Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Permasalahan SDM dan Manajemen UMKM

Jumat, 18 Desember 2020 | 11:08 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Ada beberapa permasalahan yang dihadapi UMKM saat ini. Utamanya adalah masalah sumber daya manusia (SDM) dan manajemen. Masalahnya meliputi pola pikir, rekrutmen, pendampingan, budaya kerja, kualitas SDM, hingga masalah manajemen seperti perizinan usaha, standar produk, serta masalah kontrak bisnis.

Adapun masalah lainnya adalah tentang problematic finansial, institusi, akses sumber pembiayaan, laporan keuangan sampai pajak, inovasi produk, adopsi teknologi baru, kapasitas produksi dan lain-lain. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga masih dalam belenggu masalah pasar dan bahan baku, seperti akses pasar digital, akses ekspor dan ketersediaan bahan baku.

Dibutuhkan program strategis dan realistis untuk mengatasi masalah tersebut di atas. UMKM perlu mendapatkan dukungan pengembangan kapasitas manajemen SDM melalui pendampingan usaha, baik online maupun offline.

Lalu, pemberian kemudahan dan kesempatan berusaha dengan deregulasi atau omnibus law, kebijakan afirmasi untuk perpajakan, pengupahan, sertifikasi, produk UMKM masuk e-catalogue, sampai pelayanan satu pintu.

Juga perlu perluasan akses pasar produk dan jasa melalui digitalisasi UMKM, penguatan sistem logistik, sampai promosi untuk UMKM yang digencarkan.

Program berikutnya adalah akselerasi pembiayaan dan investasi yang akan melibatkan semua pihak atau koordinasi lintas sektoral untuk mewujudkannya. Kerja konkretnya meliputi agregasipembiayaan lintas kementerian atau lembaga, kemitraan dengan usaha besar, inovasi pembiayaan UMKM, KUR khusus dan investasi, kepedulian sosial (CSR) BUMN, serta pembiayaan nonbank.

Jika mengacu pada masalah UMKM di Tiongkok, khusus da lam menangani masalah SDM dunia usaha, negeri Tirai Bambu ini mengarahkan warga terbaiknya menjadi pengusaha unggul. Sejak tahun 1990-an, pe merintah Tiongkok telah mengi rimkan ribuan tenaga muda terbaik untuk belajar ke bebe rapa universitas terbaik di Amerika Serikat, seperti Har vard, Stanford, dan MIT.

Di Harvard, Tiongkok telah mengirimkan ribuan mahasiswanya untuk mempelajari sistem ekonomi terbuka dan kebijakan pemerintahan Ba rat, walaupun Tiongkok masih menerapkan sistem ekonomi yang relatif tertutup. Hasilnya, Tiongkok saat ini telah memiliki jaringan perdagangan sangat mantap dengan Amerika, bahkan memperoleh status sebagai The Most Prefered Trading Partner (Kardono, 2001).

Pemerintah Tiongkok juga membujuk para overseas Chinese scholars and professionals, terutama yang sedang dan pernah bekerja di pusat-pusat riset dan MNCs di bidang teknologi di seluruh penjuru dunia untuk mau pulang kampung dan membuka perusahaan baru di Tiongkok.

Mantan-mantan tenaga ahli dari Silicon Valley dan IBM, misalnya, nantinya diharapkan dapat mempermudah pembukaan jaringan usaha dengan MNCs ex-employer lainnya yang tersebar di seluruh dunia. Tentu saja bujukan itu dilakukan dengan iming-iming kemudahan dan fasilitas untuk memulai usaha, seperti insentif pajak, kemudahan dalam perizinan, dan suntikan modal.

Selain masalah SDM, perlukah kita mengambil pelajaran dari Tiongkok? Tak ada salahnya kita belajar dari kesuksesan Tiongkok dalam mengembangkan dunia usaha dan industrinya. Apa yang sebaiknya kita pelajari?

Pertama, mengkaji kebijak ankebijakan Tiongkok khususnya dalam memajukan SDM dunia usahanya. Kedua, mempererat hubungan kerja sama Tiongkok dalam ekonomi dan bidang lainnya, termasuk pengembangan SDM UMKM yang dianggap penting.

Ketiga, menciptakan budaya wirausaha di Indonesia melalui kebijakan-kebijakan yang dapat merangsang munculnya pengusaha-pengu saha baru.

Keempat, menggugah kesadaran masyarakat agar memiliki keinginan besar terutama dari kalangan terdidik untuk menjadi pengusaha. Maka sudah saatnya   sistem pendidikan kita tidak boleh lagi mengabaikan pelajaran tentang kewirausahaan dan kepemimpinan.

Kelima, memaksimalkan peran akademisi yaitu peneliti untuk menunjang dunia usaha. Selama ini, kendala utama dunia usaha kita terutama UMKM adalah dari sisi teknologi dan metode yang tidak efisien, dan jauh tertinggal dari pesaingnya di luar negeri. Untuk itu, para peneliti harus segera turun membantu penelitian industri-industri di In donesia. Sudah saatnya pula pe nelitian yang dilakukan lebih membumi sehingga dapat juga dinikmati oleh industri-industri kecil dan menengah.

Bagaimana dukungan akademisi terhadap masalah SDM dan manajemen? Akademisi perlu terus berusaha memformulasikan deskripsi, kajian dan proses bisnis entrepreneur dengan menggunakan basis teknologi (technopreneurship).

Hal ini cukup menggembirakan, di saat gersangnya keberadaan SDM unggul yang ada di tengah kancah sistem ekonomi yang dikuasai para kapitalis, muncul paradigma yang lebih dapat diterima oleh masyarakat dan wirausaha yang mayoritas penduduk muslim ini. Yaitu konsep wirausaha unggul yang berbasis teknologi dan religi.

Konsep tersebut telah dikembangkan oleh Universitas Muhammadiyah Bandung. Ada tiga konsep yang harus dipahami ketika seorang muslim ingin memulai usaha. Ketiga konsep tersebut adalah muslim dan Islam, kekayaan dan wirausaha, serta era digital. Akademisi harus mampu menerjemahkan konsep ini dengan mengadopsi tiga konsep dasar, yaitu leader, manager, dan enterpreneur. Ketiga kon sep tersebut sebagaimana terangkum dalam hadits Nabi Muhammad, Khairu-n Nas anfa ´uhum li-nas.

Dari hasil kajian panjang dan melalui diskusi berkali-kali tentang ketiga konsep dasar tersebut, telah disepakati, enterprenership (kemandirian atau tepatnya jiwa mandiri) merupakan dasar (awal) dari leader dan manager.

Seseorang tidak mungkin menjadi manager apalagi leader jika tidak memiliki kemandirian. Leader dan manager dimaknai sebagai orang yang memiliki kemandirian dalam memecahkan masalah, baik yang dihadapinya sendiri maupun orang lain.

Selanjutnya konsep dasar itu ditambah Islamic dan techno sebagai difrensiasinya. Dengan demikian, Islamic Technopreneur yang dimaksud adalah pengembangan entrepreneurship (menuju leader) berbasis moralitas- religiusitas Islam Berkemajuan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Jadi bukan berarti out put/out come-nya mesti menjadi pebisnis saja, tidak hanya menjadi ASN, TNI-Polri, politisi, dsb.

Melainkan, di mana pun mereka berada, sesuai dengan profesi dan kompetensi keilmuannya (akademisi plus praktisi) harus menjadi leader di dunianya yang mampu berkontribusi bagi kemashlahatan hidup manusia (social enterprise).

Sejalan dengan itu pula, leadership diposisikan sebagai skill utama (merangkum) keseluruhan soft skill Abad 21 (21st Century Skills). Lalu ditambahkan socio enterprenership yang kini sudah menjadi istilah baku. Socio entrepreneur dimaknai sebagai bentuk program pemberdayaan masyarakat sekaligus penanggulangan (pemecahan) masalah sosial yang memengaruhi perubahan sosial.

Ada upaya untuk mengkreasi transformasi positif di masyarakat melalui inisiatif para pengusaha. Pada umumnya fokus utama social entrepreneur adalah membangun bisnis di sepanjang dua bottom lines.

Pertama, untuk menghasilkan keuntungan guna mendukung perusahaan dan karya wannya.

Kedua, dari keuntungan tersebut kemudian digunakan untuk menangani masalah sosial seperti kelaparan, kerusakan lingkungan, pendidikan, tunawisma atau masalah keberlanjutan.

Kata “technopreneurship” inilah yang sebenarnya sedang ditunggu untuk mengentaskan kesenjangan SDM dunia usaha yang mumpuni. Agar ke depannya UMKM Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dengan pesaingnya dari Negara tetangga maupun mancanegara. Gabungan “technology” dan “entrepreneurship” ini dimaknai sebagai proses pembentukan dan kolaborasi _ antara bidang edukasi, bidang usaha, dan penerapan teknologi. Ketiganya merupakan instrument pendukung untuk mencetak jiwa technopreneur.

Dalam pengembangan jiwa entrepreneurship dibutuhkan beberapa tahapan. Tahap penanaman jiwa entrepreneurship melalui konstruksi pengetahuan tentang jiwa entrepreneurial serta medan dalam usaha (internallization). Tahap perubahan mindset pragmatis dan instan harus diubah (paradigm alteration).

Dilanjut ke tahap inisiasi semangat untuk mengkatalisasi perwujudan usaha (spirit initiation), serta tahap kesiapan dan kesigapan dalam se buah kompetisi untuk tidak ketinggalan (competition). Hasil olahan akademisi tersebut membuat seorang technopreneur tidak hanya memiliki kemampuan melakukan hal–hal yang sifatnya profit oriented.

Tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja yang berbasis teknologi, mengantisipasi dan mengeksploitasi ketidakpastian menjadi peluang, menghadapi dan memitigasi risiko, berpikir pragmatis dan taktis, memiliki visi jauh ke depan sebelum memutuskan menjadi seorang technopreneur. Untuk menciptakan kemampuan tersebut, akademisi selaku “creator” membutuhkan banyak pihak terlibat.

Dukungan dari pe merintah sebagai fasilitator, penjamin legalisasi usaha, dan pelindung bagi hak–hak dan produk yang dihasilkan. Juga dukungan dari masyarakat sebagai konsumen yang harus mendukung hasil produknya.

Dari dukungan akademisi, Universitas Muhammadiyah Bandung selaku akademisi terus berupaya menyiapkan SDM berkualitas dan siap pakai.

Dari sisi perspektif pendidikan, dengan selling point berupa pusat inkubasi, terus menggodog mahasiswa ber-entrepreneur melalui penggunaan teknologi. Dengan mempergunakan sudut pandang yang lebih komprehensif dan holistik, universitas ini telah mengedukasi siswa didik sebagai calon entrepreneur yang well educated melalui gemblengan motivasi, kompetensi manajerial, kesiapan ketenagakerjaan dengan mentransformasikannya melalui ilmu pengembangan kewirausahaan berbasis teknologi sebagai dasar berwirausaha.

Dengan misi lebih mengedepankan pentingnya teknologi dalam pengembangan entrepreneur, universitas ini diharapkan mampu melahirkan technopreneurship tang guh di Indonesia.

Selanjutnya dengan konsep LisTens atau Lembaga Islamic Technopreneur dan Sociopreneur University, tak mustahil jika akademisi yang satu ini bakal menjadi rujukan dan barometer dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan di Indonesia, bahkan dunia. Why not?

*) Pemerhati Masalah Ekonomi dan Kemanusiaan, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama, Universita s Muhammadiyah Bandung.
 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN