Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nicky Hogan, CEO BeritaSatu Media Holdings

Nicky Hogan, CEO BeritaSatu Media Holdings

Mempertanyakan Nabung Saham

Kamis, 12 November 2020 | 15:26 WIB
Nicky Hogan*)

Dalam realitas objektif, meminjam istilah Yuval Noah Harari, sesuatu ada secara independen dari keyakinan dan perasaan kita. Contoh paling mudah adalah gravitasi. Telah ada jauh sebelum Newton, dan berdampak, baik pada orang-orang yang tidak mempercayainya, maupun pada orang-orang yang mempercayainya.

Nabung Saham” bukanlah merupakan sebuah realitas objektif. Layaknya “dollar-cost-averaging”, awalnya hanya meru pakan sebuah realitas subjektif, kemudian bergerak melebar menjadi sebuah realitas intersubjektif. Karena tidak bersifat mutlak layaknya gravitasi, realitas non-objektif sangat tergantung kepada keyakinan masing-masing individu dan kelompok.

Oleh karenanya menjadi sah-sah saja kalau ada individu atau kelompok yang tidak setuju dan tidak menyukai kata-kata itu, atau tidak menganggapnya bermakna apa-apa.

(Merenungkan kembali yang dikatakan Vasudewa Krisna, “Di Vrindavan, suara serulingku selalu dimaknai sebagai panggilan cinta oleh sapi-sapi di sana. Setiap aku meniup seruling, semua sapi berkumpul dan mendengarkan sebagai kidung kasih dan mereka berbahagia karenanya. Tapi sekelompok ke ledai tidak menganggapnya bermakna apa-apa.”

Hal yang sama terjadi dengan se bagian besar nama-nama tak ber nyawa di dunia maya di Planet Twitter, dan sebagian lainnya di dunia nyata di Planet +62, yang hidup berbiak di tata surya Realitas Subjektif. Tidak berlaku kebenar an objektif di sana. Hanya ada realitas subjektif, di mana gerombolan sapi dan keledai berkumpul dan berkelompok, masing-masing membentuk kawanan intersubjektif.

Para keledai tidak saja tidak menganggapnya bermakna apa-apa, namun mereka juga akan meneriaki para sapi. Celakanya, para sapi dengan senang hati, plus bodoh, merusak kebahagiaannya sendiri dengan meladeni teriakan para keledai).

Memasuki tahun kelimanya, kampanye Yuk Nabung Saham (YNS) yang diluncurkan Bursa Efek Indonesia (BEI) menuai ma kian dan serapah berat ketika pa ruh pertama tahun 2020 ini pasar saham ambruk. Yang sempat terbaca dan dicatat: “Dulu selalu menggaungkan Yuk Nabung Saham, kalau seperti ini bagaimana nasib Investor?” atau “Yuk Nabung Saham sudah berhasil, berhasil memiskinkan investor ritel”.

(Abaikan pernyataan-pernyataan lain dari orang-orang dan para keledai yang terbiasa hidup dalam kotak kandang berpikiran sempit, yang mempertanyakan niat komersialisasi dan agenda bisnis tersembunyi dari gerakan itu).

“When you blame and criticize others, you are avoiding some truth about yourself.”

Ayunan dan gejolak harga saham kerap meninggalkan pertanyaan, apa benar instrumen ini baik untuk semua orang? Apa layak untuk menjadi tumpuan masa depan pe nambah kesejahteraan? Pembelanya akan cepat mengatakan “ya”, setegas penentangnya yang akan langsung mengatakan “tidak”. Tidak, karena tidak semua orang berkemampuan materi dan inteligensi, plus tidak setiap orang mam pu menoleransi risiko.

Tak sanggup menanggung kerugian produk reksa dana dan manajer in vestasinya yang tidak bertanggung jawab, tergiur dan kandas karam di saham-saham gorengan, terpukul remuk dan nanar meradang memandang portofolio yang terbakar di tengah krisis perang dagang, terseret skandal sana-sini, dan utamanya wabah virus corona. Di mana kenikmatan yang diteriakkan?

Lima tahun tidakkah cukup untuk sebuah penantian? Atau un tuk sebuah pembuktian? (Level IHSG 4.462 pada 12/11/2015 naik menjadi 5.509 pada 11/11/2020, hanya menghasilkan 23%, tidaklah fantastis, setimpalkah?) Apa yang akan terjadi jika ditunggu untuk lima tahun berikutnya? Adakah jaminan tidak lagi dijahati, tidak lagi ada krisis dan skandal lainnya, tidak lagi ada wabah virus susulan?

Namun bagaimanapun, bola salju kecil “Nabung Saham” telah meluncur dari puncak gunung es, akan terus bergulir, dan akan terus membesar.

Keingintahuan dan keberanian memulai telah menginspirasi dan menggiring banyak orang memasuki dunia investasi pasar modal, saham dan reksa dana. Berapa kali lipat sudah kenaikan jumlah investor domestik di pasar modal, utamanya para milenial, yang jumlahnya kini lebih dari 70% dari total seluruh investor tercatat.

Berapa kuat telah dirasakan ketahanan dari kejatuhan parah indeks, di tengah dominasi kepemilikan in vestor asing di saham publik yang telah beralih kembali ke pangkuan pertiwi. Berapa antusias melihat catatan harian transaksi triliunan rupiah di bursa saham yang duapertiganya merupakan kontribusi para investor lokal.

Kelegaan telah diajak dan menjadi bagian dari belantara yang selama ini gelap rawan tak tersentuh, tinggi menjulang seolah tak terjangkau. Kebanggaan pada status baru yang disematkan, sebagai “se orang investor”. Kenyamanan menjadi salah seorang pemegang saham perusahaan raksasa bisnis di Tanah Air, atau beberapa sekaligus; dan mengecap sedikit banyak di viden hasil keuntungan tahun berjalan yang dibagikan.

Kebahagiaan menjalani hari-hari dengan pikiran positif dan optimistis, untuk mimpi masa depan yang lebih baik. Kalau dikatakan investasi adalah sebuah kebutuhan, sebuah kenis cayaan, harus pula diakui oleh semua penganut teori realitas, bahwa “Nabung Saham” juga hanyalah sebuah pilihan. Pilihan untuk tidak butuh. Karenanya, terserah Anda.

*) CEO BeritaSatu Media Holdings

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN