Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hamdi Hassyarbaini,

Hamdi Hassyarbaini,

Musim Obral, Saatnya Belanja Saham

Sabtu, 8 Februari 2020 | 11:16 WIB
Hamdi Hassyarbaini *)

“Be fearful when others are greedy. Be greedy when others are fearful.” --Warren Buffett

Ungkapan tersebut di atas rasanya sangat relevan dengan kondisi pasar modal dunia saat ini yang terus menerus mengalami kejatuhan sehingga membuat panic banyak investor. Bursa saham Indonesia sendiri saat ini juga sedang memberikan diskon besar-besaran, harga saham makin hari kian murah. Namun berbeda dengan obral yang ada di mall atau pasar konvensional, tidak terlihat antrean orang-orang yang ingin membeli saham yang sedang diobral tersebut.

Sebaliknya, sebagian besar orang khususnya investor saham dilanda ketakutan melihat diskon besar-besaran yang sedang berlangsung di pasar modal Indonesia.

Bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi seperti saat ini yang tidak diketahui kapan berakhirnya? Mengutip Warren Buffett, kita seharusnya justru bersikap tamak saat orang lain ketakutan karena harga saham-saham berjatuhan alias sedang diskon besar-besaran dengan melakukan pembelian, dengan harapan memperoleh keuntungan pada saat harganya naik.

Pasar saham adalah pasar yang dinamis. Tidak ada pasar saham di dunia manapun yang selamanya naik dan sebaliknya tidak ada pasar saham yang selamanya turun. Suatu saat pasti ada saatnya berbalik arah atau rebound. Itulah kenapa ungkapan Warren Buffett itu menjadi relevan. Namun tentu saja kita tidak boleh gegabah dalam membeli saham, khususnya dalam kondisi seperti saat ini.

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih saham. Pertama, pilih saham yang Anda pahami kondisi dan prospek bisnisnya. Membeli saham pada dasarnya sama dengan membeli atau membangun bisnis baru.

Kalau Anda ingin memulai suatu bisnis baru, pertanyaan pertama Anda kira-kira bisnis apa yang punya prospek bagus sehingga bisa bertahan sepanjang masa. Anda pasti tidak akan memilih bisnis yang bersifat musiman dan tidak bertahan lama.

Pertanyaan yang sama bisa digunakan dalam memilih saham yang akan Anda beli. Perusahaan apa yang produknya digunakan oleh hampir seluruh penduduk Indonesia sepanjang hidupnya?

Perusahaan apa yang produknya digunakan oleh hampir seluruh penduduk Indonesia, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi? Perusahaan apa yang setiap kantornya dipadati oleh orang-orang yang mengantri sepanjang hari? Saya rasa Anda bisa menebak-nebak perusahaan apa yang saya maksud. Pertanyaan yang sama bisa Anda ajukan untuk perusahaan yang lain.

Kedua, pilih saham yang kondisi fundamentalnya bagus. Fundamental perusahaan tercermin pada laproan keuangan yang mereka terbitkan. Hal yang paling sederhana untuk dilihat adalah bagaimana perkembangan aktiva dan laba perusahaan dalam beberapa tahun terakhir, apakah trennya menaik atau menurun.

Kalau trennya menaik berarti secara fundamental perusahaan tersebut bagus. Anda juga bisa melakukan analisis dengan menggunakan rasio-rasio yang lazim digunakan seperti price to book value (PBV), price earning ratio (PER), return on investment (ROI), debt to equity ratio (DER), dan lainlain, dan perhatikan juga trennya. Dari analisis sederhana ini Anda akan bisa menentukan apakah saham perusahaan itu layak dibeli atau tidak.

Ketiga, pilih saham yang Anda tahu manajemen perusahaannya. Ibarat hendak naik kapal, Anda tentu saja perlu mengetahui siapa nakhodanya karena kepadanya Anda akan mempertaruhkan nyawa Anda. Demikian pula halnya dengan membeli saham.

Dalam membeli saham, Anda berharap perusahaan yang sahamnya Anda beli dikelola dengan baik sehingga bisa memberi keuntungan kepada Anda baik berupa kenaikan harga saham dan atau pembagian keuntungan berupa dividen. Hal ini sepenuhnya tergantung pada kepiawaian manajemen dalam mengelola perusahaan yang sahamnya Anda beli.

Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui bagaimana rekam jejak manajemen perusahaan khususnya dari aspek profesionalitas dan integritas. Untuk mengetahui hal itu tidaklah sulit, Anda bisa minta bantuan Mbah Google. Melalui Google Anda bisa tahu bagaimana rekam jejak manajemen perusahaan selama ini. Adakah selama ini terdapat catatan prestasi dari setiap anggota manajemen perusahaan atau sebaliknya adakah catatan negatif tentang mereka.

Berbekal informasi tersebut, tentunya Anda bisa memutuskan apakah akan membeli saham perusahaan tersebut atau tidak.

Keempat, pilih saham yang harganya murah. Orang sering keliru dalam menilai mahal murahnya suatu saham. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa saham murah adalah saham yang harga dalam rupiahnya rendah, misalnya Rp 50 atau Rp 100, sebaliknya menganggap saham yang berharga Rp 50.000 adalah saham mahal.

Secara umum ada dua parameter yang biasanya digunakan untuk menilai mahal murahnya suatu saham, yaitu rasio harga saham terhadap nilai buku per saham perusahaan atau PBV dan rasio harga saham dengan laba per saham atau PER.

Nilai buku adalah nilai yang akan diterima pemegang saham untuk setiap saham yang dimilikinya dalam hal perusahaan dilikuidasi, tentunya setelah membayar seluruh kewajiban kepada pihak ketiga. Semakin kecil PBV artinya harga saham saat ini lebih kecil dibandingkan nilai likuidasi. Dengan kata lain harga saham itu tergolong murah, sehingga layak untuk dibeli beli.

Misalnya, ada saham berharga Rp 50.000 (sekilas terlihat mahal), tapi nilai buku perusahaan adalah Rp 75.000 per saham, maka PBV hanya 0,67X, artinya murah. Sebaliknya. Ada saham yang berharga Rp 50, tapi nilai buku perusahaan tersebut hanya Rp 10 per saham, maka harga saham itu tergolong mahal karena harga saat ini 5X nilai likuidasinya.

Sementara terkait PER, biasanya orang akan melihat perbandingan PER perusahaan yang sahamnya dibeli dengan PER rata-rata industrinya. Jika PER saham yang akan Anda beli jauh di atas PER rata-rata industrinya, artinya harganya tergolong mahal. Walaupun harga saham yang menjadi target Anda sedang terdiskon banyak, namun untuk melakukan pembelian Anda harus memilih saat yang tepat.

Untuk menentukan saat yang tepat, mau tidak mau Anda harus melakukan technical analysis sederhana dengan melihat grafik pergerakan harga saham tersebut. Anda bisa jadi menganggap harga suatu saham sudah terlalu murah karena terus menerus turun beberapa hari terakhir. Tapi siapa yang bisa menjamin kalau besok harga saham tersebut tidak turun lagi?

Anda sebaiknya melakukan pembelian saat gerakan harga pada grafik sudah berbalik ke atas (rebound) yang ditandai dengan bar yang berwarna hijau atau di pasar sering disebut dengan istilah mantul. Anda bisa saja membeli dengan mencicil setiap terjadi penurunan harga, dengan harapan akan memperoleh harga beli rata-rata yang lebih rendah atau average down, tapi Anda tidak pernah tahu kapan penurunan akan berhenti. Kalau itu yang Anda lakukan, itu sama saja dengan berusaha menangkap pisau jatuh, bisa-bisa telapak tangan Anda bolong karena tertusuk pisau. Don’t try to catch a falling knife, nasihat para pakar investasi.

*) Penulis Adalah Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Periode 2015-2018

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN