Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Yudhi Setyawan, Group Head Credit Risk
Analysts Bank BRI

Yudhi Setyawan, Group Head Credit Risk Analysts Bank BRI

Menjaga Performa Pinjaman Perbankan Kala Pandemi Covid-19

Kamis, 22 Oktober 2020 | 07:00 WIB
Yudhi Setyawan *)

Indonesia pada Oktober 2020 ini dipastikan memasuki masa resesi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 sebesar -2,9% sampai -1%. Tanda-tanda resesi sebenarnya sudah dapat diperkiraan ketika Juli 2020 Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,1%, berlanjut ke Agustus 2020 mengalami deflasi sebesar 0,05%, dan terakhir pada September 2020 kembali deflasi sebesar 0,05%.

Resesi berdampak kepada beberapa perusahaan yang akan mengalami kontraksi dalam jangka panjang, disertai penurunan daya beli masyarakat, yang ditunjukkan dari indeks penjualan riil yang terus mengalami penurunan. Pemberlakuan Pembatasan Sosi al Berskala Besar (PSBB) di be berapa wilayah telah berdampak terhadap operasional perusahaan.

Berdasarkan analisis hasil survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap para pelaku usaha terkait dampak Covid-19, ternyata mayoritas perusahaan (82,85%) saat ini telah mengalami penurunan pendapatan.

Hal tersebut disebabkan dalam menjalankan aktivitas operasional, hanya sedikit perusahaan yang ma sih mampu melakukan operasional seperti biasa/normal, yaitu sebesar 58,95%. Sisanya (41,05%), sudah mulai mengurangi aktivitas produksinya atau menerapkan work from home (WFH).

Lebih lanjut, beberapa perusahaan sudah tampak mengalami kontraksi ketika mengambil langkah efisiensi dengan cara pengurang an karyawan (dengan persentase perusahaan sebesar 35,56%).

Penurunan pendapatan ini tentunya berdampak pada performa pinjaman perbankan.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia, pertumbuhan kualitas aktiva produktif kategori performing loan (PL) pada bank umum konvensional dan syariah dari bulan April hingga Juli 2020 sebesar 0,02%, sedangkan pinjaman bank dengan kualitas non performing loan (NPL) bertambah sebesar 9,59%.

Hal tersebut menunjukkan kualitas performa pinjaman perbankan pada bulan April hingga Juli 2020 semakin menurun. Selain itu, apabila dilihat angka perbandingan year on year, peningkatan NPL itu meningkat mencapai 25,89%. Angka pemburukan kualitas aktiva produktif tersebut harus segera diantisipasi.

Pemburukan kualitas pinjaman perbankan kategori NPL didominasi oleh bank umum kegiatan usaha (BUKU) 4 dibandingkan dengan tingkat bank BUKU yang lain. Ini dimungkinkan karena pada bank BUKU 4 terus melakukan ekspansi pinjaman meski dalam kondisi pan demi Covid-19.

Selain itu, bank BUKU 4 mempunyai aktiva produktif yang jauh lebih besar dibanding kan bank BUKU lain, khususnya dalam menyalurkan pinjaman korporasi.

Pada bank BUKU 4, per tumbuhan NPL untuk pinjaman produktif pada bulan April sampai dengan Juli 2020 sebesar 22%. Pemburukan itu didominasi oleh penurunan performa pinjaman di bidang industri pengolahan (share sebesar 35% dari total NPL pinjaman produktif), bidang perdagangan besar dan eceran (share sebesar 33%), dan bidang real estate (share sebesar 4%).

Sedangkan untuk kualitas pinjaman konsumtif, pada rentang waktu bulan April sampai dengan Juli 2020 juga mengalami peningkatan NPL sebesar 23%. Pada pinjaman konsumtif, pemburukannya didominasi pemberian pinjaman Kredit Pemilikan Rumah/ KPR (share sebesar 40% dari total NPL pinjaman konsumtif).

Pada bank BUKU 3, terdapat per baikan NPL pinjaman produktif pada bulan April sampai Juli 2020 yaitu sebesar 3,53%, namun untuk pinjaman konsumtif mengalami pemburukan sebesar 0,95%. Bank BUKU 2 mengalami perbaikan NPL pinjaman produktif sebesar 4,1%, dan di lain sisi mengalami pemburukan NPL pinjaman konsumtif sebesar 2,19%.

Sedangkan bank BUKU 1, angka statistik menunjukkan terjadi perbaikan NPL baik pada pinjaman produktif maupun konsumtif. Namun yang perlu diperhatikan adalah bank BUKU 3, BUKU 2, dan BUKU 1 mengurangi ekspansi pinjaman, baik pinjaman produktif maupun konsumtif.

Perbankan yang diandalkan pemerintah untuk dapat membantu percepatan pemulihan perekonomian dengan mem bantu menyalurkan kredit program supaya para pelaku usaha tetap survive di saat pandemi, justru malah cenderung bersikap pasif mengambil peran tersebut. Perbankan dalam menyalurkan pinjaman harus memiliki strategi yang bagus, sehingga pinjaman yang diberikan kepada pelaku usaha dapat dikucurkan dengan tepat dengan kualitas pinjaman sehat.

Adapun strategi yang dilakukan antara lain: Pertama, memetakan pergerakan NPL di beberapa segmen bisnis dari awal pandemic hingga saat ini. Perbankan dapat melakukan ekspansi pinjaman pada sektor-sektor usaha yang memiliki performance NPL rendah. Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia, sektor pangan menjadi sektor yang paling tahan dari tekanan ekonomi di saat pandemi.

Selain itu, sektor kesehatan, pendidikan, dan sektor terkait energi (listrik, gas, dan air) bisa menjadi referensi penyaluran kredit utama.

Kedua, perbankan mengutamakan penyaluran program penjaminan pinjaman dibandingkan skema pinjaman yang lain. Kementerian Keuangan saat ini telah menempatkan dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ke pada Himpunan Bank Milik Ne gara (Himbara) sebesar Rp 47,5 triliun.

Selain itu, kepada Bank Pembangunan Daerah (BPD) se besar Rp 11,2 triliun, dan bank syariah sebesar Rp 3 triliun. Penempatan dana tersebut dimaksudkan untuk dapat disalurkan oleh perbankan berupa pinjaman kepada para pelaku usaha dengan skema program penjaminan modal kerja. Pinjaman ini memiliki risiko default rendah karena di-back up asuransi, sehingga perbankan dapat lebih leluasa menyalurkannya karena risiko termitigasi.

Ketiga, perbankan dapat melakukan ekspansi pinjaman produktif dengan berbasis Trickle Down Business dan Financial Base Ecosystem, sehingga perbankan dapat menguasai cash flow bisnis debitur dan memperhitungkan kemampuan cash flow dengan mudah. Trickle Down Business diperoleh dari vendor-vendor dari debitur korporasi yang dikategorikan paling sehat oleh suatu bank.

Financial Base Ecosystem merupakan suatu skema pengelolaan transaksi keuangan oleh bank terhadap seluruh perusahaan yang bergerak di sektor hulu sampai dengan pelaku usaha di sektor hilir, sehingga perbankan bisa memastikan sejauh mana risiko pembiayaan yang diberikan.

Sedangkan untuk ekspansi pinjaman konsumtif tetap memungkinkan ditingkatkan, dengan catatan diberikan kepada debitur dengan penghasilan tetap sehingga risiko kreditnya dapat terukur.

Keempat, perbankan harus aktif melakukan tindakan penyelamatan kredit (restrukturisasi) kepada pelaku usaha yang bisnisnya terkena dampak pandemi dengan menggunakan skema restrukturisasi yang tepat, sehingga kualitas pinjaman tidak sampai menggelontor menjadi NPL.

Kelima, perbankan melakukan langkah-langkah penyelesaian pinjaman kolektibilitas NPL yang sudah tidak mungkin lagi diselamat kan. Langkah penyelesaian ini dilakukan dengan pemetaan ting kat kesulitan setiap debitur, sehingga upaya penyelesaian dapat fokus dan intensif dilakukan, serta menghasilkan recovery yang maksimal untuk perbankan.

Kualitas pinjaman perbankan saat pandemi sangat ditentukan oleh kondisi finansial perusahaan.

Sementara itu, perusahaan dapat menjalankan kegiatan bisnisnya dengan baik apabila mendapatkan bantuan stimulus dari pemerintah. Pemberian stimulus saat ini mayoritas diperuntukkan untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sementara untuk perusahaan korporasi padat karya masih belum tersentuh maksimal. Apabila perusahaan korporasi padat kar ya tidak diberikan stimulus, dikhawatirkan akan terus terjadi efisiensi karyawan.

Salah satu contoh stimulus yang dibutuhkan pelaku perusahaan adalah percepatan pemberian program penjaminan pinjaman modal kerja untuk plafon di atas Rp 10 miliar. Pinjaman skema ini bermanfaat ba gi perusahaan korporasi padat karya untuk talangan pembayaran biaya operasional, sehingga perusahaan tetap dapat berjalan. Sampai dengan saat ini realisasi program penjaminan modal kerja untuk di atas plafon Rp 10 miliar masih sangat lambat, perlu ketegasan dari pemerintah mengatur teknis pe laksanaannya.

Peran pemerintah bersama perbankan sangat diandalkan dalam mengatasi situasi saat ini. Namun demikian tetap harus diperhatikan kualitas pinjaman yang disalurkan. Perbankan dituntut untuk tetap menyalurkan pinjaman secara prudent kepada debitur, supaya roda perekonomian terus berputar. Kondisi resesi harus disikapi dengan hati-hati, khususnya dengan menjaga keberlanjutan perusahaan- perusahaan yang bergerak di sektor riil, di mana salah satunya de ngan loan bank. Kolaborasi antara pemerintah dan perbankan yang bagus dapat mengangkat kinerja operasional pelaku usaha sehingga bangsa ini dapat segera lepas dari masa resesi.

*) Group Head Credit Risk Analysts Bank BRI (Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili entitas di mana penulis bekerja).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN