Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Mendalami Misteri Kenaikan Yesus ke Surga

Kamis, 10 Mei 2018 | 11:36 WIB
Oleh Paulus Mujiran

Bagi kami, umat kristiani, peristiwa kenaikan Yesus ke surga mempunyai makna yang khusus. Jika membaca Injil Perjanjian Baru, kisah kenaikan Yesus ditempatkan di bagian akhir. Itu pun tidak ditempatkan dalam perikop khusus, melainkan digabungkan dengan peristiwa lain. Tidak ada maksud bahwa kisah kenaikan Yesus ke surga tidak penting. Melainkan jauh lebih penting merenungkan kisah kehidupan karya Yesus ketimbang meratapi ketika Dia naik ke surga. Jauh lebih penting menata hidup kembali ketimbang terus meratapi yang sudah pergi.


Yesus yang naik ke surga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan-perjalanan hidup Yesus sebelumnya. Yesus yang naik ke surga adalah Yesus yang pernah turun. Tanpa pernah mengalami pengalaman turun, orang tidak pernah bisa naik dalam derajat yang lebih tinggi. Itulah maknanya kekurangan, keadaan sulit, jatuh miskin, tidak berdaya dan lemah.


Untuknya, Yesus siap menjadi kawan dan sahabat dalam perjuangan. Panggilan dan perutusan untuk menghadirkan peradaban kasih mesti dinyatakan dalam perbuatan, bukan sekadar rangkaian kata-kata yang saleh. “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan kebenaran” (1Yohanes 3 : 18).


Ini sejalan dengan harapan Paus Fransiskus pada peringatan hari orang sakit sedunia 11 Februari 2018 lalu dengan mengatakan kita perlu belajar dari murid-murid Kristus yang diutus untuk berani mengambil langkah pertama, terlibat dan mendukung berbuah dan bersukacita.


Mengasihi dengan kata dan perbuatan sebagai wujud perutusan sesudah Yesus naik ke surga merujuk pada konstitusi dogmatis Lumen Gentium artikel 1 yang mengatakan Gereja dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Sebagaimana Yesus Kristus telah menjadi sakramen kehadiran Allah di tengah manusia dan menjadi gembala baik domba-domba dengan kasih kegembalaan-Nya (Yohanes 10: 10-11).


Dia memanggil murid-murid-Nya untuk meneruskan karya dan perutusan-Nya dengan keberpihakan bagi mereka yang sakit, miskin dan menderita. Di depan para murid-Nya, Ia mengatakan misi besarnya, “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4 : 18-19).


Sebagai umat kristiani, kita belajar dari Zakheus seorang kaya, kepala pemungut cukai yang berusaha melihat Yesus

(Lukas 19 : 1-10). Zakhe s secara pribadi memiliki kerinduan untuk melihat seperti apa Yesus itu, namun ia memiliki kekurangan, badannya pendek. Zakheus juga menyadari cap sosial sebagai orang berdosa karena menjadi pemungut cukai. Ia juga dianggap

bangsanya sebagai pengkhianat karena bekerja untuk kepentingan penjajah Romawi. Kisah lain dapat dipelajari dari seorang turun ke Yerikho dan dirampok oleh penyamun yang memukulinya sampai setengah mati (Lukas 10 : 25-37). Banyak orang lewat di tempat itu namun tidak ada satupun yang tergerak oleh belas kasihan kecuali seorang Samaria.


Bagi orang kristiani, hukum yang paling utama adalah cinta kasih. Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati mengajak= untuk berani menggetarkan hati dan budi berbelarasa dengan sesama yang menderita. Kita juga dapat belajar dari Markus 6 : 34-44 ketika Yesus menunjukkan belas kasihan dengan memberi makan kepada 5.000 orang. Yesus mengatakan, “Kamu harus memberi mereka makan”, terkandung maksud agar para murid tidak lari dari tanggung jawab sosial mereka atas nasib orang-orang miskin, orang yang membutuhkan pertolongan.


Para murid tidak perlu khawatir akan biaya yang harusmereka tanggung sebagaimana kebiasaan orang pada umumnya. Dalam momentum Yesus naik ke surga, kita dapat belajar dari kehidupan jemaat perdana Kisah Rasul 2 : 41-47. Kehidupan jemaat perdana yang menjadi semangat gereja sampai dengan hari ini berangkat dari 4 pilar besar, yakni (1) bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, (2) bertekun dalam kehidupan persekutuan, (3) melakukan pemecahan roti, dan (4) berdoa bersama-sama.


Dan wujud konkret perutusan kita sekarang seperti halnya dalam 1Yohanes 3 : 16-24, kita diajak untuk mewujudkan kasih itu dalam tindakan nyata dengan kata dan perbuatan. Paus Fransiskus menunjukkan sikap yang nyata yakni kita diajak untuk mendekati mereka yang miskin dan menderita, bertatap muka, menyapa, memeluk mereka dan membiarkan mereka merasakan kehangatan kasih yang memecah kesepian mereka.


Untuk mengubah sejarah dengan membangun peradaban sejati diperlukan keberanian mendengarkan jeritan orang miskin dan membangun komitmen untuk mengakhiri derita yang mereka alami. Apa makna kisah kenaikan Yesus ke surga dewasa ini?


Dalam masyarakat plural seperti Indonesia sekarang ini kiranya pesan Yesus itu lebih tepat ditafsirkan bahwa kita harus memberi kesaksian tentang kebenaran kepada orang lain. Kesaksian adalah mewujud dalam tindakan nyata. Sering terjadi orang berbusa-busa bicara tentang hal-hal Injili namun perilaku dan tindakan jauh dari kebenaran.


Ketika masyarakat pada umumnya memandang bahwa korupsi, tidak jujur, melakukan kekerasan sebagai hal yang wajar, bagaimana orang Kristen mencoba dengan gaya hidup yang berbeda. Pada saat yang lain Yesus memperkenalkan cara hidup jemaat.


Cara hidup itu ialah berkumpul, memecahkan roti, makan bersama dan berdoa bersama. Kata kuncinya adalah berkumpul dan berbagi. Dewasa ini ada banyak gerakan untuk berkumpul namun sedikit yang berbagi rezeki kepada sesama.


Meneladani Yesus yang menggandakan lima roti dan dua ikan untuk dibagikan kepada jemaat yang hadir, sumber belajarnya adalah mau berkumpul, berdoadan berbagi kepada sesama. Berbagi adalah kata yang mudah diucapkan namun sulit diwujudkan.


Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN