Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Banjaran Surya Indrastomo, Kepala Kluster Ekonomi Digital Islam, Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah, Universitas Indonesia. Dosen program studi Ekonomi Islam, Universitas Indonesia

Banjaran Surya Indrastomo, Kepala Kluster Ekonomi Digital Islam, Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah, Universitas Indonesia. Dosen program studi Ekonomi Islam, Universitas Indonesia

Merger Bank BUMN Syariah: Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?

Jumat, 27 November 2020 | 22:56 WIB
Banjaran Surya Indrastomo *

Penantian panjang insan ekonomi syariah di Indonesia untuk memiliki bank syariah yang kuat dan berdaya jelajah tinggi akhirnya menemui titik terang dengan ditandatanganinya conditional merger agreement (CMA) pada Senin, 12 Oktober 2020. Dengan ditekennya persetujuan merger tersebut, proses merger tiga bank syariah anak perusahaan bank BUMN dimulai.

Ketiga bank syariah yang dimerger adalah PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, dan PT BRIsyariah Tbk (BRIS), yang ditargetkan dapat melahirkan bank syariah besar pada Februari 2021 bernama Bank Amanah. Kabar ini sangat menggembirakan karena pada akhirnya,Indonesia sebagai negara berpopulasi mayoritas Muslim terbesar di dunia, memiliki bank syariah yang tidak hanya masuk 10 besar bank di Tanah Air secara aset, tetapi juga masuk ke dalam kategori 10 besar bank syariah terbesar secara global.

Di tengah ketidakpastian ekonomi akibat dari efek multidimensi dari pandemic Covid-19, terobosan ini mengisyaratkan adanya komitmen serius negara untuk mendo rong ekonomi syariah menjadi penopang Indonesia untuk dapat bangkit dari tekanan krisis kesehatan dan ekonomi yang dihadapi sekarang ini.

Structural Ceiling

Selama ini, ekonomi syariah tertatih- tatih menghadapi structural ceiling diakibatkan keterba tasan dari gerakan akar rumput ekonomi syariah Indonesia. Dengan merger bank syariah BUMN ini, pangsa pasar (market share) bank syariah akan me lampaui angka 6% dan dapat mendorong keuangan syariah untuk terus tumbuh mendekati se perlima dari total market share keuangan Indonesia.

Pada forecast konservatif yang dihitung oleh tim merger, Bank Amanah diyakini dapat tumbuh sampai dengan Rp 390 triliun dari sisi aset, dengan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 355 triliun, dan pembiayaan sebesar Rp 272 triliun. Dengan kata lain, proyeksi pertumbuhan bank syariah terbesar tersebut meningkat mendekati dua kali lipat dari posisi semester I-2020 dengan total aset terkalkulasi sebesar Rp 214.74 triliun.

Hal ini dapat diartikan sebagai sebuah gambaran seberapa menjanjikannya pertumbuhan yang dapat difasilitasi oleh engine of growth ekonomi syariah Indonesia tersebut dalam mendorong investasi, pertumbuhan industri turunan, digitalisasi ekonomi, dan segala bentuk kebermanfaatan yang dapat difasilitasi oleh bank tersebut.

Keyakinan akan potensi dari bank syariah terbesar tersebut tersirat dalam pertumbuhan bank syariah di Indonesia yang tetap solid di tengah efek yang ditimbulkan Covid-19 terhadap perbankan nasional.

Di saat perbankan nasional menghadapi tekanan dan perlambatan pertumbuhan pembiayaan dan DPK, industri perbankan syariah Indonesia mampu untuk tumbuh di atas 9% secara pembiayaan dan DPK, dibanding perkembangan nasional yang mengalami te kanan dalam pertumbuhan kredit yang berada di bawah 4%, dengan pertumbuhan DPK pada kisaran 8%.

Hal ini mengisyaratkan adanya sebuah karakteristik yang kuat dalam industri perban kan dan keuangan syariah, walaupun dalam tekanan krisis yang menghantui perekonomian Indonesia.

Ke depannya, tidak menutup kemungkinan bahwa industri perbankan syariah di Indonesia dapat berbuat lebih untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan keuangan sosial yang solid dan berkualitas bermodal dukungan dari masyarakat, pelaku usaha, serta pemerintah dan otoritas terkait di Indonesia.

Hal ini menyisakan satu tekateki mengenai daya jelajah dari calon bank syariah terbesar di Indonesia tersebut. Layaknya pemain tengah dalam permainan sepak bola yang mengatur supply bola dan menjaga tempo permainan, financial intermediary institution memiliki tugas dalam menyalurkan dana dari backline, yaitu pemilik dana, hingga mencapai gawang, yaitu proyekproyek yang layak dibiayai.

Kedua fungsi tersebut, baik dalam kaitannya dengan memasok bola dan menjaga tempo, menentukan alokasi dan ketersediaan dana, serta tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Sebelum merger, bank syariah yang ada di industri perbankan syariah hanya mampu menyediakan pembiayaan-pembiayaan mikro, small, medium, hingga komersial, dengan beberapa bank syariah BUMN mendapat sedikit peran dalam pembiayaan sindikasi korporasi. Padahal, pembiayaan pun dibutuhkan oleh segmen kor porasi menengah maupun be sar dengan berbagai lini dan spesialisasi bisnis.

Layaknya pemain tengah sepak bola, industri perbankan syariah sebagai engine of growth hanyalah sekelompok pemain tengah yang mengangkut air dengan umpan-umpan pendek-menengah.

Dengan hadirnya bank jangkar syariah, ekonomi syariah akan memiliki fasilitator pembiayaan jangka panjang untuk segmen kor porasi menengah-besar yang mampu memberikan umpan lambung demi terealisasinya proyek-proyek strategis nasional, terutama yang berkaitan dengan industri-industri turunan dengan daya saing dan kontribusi signifikan.

Untuk mengoptimalisasi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia, dibutuhkan bank syariah yang dominan dan multispecialist, di mana bank tersebut dapat me nyeimbangkan kebutuhan pem biayaan sektor mikro sampai dengan korporasi.

Dengan kata lain, Indonesia membutuhkan Bank Amanah sebagai playmaker yang dapat menyinambungkan kebutuhan pembiayaan jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.

Kekhawatiran sebagian masyarakat adalah bergesernya fokus bank syariah besar yang diharapkan dari perannya sebagai financial intermediary menjadi sebuah bank korporasi serta melupakan peran yang sebelumnya sudah dimainkan hingga ke area ultra- micro seperti melalui segmen pegadaian syariah atau pembiayaan produktif sektor pertanian.

Sehingga, keberlangsungan dari sebuah visi yang jelas menjadi pen ting, untuk menjadi pemahaman mengenai tujuan apa yang ingin dicapai dari keberadaan Bank Amanah. Sejat inya, Bank Amanah terlahir dari bibit yang sangat potensial untuk dapat diramu menjadi sebuah entitas yang memiliki daya jelajah tinggi.

Bank Amanah akan mewarisi sistem kerja dan profesionalitas yang baik dari Bank Syariah Mandiri dengan kemampuan berinovasi terdepan yang dimiliki oleh BNI Syariah dan pemahaman terhadap kondisi lokal dan regional yang dimiliki BRI Syariah. Ditambah lagi, ketiga bank tersebut memiliki basis DPK yang kuat untuk menjaga likuiditas bank. Apabila diintegrasikan dengan baik, Bank Amanah akan memilik fondasi yang kuat untuk beroperasi, berekspansi, dan bersaing dengan perbankan konvensional.

Ditambah lagi, pro ses penggabungan tersebut di pimpin oleh ahli merger dari Bank Mandiri, Hery Gunardi, de ngan track record yang tidak dapat dipandang sebelah mata setelah terlibat dalam penggabung an empat bank ex-legacy Bank Mandiri maupun joint-venture Bank Mandiri dengan AXA Internasional yang melahirkan PT AXA Mandiri Financial Service. Hal ini meningkatkan potensi ke suksesan dari proses merger tersebut untuk melahirkan bank kuat dengan daya jelajah tinggi.

Daya Saing Keuangan

Tantangan terbesar dalam proses merger entitas anak dari bank BUMN tersebut adalah dalam membangun kultur yang dapat menerjemahkan dan menyelaraskan visi yang ingin dicapai, mengingat masing-masing bank sudah mengembangkan kultur kerja masing-masing yang berkaitan dengan visi yang ingin dicapai.

Hal ini dirasakan penting untuk dipersiapkan dengan baik mengingat ketidaklancaran proses pelebur an visi dan kultur akan melahirkan persaingan di antara ex-legacy dari bank asal yang me nimbulkan kubu-kubu tersendiri di tubuh institusi baru tersebut.

Sebagai contoh, proses peleburan ini menjadikan PT BRI Syariah sebagai surviving entity, walaupun secara aset, Bank Syariah Mandiri lebih besar. Hal ini berpotensi menimbulkan superiority-inferio rity complex di tubuh organisasi yang akan menimbulkan masalah berkepanjangan apabila tidak da pat dicari solusinya.

Terlebih lagi, komitmen Kementerian

BUMN sebagai pemegang kendali dalam proses merger ini untuk tidak merumahkan pekerja menjadi tantangan tersendiri, me ngingat akan adanya redundancy di tubuh organisasi baru tersebut.

Seorang yang memiliki jabatan senior di bank lama mungkin akan ter-downgrade di entitas baru yang dapat menimbulkan ketidakpuasan dan kecemburuan di internal bank.

Sehingga, diperlukan kebijakan yang arif dan berbasis kompetensi dalam menilai penataan organisasi agar tidak terkesan ada kecenderungan untuk mengistimewakan pekerja dari satu institusi. Secara garis besar, proses mer ger bank syariah terafiliasi BUMN ini akan memberikan satu dorongan tersendiri untuk daya saing keuangan syariah yang memungkinkan adanya investasi di bidang teknologi untuk dapat meningkatkan penetrasi dan competitive advantage di era digital sekarang ini.

Hanya saja, dibutuhkan komitmen lebih untuk terus menjaga roh syari'ah dalam perbankan syariah dan dukungan ke sektor riil sebagai bagian dari aktualisasi dari prinsip keadilan sosial dalam kesetaraan dan solidaritas ekonomi.

Hal demikian menjadi penting di tengah proses recovery dari efek langsung pandemi Covid-19 yang menyasar hingga ke akar rumput. Selain itu, tugas besar tertumpu kepada tim merger dalam memastikan kemulusan proses integrasi untuk dapat memastikan bahwa program merger ini dapat menjaga pertumbuhan melalui pembiayaan proyek strategis dan investasi, seperti di industri halal dan turunannya.

Pada akhirnya, hasil dari penggabungan bank syariah BUMN ini akan mendongkrak pangsa pa sar yang penting untuk memastikan adanya konsolidasi sektor keuangan agar lebih efisien dan kompetitif untuk menggali potensi baru perekonomian.

Untuk jangka panjang, value yang diciptakan akan jauh lebih tinggi dari harga pasar sekarang, yang akan menguntungkan value investor.

*) Kepala Kluster Ekonomi Digital Islam, Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah, UI, dan Dosen Program Studi Ekonomi Islam, UI.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN