Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Mencermati Divergensi Pemulihan Ekonomi Global

Kamis, 24 Juni 2021 | 17:25 WIB
Ryan Kiryanto *)

Prospek ekonomi global membaik karena peluncuran vaksin memungkinkan dunia bisnis melanjutkan aktivitas operasionalnya. Di Amerika Serikat (AS), pemulihan ekonomi ditengarai lebih cepat dari perkiraan, setelah pemerintah AS memompa triliunan dolar AS ke pasar domestik.

Didukung rencana stimulus multi-triliun dolar AS, ekonomi AS diproyeksikan tumbuh 6,9% tahun ini, meningkat dari perkiraan sebelumnya 6,5%.

Ekonomi AS diperkirakan akan tumbuh 3,6% pada 2022, turun dari ekspektasi sebelumnya yang 4,0%. Rencana stimulus AS akan menambah sekitar 0,4% bagi pertumbuhan ekonomi AS dan 1,0% bagi pertumbuhan global.

Itulah laporan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) edisi Mei 2021, yang juga merevisi ke atas proyeksi perekonomian global. Pada rilis Mei 2021, OECD memperkirakan ekonomi global 2021 tumbuh 5,8% dan 4,4% tahun 2022, lebih tinggi dari perkiraan Maret lalu yang sebesar 5,6% dan 4,0%.

Mencermati Dampak Pemulihan Ekonomi AS

Sejak akhir 2020 pasar keuangan global terus bergejolak setelah muncul asesmen bahwa perekonomian AS akan pulih lebih cepat dari perkiraan. Optimisme itu didorong keberhasilan Presiden AS, Joe Biden, meloloskan paket stimulus US$ 1,9 triliun di hadapan Kongres dan Senat AS serta kecepatan pro gram vaksinasi Covid-19 yang sangat masif.

Dinamika ekonomi di AS tidak bisa dicegah. Yang bisa dilakukan adalah merespons dengan tepat. Pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat dari perkiraan awal telah mendongkrak yield obligasi pemerintah dan fenomena di negara adidaya itu yang memicu kepanikan di pasar uang dan pasar modal negara pasar berkembang, termasuk Indonesia. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat mencapai 1,75%.

Lonjakan yield lebih dari 10 basis poin dalam tempo kurang dari satu sesi perdagangan itu memantik kegalauan di pasar keuangan global.

Suku bunga acuan bank sentral AS saat ini sudah di level yang sangat rendah, yakni 0,00-0,25%. The Federal Reserve (The Fed) belum berniat menurunkan Fed Funds rate (FFR) hingga tahun 2023. Meski kenaikan suku bunga acap digunakan untuk menekan inflasi, FFR dinilai belum perlu dinaikkan. Selama periode yang sama, stimulus moneter akan terus diberikan.

Pada akhir semester I-2021, vaksinasi Covid-19 di AS diperkirakan rampung. Memiliki sejumlah farmasi kelas dunia, negeri adidaya itu sudah memiliki vaksin melebihi kebutuhan. Laju pertumbuhan ekonomi AS tahun 2021 diperkirakan sudah positif 5,1%, naik dari minus 4,8% pada 2020. Pada akhir 2021, pengangguran bisa ditekan ke level 4,9%. Kenaikan harga sewa rumah, perawatan kesehatan, dan kebutuhan pokok bakal mengerek inflasi ke level 2,6% pada April-Mei 2021.

Pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat telah menguatkan spekulasi bahwa inflasi di AS akan meningkat. Hal itu berpotensi mendorong The Fed menyesuaikan suku bunga acuan serta menerapkan tapering off, yaitu mengurangi atau bahkan menghentikan program pembelian obligasi pemerintah AS untuk memompa likuiditas ke pasar (quantitative easing/QE).

Untuk meredakan pasar yang nervous, The Fed dan pemerintah AS merilis pernyataan bahwa FFR tidak akan dinaikkan sampai 2023 dan kenaikan inflasi adalah wajar di saat ekonomi berada di jalur pemulihan. Pernyataan tersebut mampu menenangkan pelaku pasar keuangan diiringi keyakinan bahwa tidak ada perubahan stance kebijakan ekonomi AS. Tampaknya The Fed tidak mau didikte oleh pasar lewat kenaikan yield T-Bonds (US Treasury Bonds).

Sejauh ini sinyal pemulihan ekonomi global masih berlanjut di tengah bayang-bayang ketidakpastian pasar keuangan global. Berbagai indikator awal pada April 2021 meng indikasikan ekonomi global terus membaik, tercermin pada kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) ke zona ekspansi, keyakinan konsumen, dan penjualan riteldi beberapa negara.

Volume perdagangan dan harga komoditas dunia juga meningkat sehingga mendukung perbaikan kinerja ekspor negara berkembang,termasuk Indonesia. Pembukaan kegiatan ekonomi di beberapa ne gara menjadi pendorong peningkatan aktivitas ekspor dan impor.

Divergensi Pertumbuhan Ekonomi

Kini arah gerak pertumbuhan ekonomi global kembali ke level aktivitas sebelum pandemi. Ekonomi dunia sedang berada di fase pemulihan, meskipun ba nyak gesekan di beberapa negara lantaran vaksinasi yang lamban.

Itulah yang menciptakan divergensi pemulihan ekonomi dunia, di mana pertumbuhan ekonomi kelompok negara berkembang tidak sekuat kelompok negara maju. Kecepatan vaksinasi Covid-19 di setiap negara menjadi kunci utama (game changer) pemulihan ekonomi yang lebih cepat dan nyata.

Kendati kampanye vaksinasi memungkinkan kelompok Negara maju membuka kembali bisnis secara bertahap, banyak negara berkembang tertahan oleh distri busi vaksinasi yang lamban dan wabah Covid-19 varian baru.

Sejumlah besar negara miskin yang menerima vaksin Covid-19 melalui skema pembagian global tidak memiliki cukup dosis untuk melanjutkan program imunisasi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah vaksin yang dibagikan tidak cukup untuk melindungi populasi dari Covid-19.

Kekurangan terjadi ketika beberapa negara di Afrika menghadapi gelombang infeksi ketiga. Presiden Afrika Selatan (Afsel) Cyril Ramaphosa menyerukan diakhirinya penimbunan vaksin oleh negara-negara kaya.

Pada tingkat benua, sejauh ini hanya 40 juta dosis telah diberikan di Afrika, kurang dari 2% dari populasi di benua itu. Untuk mengatasinya, pemerintah Afsel bekerja sama dengan Covax membuat pusat regional untuk memproduksi vaksin yang lebih ba nyak di negaranya. Covax dibuat tahun lalu untuk memastikan dosis Covid-19 tersedia di penjuru dunia, di mana negara-negara kaya menyubsidi biaya untuk negara-negara miskin.

Dipimpin WHO dan organisasi internasional lainnya, Covax awalnya menetapkan target penyediaan dua miliar dosis vaksin di dunia pada akhir 2021. Sebagian besar vaksin disumbangkan ke negara-negara miskin. Covax berharap dapat mendistribusikan cukup vaksin untuk melindungi minimal 20% populasi. Namun, distribusi vaksin terhambat oleh gangguan pasokan teruatma di negara-negara miskin yang bergantung pada Covax.

Uganda, Zimbabwe, Bangladesh, serta Trinidad dan Tobago adalah beberapa negara yang telah melaporkankehabisan vaksin Covid-19dalam beberapa hari terakhir.

Pada briefing WHO di Jenewa, Swiss, lembaga ini mengakui tingkat kekurangan vaksin tersebut secara gamblang. Dari 80 negara berpenghasilan rendah yang terlibat dalam Covax, setengah dari mereka tidak memilikicukup vaksin untuk melanjutkan program vaksinasi. Sejauh ini programCovax telah mengirimkan 90 juta dosis ke 131 negara. Bak gayung bersambut, pemerintah AS mengumumkan proposal rencana alokasi 25 juta dosis vaksin Covid-19 tahap pertama ke berbagainegara di penjuru dunia. Rencana ini bagian dari janji 500 juta dosis vaksin yang akan disumbangkan AS untuk dunia.

Menurut Gedung Putih, sekitar 19 juta vaksin akan dibagikan melalui program Covax, dengan alokasi 6 juta untuk Amerika Selatan dan Tengah mencakup Brasil, Argentina, Kolombia, Kosta Rika, Peru, Ekuador, Paraguay, Bolivia, Guatemala, El Salvador, Honduras, Panama, Haiti, dan negara-negara Komunitas Karibia (CARICOM) lainnya serta Republik Dominika.

Lalu, 7 juta dosis untuk Asia mencakup India, Nepal, Bangladesh, Pa kistan, Sri Lanka, Afghanistan, Maladewa, Malaysia, Filipina, Vietnam, Indonesia, Thailand, Laos, Papua Nugini, Taiwan, dan Kepulauan Pasifik. Kemudian, sebanyak 5 juta dosis vaksin dialokasikan untuk Afrika, dan 6 juta dosis untuk prioritas regional dan penerima mi tra, termasuk Meksiko, Kanada, dan Republik Korea, Tepi Barat dan Gaza, Ukraina, Kosovo, Haiti, Georgia, Mesir, Yordania, India, Irak, dan Yaman, serta para pekerja garis depan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dari gambaran di atas, logis jika negara maju sekaligus berpredikat produsen vaksin memiliki peluang lebih cepat untuk pulih dibandingkan negara-negara berkembang dan miskin di Asia, Afrika dan Ame rika Latin. Itulah yang bakal men dongkrak laju inflasi di negara- negara maju, sehingga OECD mengingatkan bank-bank sentral negara maju untuk mewaspadai ekspektasi inflasi yang bakal melampaui target mereka.

Pemulihan ekonomi yang diikuti dengan kenaikan permintaan bakal mendongkrak harga bahan mentah dan bahan penolong atau setengah jadi karena rantai distribusi global terganggu kebijakan lockdown di negara eksportir maupun Negara transitor.

Meski diyakini bank-bank sentral tidak terlalu khawatir oleh lonjakan harga yang bersifat temporer, namun ada rasa kurang percaya diri di pasar keuangan karena melihat tingkat risiko dan volatilitas pasar yang tinggi. Untuk itu pemerintah di seluruh dunia harus mempertahankan dukungan bagi kestabilan pendapatan rumah tangga dan korporasi seiring vaksinasi yang dipercepat secara luas untuk melindungi sektor ekonomi yang rentan terdampak (the looser sectors).

Posisi Menguntungkan Indonesia

Dampak pemulihan ekonomi global pada umumnya dan AS pada khususnya akan mendatangkan dua hal positif bagi Indonesia.

Pertama, ekspor akan lebih cepat meningkat karena negara-negara mitra dagang utama Indonesia, termasuk AS, menjadi pasar terbesar produkIndonesia.

Kedua, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dan investasi portofolio akan masuk ke Indonesia. Sebab banyak korporasi multinasional dari negara maju yang kembali sehat dan membutuhkan ekspansi ke mancanegara, termasuk Indonesia yang memiliki potensi pasar yang besar. Pasar ekspor di negara maju akan menjadi rebutan bagi negara-negara eksportir, termasuk Indonesia.

Hal ini menuntut keunggulan kompetitif dari sisi harga dan kualitas produk/jasa buatan Indonesia ke pasar global. Maka, penting untuk dilakukan penciptaan akses finansial yang lebih besar bagi pelaku usaha berorientasi ekspor.

Juga perlu peningkatan efisiensi proses ekspor, yang mencakup penyederhanaan administrasi dan prosedur ekspor, hingga memastikan kelancaran ketersediaan container untuk ekspor. Pemerintah juga harus proaktif mendorong sektor andalan berorientasi ekspor, seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, nikel, tembaga, dan emas.

Gambaran itulah yang diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik membaik pada triwulan II-2021 dan triwulan-triwulan berikutnya. Perbaikan terutama didorong oleh kinerja ekspor, apalagi ditopang kenaikan permintaan dari negara-negara maju, khususnya AS dan Tiongkok, realisasi belanja fiskal (belanja barang, belanja modal, dan bantuan sosial), serta investasi nonbangunan.

Sementara itu, perbaikan konsumsi rumah tangga terus berproses meskipun pembatasan mobilitas masyarakat untuk pengendalian Covid-19 di sejumlah wilayah masih diterapkan.

Dengan perkembangan ini, konsensus pertumbuhan ekonomi 2021 berada di kisaran 4,5-5,5% (yoy). Ini dengan catatan fungsi intermediasi oleh lembaga keuangan, khususnya perbankan, bekerja pada level optimal. Intermediasi perbankan masih kontraksi sebesar 2,28% (yoy) per April 2021, terutama disebabkan belum kuatnya permintaan kredit oleh dunia usaha dan masih relatif tingginya persepsi risiko kredit di mata perbankan. Diyakini kredit perbankan akan meningkat mulai triwulan II-2021 sejalan dengan kian aktifnya mobilitas orang dan barang/jasa.

Pusat-pusat perbelanjaan mulai ramai. Jalan raya mulai dipadati berbagai jenis moda transportasi. Truk-truk pengangkut barang ju ga makin banyak melintas di sepanjang jalan tol pantura yang menghubungkan Jakarta- Surabaya.

Lokasi-lokasi peristirahan (rest area) di sisi kiri-kanan jalan tol juga mulai dipenuhi mobil pribadi yang parkir. Konsumsi listrik dan bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan meningkat tajam.

Sejumlah hotel dengan fasilitas terbuka dan lapangan golf pun mulai kedatangan banyak tamu. Pun dengan sejumlah restoran dan kafe yang mulai kedatangan pengunjung lebih banyak dari biasanya. Mobilitas orang dan barang/ jasa yang makin intens ini menjadi pertanda aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat yang meningkat.

Alhasil, tingkat konsumsi rumah tangga diperkirakan membaik secara signifikan pada triwulan II-2021, sehingga akan mendongkrak PDB berkisar 6,5-7,5% (yoy). Reopening_ kegiatan ekonomi ini tetap harus dilakukan dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat sebagai norma kebiasaan baru (new_normal). Kalau pelaku usaha disiplin menjalankan prokes, konsumen tidak akan ragu untuk datang dan berbelanja. Jadi, akti vitas perekonomian tetap bergulir di tengah keberlanjutan program vaksinasi diperkuat oleh sikap disiplin prokes seluruh lapisan ma syarakat beserta dunia usaha tanpa kecuali.

*) Ekonom

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN