok dan AS. Yaitu, mereka diharapkan mampu menghindari konflik dan melakukan kerja sama terbatas jika terkait dengan kepentingan kedua negara. Namun, arah menuju détente antarkedua negara raksasa tersebut, masih berliku dan terjal.

Yang jelas hingga Oktober 2020, konstelasi hubungan kedua Negara tersebut akan semakin memanas. Tetapi kecil kemungkinan akan terjadi benturan militer, mengingat biayanya sangat mahal baik bagi AS, Tiongkok, maupun global. Tetapi benturan AS-Tiongkok sulit untuk dikeluarkan dari skenario, jika memperhatikan benturan karakter antara Donald Trump dan Xi Jinping.

Semoga, mereka bisa akur dan tidak semakin memperparah kondisi global yang masih tidak menentu.

*) Pengamat Kebijakan Ekonomi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN