Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Komite Investasi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH)

Komite Investasi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH)

Mengapa Imbal Hasil SUN Indonesia Tinggi?

Siswa Rizali, Kamis, 17 Oktober 2019 | 14:50 WIB

Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara Indonesia (SUN RI) mengalami penurunan pascakrisis finansial global 2008. Yield SUN RI tenor 10-tahun saat ini berkisar 7,2%, dibandingkan 12% pada awal 2009.

Pasca Indonesia memperoleh layak investasi dari Fitch (Desember 2011) dan Moodys (Januari 2012), yield SUN menyentuh titik terendah 5,1% di Februari 2012. Sejak 2013 sampai saat ini, yield SUN RI bergerak dalam rentang 6,0% sampai 9,7%. Sedangkan peringkat layak investasi Indonesia dari lembaga S&P pada Mei 2017 hanya disertai rally sementara SUN, di mana yield SUN RI menyentuh 6,1% pada Januari 2018. Kemudian harga SUN RI kembali terkoreksi 13% sepanjang Januari-Oktober 2018 dan yield melonjak ke 8,8%.

 

Lebih Tinggi

Meski ekonomi makro Indonesia relatif stabil, ternyata yield SUN RI jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Yield SUN (tenor 10-tahun) untuk Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam masing-masing sekitar 3,4%, 1,5%, 4,6%, dan 3,9%.

Peringkat investasi Malaysia, A-, memang jauh lebih bagus daripada peringkat Indonesia yang BBB. Sedangkan Thailand dan Filipina peringkatnya hanya sedikit lebih bagus dari Indonesia, masing-masing BBB+. Sebaliknya, peringkat Vietnam yang BB, lebih rendah dari Indonesia.

Padahal yield SUN Vietnam Februari 2012 mencapai 12,0%, jauh di atas yield SUN Indonesia yang saat itu sekitar 5,1%. Sedangkan yield SUN Filipina saat itu menyamai yield Indonesia. Pasca gejolak bursa global 2013, yield SUN Indonesia naik di atas yield SUN Vietnam dan Filipina.

Dalam perbandingan lebih luas, yield SUN Indonesia juga lebih tinggi dari India (BBB-), Rusia (BBB-), Brasil (BB-), dan Meksiko (BBB+), yang masing-masing yield SUN-nya adalah: 6,7%, 6,7%, 6,8%, dan 6,8%.

 

Faktor Penentu Yield SUN

Paling tidak, empat faktor ekonomi makro yang sangat menentukan tingkat yield surat utang sebuah negara, yaitu tingkat inflasi, beban utang pemerintah, defisit transaksi berjalan, dan struktur perkembangan pasar modal (untuk studi formal, lihat Aizenman, Jinjarak, & Donghyun Park, 2016).

Meski yield SUN nominal Indonesia lebih tinggi daripada yield SUN emerging market pembanding, boleh jadi yield SUN riil tidak jauh berbeda. Yield SUN riil adalah yield SUN nominal dikurangi dengan inflasi tahunan.

Pada masa lalu, salah satu penyebab suku bunga dan yield utang Indonesia tinggi adalah inflasi yang tinggi. Namun, inflasi Indonesia saat ini sudah mendekati negara lain. Dengan inflasi 3,3%, yield SUN riil Indonesia sekitar 3,8%. Sedangkan yield SUN riil negara-negara pembanding dari yang terendah adalah 1,2% (Thailand) sampai yang tertinggi 3,6% (Meksiko). Hanya Brasil yang memiliki yield riil lebih tinggi daripada Indonesia, yakni 3,9%. Jadi, yield SUN riil RI umumnya juga lebih tinggi daripada negara-negara pembanding.

Dari beban utang pemerintah, seperti rasio utang publik terhadap produk domestik bruto (PDB), Indonesia memiliki rasio yang rendah, yaitu 29% PDB. Kecuali Rusia, semua negara pembanding (Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Meksiko, India, dan Brasil), memiliki rasio utang terhadap PDB yang lebih tinggi dari Indonesia. Misalnya, Filipina sekitar 38% PDB dan yang tertinggi adalah Brazil dengan rasio 84% PDB. Sedangkan rasio utang terhadap PDB dari Rusia hanya 15% PDB, jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia.

Rasio defisit transaksi berjalan luar negeri terhadap PDB dapat menjadi indikator kerentanan beban utang sebuah negara, apalagi bila pembiayaannya tergantung arus modal global atau utang valuta asing besar. Pada tahun 2018, rasio defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai 3% PDB. Rasio indikator ini kontras dengan negara lain, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Rusia yang transaksi berjalannya surplus. Sedangkan negara yang transaksi berjalannya defisit, seperti Brasil, Meksiko, India, dan Filipina, memiliki nilai rasio defisit terhadap PDB yang lebih kecil.

Jadi, rasio defisit transaksi berjalan menjelaskan sebagian penyebab yield SUN RI lebih tinggi. Namun yield SUN RI masih sangat lebih tinggi dari yield di negara yang defisit transaksi berjalannya relatif besar, seperti India (2,3% PDB) dan Filipina (2,4% PDB).

Satu karakteristik pasar modal Indonesia adalah besarnya peran investor global. Kepemilikan investor asing di SUN RI sangat tinggi, mencapai 38% saat ini (tertinggi 41% pada Januari 2018). Negara lain yang kepemilikan asing di SUN cukup tinggi adalah Meksiko, Malaysia, dan Rusia, masing-masing sebesar 32%, 23%, dan 23%. Kepemilikan SUN oleh asing di negara lain di bawah 20%, misalnya Brasil, Thailand, Filipina, dan India masing-masing sekitar 11%, 19%, 8%, dan 4%.

Dari perspektif positif, tingginya porsi kepemilikan asing di SUN RI mengindikasikan kepercayaan investor global pada Indonesia, baik dari fundamental ekonomi, disiplin kebijakan makro, dan komitmen membayar utang.

Tetapi, besarnya kepemilikan asing di SUN RI berdampak negatif berupa ketergantungan yang berlebihan kepada arus investasi portofolio global. Dengan porsi asing yang sangat besar, setiap perubahan dinamika global sangat berpengaruh bagi gejolak nilai tukar dan yield SUN Indonesia. Akibatnya, investor global meminta kompensasi yield SUN yang lebih tinggi untuk mengantisipasi risiko likuiditas dan volatilitas bursa SUN Indonesia.

 

Implikasi Kebijakan

Dari empat indikator yang dievaluasi, interaksi dua indikator mengindikasikan menjadi penyebab yield SUN RI lebih tinggi dibandingkan yield negara lain, yaitu: besarnya defisit transaksi berjalan dan besarnya porsi kepemilikan asing di SUN. Keberhasilan mengatasi kedua masalah ini dapat menurunkan yield SUN RI pada masa mendatang.

Untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan, pemerintah tidak bisa melakukan pembatasan impor karena proses produksi manufaktur dan distribusi sangat tergantung dari impor barang modal, bahan baku, dan jasa. Lebih baik pemerintah melakukan deregulasi sektor riil guna menarik investasi penanaman modal langsung dari luar negeri (foreign direct investment/FDI) untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional. Kebijakan ini merupakan strategi jangka panjang.

Dalam jangka pendek, pemerintah lebih mungkin mendorong peningkatan partisipasi investor domestik untuk berinvestasi di SUN. Pemerintah seharusnya memberikan insentif agar investor lebih memilih SUN sebagai portofolio dasar investasi dan memegangnya dalam jangka panjang.

Salah satu insentif yang bisa diberikan adalah keringanan atau pembebasan pajak penghasilan atas kupon dan capital gain dari investasi SUN. Pemerintah juga dapat mendorong investor institusional asuransi dan dana pensiun secara formal mengadopsi indeks SUN sebagai tolok ukur kinerjanya, sebagaimana yang telah banyak diterapkan oleh industri Manajer Investasi pada produk reksa dana.

 

Siswa Rizali

Komite Investasi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA