Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan
Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Penyelamat Industri

Rabu, 21 April 2021 | 09:38 WIB
Fauzi Aziz *)

Jika judul tersebut kita jadikan sebuah pertanyaan, maka sejak pandemi Covid-19 yang memicu perekonomian global dan nasional lesu, apakah sektor industri terkena dampak berat pada level sektor dan/atau di tingkat perusahaan?.

Kalau dilihat data BPS tahun 2020, sektor industri pengolahan terkena pukulan berat karena pertumbuhannya menjadi negatif (-2,93%). Namun, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut dikatakan bahwa 63,66% produk domestic bruto (PDB) tahun 2020 berasal dari industri, pertanian, perdagang an, konstruksi, dan pertambang an.

Jika PDB tahun 2020 sebesar Rp 14.978,7 triliun, berarti total sumbangan sektor tersebut adalah Rp 9.535,4 triliun. Jika industri pengolahan nonmigas menyumbang 20%, berarti industri nonmigas berkontribusi Rp 1.907,1 triliun pa da tahun 2020.

Pengaruh eksternal yaitu pandemic Covid-19, dan tekanan berat dalam pertumbuhan permintaan agregat, telah mempengaruhi kinerja produksi. Situasi sekarang, secara makro jelas bahwa industri menghadapi tekanan berat untuk tumbuh, dan dampaknya secara relatif terhadap kinerja at company level pasti terjadi.

Contoh, produksi mobil -46,37%, penjualan pada tingkat wholesale -48,38%. Apa ada tindakan penyelamatan yang dilakukan? Ada, yaitu pembebasan PPnBM untuk kendaraan roda empat kategori 1.500-2.500cc. Kemudian, produksi sepeda motor minus 40,21%, penjualan minus 43,57%, tetapi tidak ada bantuan untuk perusahaan sepeda motor, pembebasan PPN misalnya? Perusahaan sepeda motor mungkin dianggap kondisinya baik-baik saja.

Di luar itu sebenarnya ada program restrukturisasi utang yang diberikan kepada perusahaan in dustri dan nonindustri, tapi sa yang nya tidak ada data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena mungkin dilaksanakan secara B to B antara kreditur dan debitur. Khusus untuk UMKM melalui skema statutory guarantee on liabilities and other obligation, mereka menikmati credit support fund yang risikonya dijamin pemerintah.

Begitu pula BUMN telah mendapatkan suntikan dana PMN, dana talangan, dan pencairan utang pemerintah yang di berikan kepada Pertamina, PLN, Pupuk Indonesia, KAI, Bulog, dan Kimia Farma. Dana talangan diberikan kepada Garuda, KAI, Perumnas, Krakatau Steel, dan Perkebunan Nusantara. Yang menerima PMN adalah Hutama Karya, PT PNM, BPUI, dan ITDC. Berapa jumlahnya dan realisasinya seperti apa, tentu kita harapkan semua telah menerima dananya sesuai yang pemerintah putuskan.

Itulah kira-kira tindakan penyelamatan ekonomi dan industri oleh pemerintah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Pandemi Covid-19 dan per ekonomian yang lesu sudah berjalan setahun. Apakah tindakan penyelamatan sudah cukup? Pasti belum cukup. Buktinya sekarang muncul problem kesulitan cash flow pada sejumlah BUMN Karya yang perlu “diselamatkan”. Pemerintah hampir pasti akan membantu mereka agar tidak bangkrut. Salah satu skema yang telah menjadi aksi korporasi adalah jual aset (jalan tol) yang dimiliki Waskita Karya.

Ada yang ditawarkan ke Lembaga Pengelola Investasi (LPI), dan mungkin ada yang ditawarkan melalui strategic sale kepada mitra bisnisnya, atau boleh jadi ada yang melalui IPO. Di pemberitaan ada rencana bahwa pemerintah akan membantu badan usaha atas sebagian beban utang mereka untuk dihapuskan, utamanya pinjaman pada bank-bank Himbara milik pemerintah. Penghapusan utang ini bisa saja utang BUMN atau badan usaha swasta.

Penyelamatan Ekonomi

Penyelamatan industri adalah penyelamatan ekonomi. Begitu juga pemulihan ekonomi pada dasarnya adalah penyelamatan industri agar bisa tumbuh dan roda bisnis kembali berputar serta meraih laba yang maksimal agar bisa belanja bahan baku, bayar upah buruh dan THR, membayar iuran BPJS ketenagakerjaan, mampu membayar pajak yang terutang, dan yang pasti harus bisa melunasi utangnya.

Sebab itu diperlukan kurva V untuk mencapai pemulihan ekonomi yang maksimal. Tahun 2021 belum tentu akan terjadi pemulihan yang ideal karena hantu ketidakpastian pemulihan ekonomi global masih tetap menjadi ancaman. Apalagi setelah ada laporan dari WEF yang berjudul The Global Risk 2021.

Dalam berita dikabarkan bahwa pemulihan ekonomi setelah pandemic Covid-19 harus menempuh jalan terjal. Belum juga pulih seperti sediakala, ancaman besar bagi perekonomian global sudah ada di depan mata. IMF sudah merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8%. Namun, pemerintah akan tetap fokus pada progam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan terus melakukan structural adjudment.

Dunia memang sedang kerepotan menghadapi pandemi Covid- 19. Pengembangan vaksin membuat pelaku pasar bulish terhadap prospek pemulihan ekonomi. Namun, harga komoditas masih anjlok. seperti batu bara dan CPO, karena pembeli terbesarnya seperti Tiongkok dan India mengurangi pembelian dalam jumlah besar. Ini pasti akan diikuti penurunan harga sahamnya di bursa. Di mana komoditas dan saham disebut sebagai aset berisiko.

Akhir dari tulisan ini muncul satu pertanyaan, apakah selain kendaraan bermotor roda empat dan roda dua, ada perusahaan lain yang mengalami penurunan produksi dan penjualan seperti mereka? Atau, apakah ada juga yang menghadapi kesulitan likuiditas pada level perusahaan? Lebih dari itu, adakah proyek-proyek industri strategis yang sudah under construction tapi mengalami hambatan sehingga mereka butuh penyelamatan? Yang bisa memberikan postur rinci hanya Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) yang bisa membedahnya.

Kita percaya bahwa pada saatnya situasi normal baru akan terjadi. Kita bisa bersikap optimistis, tapi harus tetap ada catatan bahwa optimisme itu berada di tengah sejumlah masalah besar. Pemulihan akan bisa terjadi lebih cepat bila permintaan agregat global, regional dan nasional pulih lebih cepat. Situasi normal baru butuh strategi baru dan harus bisa meninggalkan kegiatan ysng bersifat business as usual. Pertumbuhan permintaan agregat yang cepat akan mendorong aktivitas perdagangan antarnegara.

Dari situ awal pemulihan akan mengawali kebangkitan ekonomi dalam suasana normal baru. Khusus untuk mendongkrak investasi, faktor pencapaian sumber pembiayaan investasi akan bertumpu pada kredit perbankan, ser ta pasar modal untuk IPO, rights issue, corporate bonds. Kemudian, capex BUMN, PMDN/PMA, serta investasi pemerintah melalui LPI.

Penulis berharap proyek pembangunan pabrik EV Battery dibiayai LPI. Begitu juga proyek industri kimia hulu yang prospektus bisnisnya menjanjikan di masa depan.

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN