Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bambang Rianto Rustam, Doktor Ekonomi dan Keuangan Syariah Universitas Trisakti. Foto: IST

Bambang Rianto Rustam, Doktor Ekonomi dan Keuangan Syariah Universitas Trisakti. Foto: IST

Milestone Strategis Perbankan Syariah 2020

Selasa, 9 Juni 2020 | 23:56 WIB
Bambang Rianto Rustam *)

Tahun 2020 merupakan tahun yang strategis dan kritis dalam pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Mengapa? Kala wabah virus corona (Covid-19) belum tuntas tertangani dan dipastikan akan memengaruhi kinerja industri perbankan syariah, banyak yang belum menyadari bahwa terdapat beberapa keputusan strategis yang harus dibuat dan diputuskan oleh pelaku industry perbankan syariah tahun ini.

Ada tuntutan strategis pengembangan syariah yang harus segera dikaji ulang. Bila perbankan syariah gagal mengantisipasi isu Covid-19, tentu saja risiko operasional akan terjadi, utamanya pada kontribusi sumber daya insani sebagai contributor penting kinerja perbankan syariah.

Padahal terdapat isu lain yang lebih strategis dan kritis yang harus dipersiapkan sedari tahun 2020. Bila terlambat dikhawatirkan perbankan syariah akan kehilangan momentum strategis dalam pengembangan industrinya.

Profil Perbankan Syariah

Perbankan syariah telah dikembangkan di Indonesia lebih dari dua dekade. Statistik terkini yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhir Februari 2020 menunjukkan beberapa fakta penting yang perlu dicermati.

Pertama, terdapat dua pemain besar dan memberikan kontribusi pada industri perbankan syariah di Indonesia, yaitu Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).

Kedua, kinerja dua kontributor pertumbuhan aset industri perbankan syariah Indonesia ini menunjukkan pertumbuhan yang berbeda. Selama empat tahun terakhir, 2016-2019, 14 BUS di Indonesia mencatat pertumbuhan rata-rata 11%.

Pertumbuhan ini relatif stabil pada tiga tahun terakhir. Kinerja yang relatif stabil ini didukung oleh 49.654 sumber daya insani plus bonus di beberapa tahun terakhir, yaitu seiring dengan selesainya konversi yang dilakukan Bank Aceh Syariah dan Bank NTB Syariah.

Bagaimana dengan pertumbuhan UUS? Saat ini terdapat 20 Bank Umum Konvensional (BUK) yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) yang didukung oleh 5.185 sumber daya insani. Ke-20 BUK itu terdiri atas 7 bank swasta nasional dan 13 BUK dari bank daerah.

Selama empat tahun terakhir perbankan syariah telah mencatat angka pertumbuhan rata-rata yang sebenarnya lebih tinggi ketimbang BUS, yaitu 20%. Namun setahun terakhir pertumbuhan UUS menunjukkan angka yang sangat menyedihkan, yaitu hanya tumbuh 9%.

Banyak faktor strategis dan kritis yang harus dikaji oleh para pengambil kebijakan, mengapa setahun terakhir pertumbuhan UUS tidak terlalu mengesankan. Pertumbuhan setahun terakhir ini memberikan gambaran nyata bahwa seluruh bank syariah agar senantiasa berkinerja sesuai dengan dorongan pasar.

Satu hal yang patut dicatat dan masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri perbankan syariah adalah bahwa sampai dengan hari ini market share bank syariah di Indonesia belum sampai 10%. Padahal Negara jiran seperti Malaysia, market share bank syariahnya mencapai 27%.

Milestone Strategis

Undang-undang Perbankan Syariah menyatakan dalam hal Bank Umum Konvensional memiliki UUS yang nilai asetnya telah mencapai paling sedikit 50% dari total nilai aset bank induknya atau lima belas tahun sejak tahun 2008, maka BUK dimaksud wajib melakukan pemisahan UUS menjadi Bank Umum Syariah.

Bagaimana progres perbankan syariah sampai dengan hari ini? Berdasarkan pengamatan penulis, belum ada UUS yang memiliki aset mencapat 50% dari total nilai aset bank induknya. Yang paling kritikal adalah amanah UU Perbankan Syariah yang menyatakan bahwa 20 UUS sebagaimana diuraikan di atas paling lambat tahun 2023 atau tiga tahun dari sekarang seluruh UUS harus melakukan pemisahan.

Terdapat dua pilihan pemisahan, yaitu spin off, dan konversi menjadi perbankan syariah. Pilihan spin off telah dipilih oleh beberapa BUS terdahulu, yaitu BJB Syariah, dan BNI Syariah. Sedangkan pilihan konversi dilaksanakan oleh Bank Aceh Syariah dan Bank NTB Syariah.

Lalu, bagaimanakah persiapan 20 UUS sebagaimana yang diamanahkan UU untuk melakukan pemisahan? Sampai hari ini yang sudah memastikan langkah pemisahan yaitu UUS Bank Nagari dan UUS Bank Riau Kepri, yang telah memutuskan pemisahan melalui konversi menjadi bank syariah. UUS lainnya belum memiliki progress yang berarti.

Pilihan melakukan spin of f maupun konversi ini menurut penulis merupakan milestone strategis bagi industri perbankan syariah masa depan. OJK harus mengawasinya secara sistematis.

Ke-20 UUS tersebut harus membuat keputusan tahun ini. Penulis memproyeksikan 10 UUS akan memilih langkah spin off dan 10 UUS lainnya memilih konversi. Apapun pilihan yang dipilih oleh 20 UUS itu, persiapan matang mesti sudah dimulai tahun 2020. Karena proses implementasi keputusan pemisahan, baik konversi ataupun spin off, dari pengalaman menunjukkan akan membutuhkan waktu minimal 2-3 tahun.

Jika terlambat, seluruh bank ini akan kehilangan momentum dalam mempersiapkan bisnis secara lebih matang. Pertimbangan keputusan pemegang saham, kesiapan teknologi iformasi (TI) dan kesiapan sumber daya insani akan menjadi pertimbangan utama 20 UUS dalam mengambil keputusan yang strategis di tahun 2020. Selamat memilih.

*) Doktor Ekonomi dan Keuangan Syariah Universitas Trisakti

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN