Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauziah Rizki Yanuarti

Fauziah Rizki Yanuarti

Merger Bank Syariah: Proses Lamban Penuh Harapan

Senin, 10 Agustus 2020 | 09:02 WIB
Fauziah Rizki Yuniarti *)

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan rencana merger 4 entitas keuangan syariah afiliasi BUMN, yang terdiri atas 3 Bank Umum Syariah/BUS (Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah), dan 1 Unit Usaha Syariah/UUS (BTN Syariah) yang akan terjadi Februari 2021.

Rencana ini bukanlah hal baru, bahkan progresnya terbilang sangat lamban karena hal serupa su dah pernah terucap se tidaknya lima tahun lalu, pada tahun 2015, oleh Ketua OJK saat itu, Muliaman D. Hadad. Salah tujuan utama dari merger ini pastilah peningkatan efisiensi kinerja bank syariah sehingga mampu bersaing dengan bank konvensional, yang akhirnya mampu meningkatkan pangsa pasar (market share) bank syariah.

Setelah hampir tiga decade dari berdirinya bank syariah per tama , Bank Muamalat (tahun 1991), industri perbankan syariah terjebak di pangsa pasar 5%. Tingginya biaya untuk implementasi infrastruktur IT dianggap menja di salah satu penyebab utama in dustri perbankan syariah tidak bisa bersaing dengan bank konvensional.

Penyebab lain di antaranya adalah kecilnya modal inti sehingga kurang kemampuan berinovasi yang memakan dana besar, mahalnya biaya dana (cost of fund) karena terbatasnya sumber pendanaan yang memenuhi kriteria syariah (shariah compliance), dan kurangnya kemitraan antara bank syariah dengan industri sektor riil.

Selain itu, kurangnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang sesuai dalam bidang bank syariah, dan rendahnya literasi keuangan syariah (hanya 8% di tahun 2016 menurut OJK).

Hasil dari merger bank-bank syariah menjadi satu BUMN Sya riah yang besar diharapkan dapat membantu menjadi solusi atas lambannya perkembangan industri perbankan syariah. Ada setidaknya tiga harapan utama dari hasil merger ini.

Pertama, semakin mendekati salah satu tujuan utama ekonomi syariah (maqasid shariah), yaitu ke adilan. BUMN Syariah nanti di harapkan bisa lebih fokus untuk meningkatkan inklusi keuangan dan porsi pembiayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Dengan modal inti bank yang besar setelah merger, sehingga dapat lebih fokus untuk menciptakan keadilan ekonomi dan meningkatkan inklusi keuangan, salah satunya dengan fokus lebih banyak ke pasar UMKM.

Kedua, perubahan porsi pembiayaan bank syariah. Saat ini, tak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia, porsi pembiayaan bank sya riah rata-rata lebih dari 60%, bahkan bisa sampai 90%, adalah produk murabahah (pembiayaan dengan berdasarkan jual beli), sisa nya barulah produk musharakah/ mudharabah (pembiayaan dengan ekuitas).

Mengapa bank syariah memilih lebih banyak untuk menawarkan produk murabahah? Karena low risk, high return (risiko rendah, pengembalian tinggi). Murabahah adalah produk debt-based, sehingga risiko yang ada di pro duk itu kurang lebih sama se perti produk kredit di bank sya riah, dalam hal risiko kredit, ji ka gagal bayar.

Sedangkan jika bank syariah memakai produk mudharabah/ musharakah (equitybased), maka bank harus menerima karakteristik pembiayaan dengan high risk, low return, dan high cost (risiko tinggi, pengembalian rendah, dan biaya tinggi), se suatu yang memang jelas ku rang menarik, atau tidak semena rik produk murabahah.

Lalu mengapa bank syariah diharapkan mampu memperbesar porsi pembiayaan mudharabah/ musharakah? Bukannya produk murabahah tidak baik, tapi karena murabahah adalah produk debt-based, maka multiplier effect yang diciptakan dari penggunaan produk murabahah tidak sebanyak dibanding produk mudharabah/musharakah yang merupakan equity-based/participatory financing. Mudharabah/musharakah menciptakan kerja sama modal (uang) dan usaha dari kedua pihak (bank dan peminjam uang). Kontribusi usaha inilah yang mampu menciptakan lapangan-lapangan kerja, sehingga dalam jangka panjang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, meningkatkan competitiveness dengan konvensional sehingga meningkatkan market share. Hal ini dapat dilakukan dengan tingginya aset dan ekuitas hasil dari penggabungan ini. Dalam hal aset, per Maret 2020, hasil penggabungan empat entitas keuangan syariah ini akan menghasilkan aset sebesar Rp 236 triliun (BSM Rp 114 trilyun,

BNI Syariah Rp 51 triliun, BRI Syariah Rp 42 triliun, dan BTN UUS Rp 28 triliun) atau mencakup 45% dari total aset industri perbankan syariah (BUS dan UUS). Dengan posisi aset tersebut, maka BUMN Syariah akan menempati pering kat ke-7 sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia, berurutan di bawah BRI, Bank Mandiri, BCA, BNI, BTN dan Bank CIMB Niaga.

Hal ini penting karena terkait PP 23/2020 tentang Pelaksanaan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam Rangka Mendukung Kebijakan Keuangan Negara untuk Penanganan Pandemi Covid-19 di mana peraturan itu menyebutkan bahwa 15 bank dengan aset terbesar akan menjadi bank penyangga likuiditas. Dalam hal ekuitas, per Maret 2020, modal (ekuitas) dari penggabungan empat entitas ini akan menghasilkan Rp 24 triliun (BSM Rp 9,6 triliun, BRI Syariah Rp 5,1 triliun, BNI Syariah Rp 5,1 triliun, dan BTN UUS Rp 4,3 triliun). BUMN Syariah baru ini masih membutuhkan tambahan modal sekitar Rp 6 triliun untuk menjadi Bank Buku IV (modal inti lebih dari Rp 30 triliun).

Saat ini, bank Buku IV adalah BRI, Bank Mandiri, BCA, BNI, CIMB, dan Bank Danamon. Sedangkan posisi bank syariah tertinggi adalah di bank Buku III (modal inti Rp 5-30 triliun), yaitu BSM dan BNI Syariah.

Dari mana tambahan modal Rp 6 triliun ini bisa didapat, itu menjadi penting untuk diperhatikan. Apakah dari pemerintah? Dari bank induk sebelum penggabungan? Atau dari publik? Hal ini penting untuk dipikirkan.

Menjadi Bank Buku IV penting karena setidaknya akan membuka kesempatan layanan keuangan digital/LKD (online wallets), seperti Gopay, Dana, Ovo, dll untuk masuk ke dompet online syariah. Di masa pandemi ini, digitalisasi ekonomi menjadi tulang punggung.

Semua lini bisnis harus merambah menjadi digitalisasi jika ingin bertahan hidup sehingga pangsa pasar LKD sangatlah besar dan terus berkembang. Jika LKD tersebut bisa merambah ke pasar syariah dengan menggunakan bank syariah dalam penempatan dana mengendap (floating fund), maka market share perbankan syariah bisa terbantu untuk bertambah. Sesuai dengan PBI No 20/6/PBI.2018 tentang Uang Elektronik, floating fund tersebut harus ditempatkan di bank Buku IV.

Saat ini, hanya ada LinkAja Syariah, rilis November 2019, sebagai satu-satunya uang elektronik syariah. Hal ini cukup mengagetkan karena LinkAja Syariah diizinkan beroperasi dengan alasan penempatan dana boleh di bank syariah berafiliasi dengan bank Buku IV. Jika hal itu memungkinkan, berarti  seharusnya uang elektronik lainnya boleh melakukan hal serupa.

Apakah mungkin? Apa kah karena LinkAja Syariah beraf i l iasi dengan BUMN sehingga ada pengecualian? Hal seperti ini yang harus dilluruskan sehingga ada kejelasan untuk pemain LKD lain untuk masuk ke pasar Syariah. Penggabungan empat bank syariah ini juga tidak akan menjadi proses yang kanibal karena masing- masing bank memiliki kelebihan masing-masing di segmen pasar yang berbeda. Berdasarkan laporan keuangan 2019, BSM kuat di sektor jasa usaha, konstruksi, transpor t dan komunikasi, pertanian, dan dana haji; BNI

Syariah unggul di sektor perdagangan, restoran dan hotel, sosial/ masyarakat, industri, energy (listrik, gas, dan a ir); BRI Syariah kuat di sektor ritel (UMKM), dan BTN Syariah (UUS) kuat di sektor rumah tinggal.

Proses merger ini memang bu kan hal mudah. Namun untuk kebaikan masa depan industri perbankan syariah Indonesia, proses ini harus dilakukan.

*) Kepala Centre of Islamic Banking, Economics, and Finance (Cibef), Indef. Dosen Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB UI)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN