Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta

Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta

Nilai Waktu dari Uang

Sabtu, 12 Desember 2020 | 16:20 WIB
Said Kelana Asnawi *)

Nilai waktu dari uang (time value of money) adalah topik kondang dalam manajemen keuangan dan mendapat perhatian khusus pada banyak penerapannya. Konsep ini menunjukkan uang yang sama, di waktu yang berbeda, akan memiliki arti/makna/nilai yang berbeda. Perbedaan nilai inilah dikenal sebagai faktor pendiskon/penyesuai/pengurang/risiko, yang dalam teks disebut sebagai discount facto.

Mari ikuti beberapa ilustrasi berikut. Pertama, misalkan saja A memiliki uang saat ini Rp 1 juta dan sepuluh tahun kemudian A juga memiliki uang sebesar Rp 1 juta lagi. Jika tidak ada penyesuai, maka nilainya persis sama. Dalam hal ini, missal Rp 1 juta dapat membeli sebuah motor, maka dengan uang yang sama, 10 tahun lagi dapat membeli sebuah motor.

Untuk hal ini A tentu saja berbahagia. Seandainya A pendapatannya naik, maka nilai kesejahteraannya akan naik. Per tanyaannya adalah: A menginginkan pendapatannya naik, dari mana diperoleh? Gaji/ laba yang naik, dan itu didapat dari sistem produksi yang meningkat, dapat dari naiknya jumlah produksi dan atau harga. Jika semua orang seper ti A, akankah tidak ada penyesuai? Tidak mungkin! Karena itulah tingkat diskonto hadir. Kedua, misalkan B memiliki uang Rp 1 juta, lalu memiliki berbagai alternatif terhadap uang tersebut. Jika ditabung, missal B hanya mendapatkan jaminan aman.

Lalu ada pihak yang ingin memanfaatkan uang B, atau B ingin berusaha sendiri, atau berinvestasi. Akankah B tidak memperoleh imbalan? Tidak mungkin, karena dalam hal ini B menanggung risiko. Karena itu kepada berbagai pihak yang berbeda, B menerapkan penyesuai yang berbeda. Dalam istilah teknisnya dikenal sebagai premi risiko (risk premium).

Ketiga, misal C mempertimbangkan berbagai instrument investasi mulai dari yang diterbitkan pemerintah (risk-free rate), surat utang, setor modal (saham), dan atau derivative? Akankah ‘harapan’ imbal hasilnya sama? Tidak mungkin, karena jika harapannya sama, mengapa asetnya berbeda risikonya?

Ketiga ilustrasi di atas menunjukkan bahwa memang uang berbeda nilainya di waktu yang ber beda. Secara akuntansi jika Rp 1.000; lalu tahun depan men dapatkan 5%, maka uang menjadi Rp 1.050 atau bertambah Rp 50. Namun secara ekonomis/ keuangan, nilai Rp 50 tersebut harus disesuaikan dengan tingkat diskonto. Tingkat diskonto ini dapat saja faktor yang dianggap mencerminkan risiko yang mengikuti uang tersebut dan atau secara sederhana dapat juga laju inflasi. Jika saat ini sebotol aqua bernilai Rp 3.500 dan tahun depan menjadi Rp 3.850; itu bermakna uang Rp 3.500 setara dengan 3.850; atau faktor penyesuainya 10%.

Pada saat pebisnis membuat rencana anggaran, maka secara teoritis, pebisnis tersebut membuat beberapa penyesuai, di antaranya harga jual, serta juga biaya operasional.

Untuk hal ini pebisnis berharap tingkat labanya juga mengalami kenaikan. Jika digeneralisasi, maka semua meletakkan optimismenya (dalam rencana) dan menimbulkan kenaikan. Kenaikan ini menyebabkan nilai uang tidak sama, lebih tepatnya lagi nilai uang menurun (untuk waktu yang lebih jauh).

Bagaimana jika kita tidak setuju dengan pendiskon (positif) dan menganggap itu sebagai ‘memastikan’ masa depan seolah ‘maju terus’? Secara konsep, jika dibalik, pendiskonnya menjadi negatif, maka nilai ke depan kita akan semakin besar, tanpa kita melakukan apa-apa. Jika ini terjadi, justru, berhenti semua sistem produksi, karena tanpa melakukan apa-apa, kita memiliki segalanya. Karena itulah hal ini tidak mungkin terjadi.

Secara fakta produksi, ada barang yang semakin berkualitas (karena penemuan teknologi), sehingga harganya mengalami penurunan. Untuk hal itu, pasar menyiasatinya dengan membuat produksnya menjadi ‘lebih bagus’ sehingga harganya dapat disesuaikan.

Hal ini bisa dilihat dari media penyimpan ‘flashdisk’ yang kapasitasnya diperbesar untuk mendapatkan harga yang bagus.

Dalam praktiknya ada tiga faktoryang dipertimbangkan untuk time value of money. Pertama adalah arus kas yang dimiliki/estimasi; faktor pendiskon yang dipakaiserta lama waktu dipakai. Estimasi arus kas adalah hal yang pa ling esensial. Covid-19, misal memporakporandakan estimasi arus kas. Faktor pendiskon, me rujuk pada kadar risiko/biaya yang dirasa oleh investor, merupakan bauran biaya ‘moneter’, opportunity cost, laju inflasi serta harapan laba/risiko dirasakan. Faktor ini dapat disimulasikan dengan mengubah-ubah baurannya.

Faktor lama waktu yang dipakai merujuk pada umur proyek. Jika satu proyek tidak menguntungkan, kemungkian sumbernya dari estimasi arus kas, bukan dari faktor pendiskonto. Dengan demikian konsep pendiskonto; time value of money, bukanlah memvo nisbisnis, melainkan hanya untuk menyesuaikan, sehingga tampak selaras.

Secara umum, jika tidak dila kukan penyesuai, maka angka akan bias, dan kesimpulan menyesatkan. Seseorang uangnya meningkat, namun daya belinya menurun. Perusahaan tidak dapat menaikkan penerimaan, sehingga bangkrut.

Tidak ada inflasi, tidak ada gairah kenaikan produksi. Karena itu sekali lagi, pandangan berubah positif ke depan, sebagai bagian penting, untuk me ma s tikan sistem produksi berjalan, walaupun itu akan mendiskon nilai kekayaan kita. Karenanya satu-satu jalan agar kekayaan kita tidak terdiskon, maka arus kas kita harus terus meningkat!

Nilai Uang dari Waktu

Frase yang sering juga didengar yakni waktu adalah uang (time is money), atau nilai uang dari waktu (money value of time). Konsep ini merujuk betapa berharganya waktu, dan lebih sering didengar dalam konteks ‘ketaatan’ dan atau ‘produktivitas. Kalau dipadankan dengan hal di atas, maka konsep ini menunjukkan akumulatif, bahwa setiap waktu adalah bernilai. Namun tidak disebutkan apakah setiap waktu itu bernilai sama/ berbeda naik/turun. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa time value of money adalah hanya bagian dari time is money, bernilai turun.

Konsep ini merujuk: jangan sia-siakan waktu! Untuk hal itu, kita wajib mengisi dengan halhal produktif dan mengakumulasikannya. Untuk perusahaan, berusaha menjaga reputasi, berinovasi, memelihara keunggulan dan tetap awas terhadap pesaing. Walau demikian, ada saja perusahaan yang bangkrut walau telah melakukan konsep time value of money. Hal ini, berarti apa yang telah dilakukan tidak memadai untuk menghadapi kondisi eksternal dan atau pesaing telah melakukan lebih baik.

Dengan padanan tiga hal tadi: berarti pesaing melakukan hal yang lebih berarti; dan atau kita tidak melakukan hal yang signifikan (pengganti untuk arus kas); tidak bersemangat untuk berubah (faktor pendiskon) dan kita terlambat menyesuaikan (jangka waktu).

Konsep time value of money ini secara masif dipakai dalam bisnis kredit/leasing dan atau perencanaan keuangan. Pada bisnis kredit, maka akan timbul beban bunga, di mana beban bunga di awal lebih besar, walau cicilan kita tetap sama. Perencanaan keuangan, mencari kesepadanan antara harapan (keuangan) Anda di masa depan dengan apa yang harus disiapkan. Konsep time is money digaung-gaungkan oleh motivator dan juga oleh diri kita. Kedua konsep ini sebenarnya secara ‘intuitif’ telah melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, mungkin kita hanya perlu meningkatkan ‘kesadarannya’. Jawablah pertanyaan berikut: (i) berapa lama lagi kita hidup? (ii) apa saja yang masih dapat dilakukan; (iii) seberapa sehatkah kita?; (iv) masih adakah kewajiban yang esensial? Nah, jawaban itu akan selaras dengan konsep pendiskonto dan nilai waktu. Pameo: Sebotol air di gurun lebih bernilai disbanding di tepi telaga, patut juga untuk disepadankan dengan faktor pendiskonto (tepi telaga) dan nilai waktu (di gurun). Semua perlu disesuaikan secara sesuai, dan setiap waktu ada nilainya jika diisi yang bernilai!

*) Pengajar di Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN