Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Menopang Segmen Korporasi di Saat Pandemi

Senin, 19 Oktober 2020 | 14:30 WIB
Hery Gunardi *

Pandemi Covid-19 kian menunjukkan dampak pukulannya terhadap dunia bisnis dan ekonomi. Ancaman resesi ekonomi kian terang. Sinyal menuju ke arah itu demikian kuat. Hampir setiap indikator perekonomian pada kuartal III-2020 menunjukkan keadaan kontraksi. Pemerintah bahkan telah mengubah outlook pertumbuhan ekonomi, baik secara kuartalan, maupun tahunan.

Setelah sejumlah negara merealisasikan resesi per ekonomian pada kuartal II-2020, Indonesia diprediksi menyusul pada kuartal III-2020. Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 akan berada di rentang -2,9% hingga -1,1%.

Lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya yakni -2,1% hingga 0%.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2020 diproyeksikan di kisaran -1,7% hingga -0,6%.

Lebih dalam dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya di angka -1,1% hingga 0,2%. Konsumsi rumah tangga, diperkirakan terkoreksi sebesar -3% hingga -1,5% pada kuartal III. Hingga akhir tahun, tingkat konsumsi diperkirakan tetap berada di zona kontraksi, yakni di angka -2,1% hingga -1%.

Defisit anggaran pada tahun ini pun diperkirakan lebih lebar dari target semula Rp 1.039,2 triliun atau 6,34% dari produk domestik bruto (PDB).

Hal itu berarti, ekonomi Indonesia selama dua kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan ke bawah. Sebuah kondisi yang tidak dinginkan oleh siapa pun. Namun bagaimanapun, tetap harus dihadapi. Dampak pandemi juga merambat hingga ke sektor jasa keuangan, khususnya ke sektor perbankan yang memiliki fungsi intermediary.

Fungsi intermediary, di tengah hantaman pandemi, masih lemah. Pertumbuhan kredit masih terbatas karena permintaan domestik belum kuat. Permintaan konsumsi belum membaik ke posisi sebelum pandemi.

Akibatnya, kinerja korporasi dan segmen usaha lainnya masih dalam tekanan. Penghimpunan dana pihak ke tiga (DPK) perbankan nasional, misalnya, hingga Agustus 2020 tercatat naik 11,64% secara tahunan (year on year/ yoy).

Kenaikan ini merupakan lonjakan yang cukup besar. Namun, kondisi terbalik di sisi penyaluran kredit. Data Oto ritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit per bankan pada Agustus 2020 tumbuh 1,4% (yoy). Angka pertumbuh annya melambat dibandingkan penyaluran kredit pada Juli yang tumbuh 1,53% (yoy).

Kendatipun perbankan masih mencatatkan ke naikan penyaluran kredit, tetapi kondisi tersebut terbilang rendah dibandingkan dengan kondisi bia sanya.

Sekilas saja kita dapat menyimpulkan bahwa bisnis saat ini bergerak sangat lambat. Masyarakat cenderung menyimpan dananya di bank, alih-alih memutarkan atau membelanjakan dananya, yang se betulnya berdampak positif ter hadap roda bisnis dan ekonomi.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan bahwa perlambatan penyaluran kredit perbankan nasional antara lain imbas segmen korporasi yang belum bergerak dan justru menurunkan baki debet kreditnya.

Alih-alih korporasi, justru segmen UMKM yang menjadi penopang realisasi kinerja penyaluran kredit pada Agustus 2020.

Kondisi tersebut agak berbeda dibandingkan dengan Juli 2020, ketika segmen UMKM justru be nar-benar terpukul yang terpampang pada rendahnya pertumbuh an permintaan kredit. Ketika itu, kredit UMKM secara nasional ha nya tumbuh 1,15% (yoy). Jauh di bawah pertumbuhan kredit kor porasi sebesar 3,78%.

Segmen korporasi memang berbeda dibandingkan dengan UMKM. Jika UMKM sedikit demi sedikit mulai kembali bergerak, terutama setelah ada kebijakan relaksasi kredit, subsidi bunga, dan penjaminan kredit bagi mereka yang terdampak, lain halnya de ngan korporasi. Ekspor belum naik –yang sedikit banyak berdampak terhadap sektor korporasi. Kepercayaan diri masyarakat juga belum pulih untuk melakukan aktivitas normal.

Belum ada aktivitas bepergian yang berarti dari masyarakat, yang menyebabkan belum ada demand yang ter-create. Penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta juga semakin berdampak terhadap korporasi.

Untuk memancing geliat segmen korporasi, sebelumnya peme rintah sudah memberikan stimulus berupa penjaminan kredit korpo rasi bekerja sama dengan LPEI dan PII. Namun ternyata belum cukup. Data OJK menunjukkan belum banyak segmen korpo rasi yang menggunakan stimulus tersebut. Sehingga wajar apabila OJK menilai perlu ada kebijakan khusus. Tumbuh Terbatas

Perbankan secara umum sebetulnya dalam kondisi yang siap untuk menyalurkan kredit. Namun, kendala murni ada di sek tor riil yang memang tidak ber gerak akibat pandemi sehingga tidak membutuhkan kredit bank. Akibatnya, kredit bank tumbuh terbatas.

Di Bank Mandiri, tidak banyak korporasi yang meminta restrukturisasi dan relaksasi. Kami melihat, ini berarti bisnis mereka semua relatif masih aman. Artinya, masih terkendali. Mungkin karena mengurangi produksi, melakukan efisiensi, dan lain-lain sebagainya. Dengan demikian, bisa jadi mereka merasa tidak perlu memanfaatkan fasilitas restrukturisasi dan relaksasi tersebut.

Jika melihat realisasi kinerja hingga Juni 2020, segmen corporate banking di Bank Mandiri masih membukukan kinerja cukup impresif. Pasalnya di tengah pandemi, segmen ini membukukan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 6% (yoy). Saat ini portofolio kredit korporasi adalah sebesar 67 % dari total kredit, sedangkan UMKM hanya 33%.

Adapun pada paruh pertama 2020, Bank Mandiri menyalurkan kredit senilai Rp 754,8 triliun dengan penyaluran ke segmen wholesale Rp 498,6 triliun dan ritel Rp 256,2 triliun.

Dengan realisasi penyaluran tersebut, kami cukup bersyukur karena sejauh ini segmen ini mencatatkan rasio NPL yang baik, sekitar 1 %. Artinya, kualitas kredit masih terjaga. Rasio yang terjaga itu ditopang oleh pengelolaan risiko yang baik, dengan beberapa strategi. Di an taranya monitoring sektor usaha dan debitur secara ketat ser ta re strukturisasi secara prudent.

Bagaimanapun, kami mendukung rencana OJK untuk menghidupkan kembali segmen korporasi di tengah kondisi sulit ini. OJK, sebagaimana dikemukakan pimpinan OJK, sedang berpikir keras untuk menyiapkan insentif tambahan yang pas untuk membangkitkan korporasi-korporasi di tengah pagebluk ekonomi akibat pandemi.

Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Begitu pun kejadian pandemi yang telah memutarbalikkan kehidupan banyak manusia dan menghantam perekonomian global sedemikian rupa. Mungkin boleh dikatakan blessing in disguise.

Pandemi Covid-19 telah membuka mata banyak pihak, sekaligus memberikan pelajaran berharga. Bahwa ternyata sangat berisiko memusatkan rantai pasok barang global hanya di satu negara.

Selama ini, Tiongkok telah menjelma menjadi pusat produksi bagi banyak produk yang dihasilkan perusahaan-perusahaan global dan digunakan oleh masyarakat dunia. Mulai dari barang konsumsi, tekstil, hingga produk tek nologi. Tiongkok menjadi importir sekaligus eksportir utama bagi ba nyak negara di dunia. Yang pada prosesnya kemudian menempatkan negara dengan penduduk lebih dari 1 miliar jiwa ini menjadi pu sat rantai pasok global.

Keseimbangan mulai terganggu ketika wabah pertama kali menyeruak di Wuhan, Tiongkok, pada akhir Desember 2019 yang kemudian semakin meluas pada 2020. Demi menekan penyebaran wabah yang disebabkan oleh coronavirus, Tiongkok mengeluar kan sejumlah kebijakan, termasuk menutup jalur perbatasan. Akibatnya terasa. Operasional bisnis dalam skala global menjadi terhambat.

Kenyataan itu akhir nya menya darkan banyak pihak untuk mulai menyebarkan rantai pasok ke banyak negara. Maka kini, banyak perusahaan multinasional yang mulai merelokasi industrinya dari Tiongkok. Negara- negara di Asia, khususnya Asia Tenggara, termasuk lokasi yang dibidik oleh per usahaan- perusahaan multina sional itu.

Di tengah keprihatinan, tetap ada peluang. Seperti itulah blessing in disguise-nya. Relokasi Investasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto belum lama ini menyebutkan ada 143 perusahaan luar negeri yang bersiap-siap merelokasi investasi ke Indonesia. Diperkirakan, akan ada 300.000 lapangan kerja baru dari potensi tersebut. Ini tentu saja kabar baik di tengah kondisi serba sulit ini.

Bagi perbankan, khususnya cor porate banking, kabar ini juga merupakan berita gembira. Artinya terbuka peluang baru pa sar pembiayaan korporasi. Saat pembiayaan bergerak dari sistem perbankan ke sektor riil, maka roda bisnis pun bergerak, ekonomi bergerak.

Tentu saja, bank perlu tetap memperhatikan pengelolaan ma najemen risiko yang prudent demi menjaga kualitas kredit. Selain persoalan pertumbuhan kredit, ada hal lebih penting yang mesti dijaga, yakni kestabilan dan kesehatan bank.

Melihat kondisi perekonomian saat ini yang dibayang-bayangi oleh dampak pandemi Covid-19, kami berharap segmen korporasi masih bisa tumbuh positif hingga akhir tahun. Paling tidak masih di sekitar single digit, karena masih banyak sektor potensial yang relatif kebal dari dampak pandemi, seperti sektor telekomunikasi,

FMCG (fast moving consumer goods), serta sektor farmasi dan jasa kesehatan. Dengan data ana lisis melalui Enterprise Information & Decision Platform, Mandiri mampu memonitor operasional bank sehingga dapat memberikan keputusan yang= cepat berdasarkan informasi yang tersedia.

Seperti pesan pidato Presiden Joko Widodo di PBB bahwa kerja sama dalam penanganan Covid-19 harus kita perkuat, baik dari sisi kesehatan maupun dampak sosial ekonominya. Vaksin akan menjadi game changer dalam perang melawan pandemi. Kita harus be kerja sama untuk memastikan bahwa semua negara mendapatkan akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga ter jangkau.

Dari sisi ekonomi, aktivasi ekonomi harus memprioritaskan kesehatan warga dunia. Dunia yang sehat, dunia yang produktif harus menjadi prioritas kita. Semua itu dapat tercapai jika semua bekerja sama, bekerja sama, dan bekerja sama.

Mari kita memperkuat komitmen dan konsisten menjalankan komitmen untuk selalu bekerja sama. Pesan yang dalam dari Presiden untuk terus bekerja sama, harus menjadi bonding bagi kita semua dalam berkontribusi menggerakkan geliat ekonomi untuk pemulihan ekonomi nasional.

*) Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Tulisan merupakan pendapat pribadi)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN