Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hellington, Analis Anggaran Madya, Direktorat PNBP Sumber Daya Alam dan Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan

Hellington, Analis Anggaran Madya, Direktorat PNBP Sumber Daya Alam dan Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan

PNBP Emas dan Pendirian Bullion Bank

Rabu, 23 Juni 2021 | 09:37 WIB
Hellington *)

Indonesia kaya dengan sumber daya alam (SDA) yang dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat. Salah satunya adalah komoditas emas dengan potensi sumber daya bijih emas (gold ore) mencapai 14,95 miliar ton. Indonesia saat ini merupakan eksportir terbesar keenam dunia dan memiliki tambang emas terbesar dunia.

Pelaku pertambangan emas nasional terdiri atas pengusaha tambang emas berdasarkan jenis perizinan kegiatan usahanya yang meliputi Kontrak Karya, Izin Usaha Pertambangan (IUP), Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), dan Izin Pertambangan Rakyat.

Selain itu masih terdapat banyak kegiatan Penambangan Tanpa Izin (PETI). Hasil produksi emas akan mela lui beberapa rantai distribusi, seperti produsen emas batangan London Bullion Market Association (LBMA), produsen emas batangan non-LBMA, produsen perhiasan emas, dan konsumen. Produsen LBMA dan non-LBMA dapat melakukan ekspor, dan khusus produsen LBMA dapat melakukan penjual an ke bullion bank dan bank sentral.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi emas nasional selama periode 2016-2020 berfluktuasi. Pada periode 2016-2018, produksi emas tumbuh positif dan mencapai puncaknya pada 2018 dengan produksi sebanyak 134,95 ton, kemudian turun menjadi 66,19 ton pada 2020.

Pada tahun tertentu volume penjualan lebih sedikit dari volume produksi, yang berarti ada produksi emas yang disimpan sebagai persediaan atau sebaliknya. Volume produksi emas antara lain dipengaruhi kondisi cuaca, ketersediaan peralatan dan mesin penambangan, kecelakaan, dan perselisihan buruh. Sedangkan harga emas dipengaruhi oleh produksi emas dunia, nilai tukar dolar Amerika Serikat, permintaan dari industri perhiasan, dan jumlah cadangan emas bank-bank sentral dunia, serta yang tidak kalah penting adalah kondisi geopolitik.

Produksi emas nasional sebagian besar diekspor, yang pada 2018 tercatat ekspor emas sebanyak 73,98 ton, sedangkan penjualan domestik sebanyak 60,98 ton. Pada 2020 ekspor emas mencapai 44,93 ton dan di pasar domestic sebanyak 36,50 ton.

Meskipun produksi emas tahun 2020 lebih kecil, namun penjualan lebih tinggi, dapat disebabkan adanya pelepasan persediaan emas awal tahun 2020. Harga emas rata-rata pada 2020 adalah US$ 1.725,83 per troy ounces, jauh di atas harga rata-rata pada 2018 sebesar US$ 1.272,97 per troy ounces.

Pergerakan harga emas dengan tingkat produksinya memiliki hubungan yang negatif, sejalan dengan hukum demand dan supply ketika pasokan sedikit maka harga akan naik. Nilai ekspor logam dasar emas menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, yakni dari US$ 1.377 ju ta pada tahun 2016 menjadi US$ 5.542 juta pada 2020.

Selain menjadi eksportir emas, Indonesia merupakan importir emas untuk kebutuhan industri perhiasan dan masyarakat. Nilai impor emas tahun 2016 mencaai US$ 831 juta, meningkat menjadi US$ 1.902 juta tahun 2020.

Sedangkan nilai ekspor emas perhiasan Indonesia selalu membukukan surplus, hanya semenjak 2016 memiliki kecenderungan penurunan dari US$ 4.149 juta pada 2016 menjadi US$ 1.469 juta pada tahun 2020. Emas sebagai bagian pemanfaatan SDA merupakan objek Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Peraturan Pemerintah No mor 81 Tahun 2019 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis PNBP yang berlaku pada Kementerian ESDM mengatur pengenaan tariff PNBP emas meliputi Iuran Tetap dan Iuran Produksi (royalty).

Pengenaan tarif royalty ditetapkan secara progresif dikaitkan dengan harga jual emas (HJE) per ounces. Tarif berkisar 3,75% hingga 5%. Tarif terendah 3,75% dikenakan jika HJE lebih kecil atau sama dengan US$ 1.300 per ounces, sedangkan tarif tertinggi 5% dikenakan jika HJE lebih dari US$ 1.700 per ounces.

Dalam pemungutan PNBP, PNBP terutang yang harus dibayar pengusaha tambang emas di hi tung sendiri oleh pengusaha tam bang emas sebagai wajib bayar (self assessment). Kementerian ESDM selaku instansi pengelola PNBP wajib melakukan verifikasi atas PNBP terutang yang dihitung oleh wajib bayar.

Karakteristik industri emas berbeda dengan mineral umumnya yang mempunyai volume yang besar dan membutuhkan tempat penyimpanan yang luas, serta sarana transportasi khusus untuk memindahkan mineral kepada pembeli, seperti batu bara dengan volume berton-ton. Karakteristik emas sangat mudah dipindahkan karena volume yang sedikit namun bernilai tinggi, lokasi penambangan emas yang berada di beberapa pelosok negeri, mudah disembunyikan, dan tidak membutuhkan sarana transportasi khusus.

Hal itu menjadi tantangan besar dalam melakukan pengawasan produksi emas. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara, pemegang IUP_ Operasi Produksi (OP) dan IUPK OP wajib melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri sebelum menjual emas di pasar internasional.

Saat ini, baru PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang memiliki unit pengolahan dan pemurnian emas yang bersertifikat LBMA. Kondisi ini menimbulkan risiko jika fasilitas pemurnian ANTM mengalami kerusakan, kegagalan atau akibat kesulitan operasional yang dihadapi ANTM dalam memurnikan dore bullion sehingga dapat berdampak pada pengiriman emas murni kepada pembeli secara tepat waktu dan dapat mengakibatkan penerimaan PNBP tertunda. PNBP emas dipengaruhi oleh volume penjualan emas, HJE dan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Pemegang IUP/IUPK OP emas wajib berpedoman pada Harga Pa tokan Mineral Emas yang ditetapkan oleh Menteri ESDM untuk penjualan emas produksinya.

Rincian perolehan PNBP emas periode 2016-2020 yakni pada tahun 2016 sebesar Rp 1,39 triliun dan naik menjadi sebesar Rp 3,01 triliun pada 2018, kemudian turun menjadi Rp 2,34 triliun pada 2020 seiring penurunan volume penjualan emas. PNBP emas yang diterima negara, sesuai dengan ketentuan perundang- undangan, akan dibagikan kepada daerah sebagai Dana Bagi Hasil (DBH) SDA sebesar 80%.

DBH yang dibagikan kepada daerah penghasil dengan tujuan un tuk mengurangi ketimpangan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah, serta kepada daerah lain non penghasil emas dalam rangka menanggulangi eksternalitas ne gatif dan/atau meningkatkan pemerataan dalam satu wilayah. Dari perimbangan pembagian untuk pemerintah pusat dan daerah tersebut dapat disimpulkan bahwa penerimaan SDA diutamakan untuk kepentingan pembangunan di daerah.

Dewasa ini berkembang wacana untuk pendirian bullion bank di Indonesia. Bullion bank merupakanlembaga yang memfasilitasi pembelian, penyimpanan, penjualan bullion, serta menawarkan layanan jasa keuangan dan pembiayaan bagi nasabahnya.

Kehadiran bullion bank akan memfasilitasi transaksijual beli emas berstandar LBMA, penyimpanan, pembiayaan, dan perdagangan kepada partisipannya di pasar bullion (gold deposit & lending).

Animo masyarakat Indonesia menyimpan emas sebagai tabung an/investasi akan semakin me ningkat karena terjamin dengan kualitas emas LBMA di bullion bank. Hal itu tentunya akan meningkatkan inklusi keuangan masyarakat yang memiliki emas melalui transaksi paper gold dan mendorong perkembangan pasar berjangka komoditas emas.

Kehadiran bullion bank dapat menarik minat investor domestik dan investor asing melakukan pe nanaman modal langsung (Foreign Direct Investment) di tambang emas, termasuk hilirisasi kegiatan smelter (refinery) dan infrastruktur pendukungnya sehingga volume produksi emas meningkat.

Selain itu, kehadiran bullion bank dapat memberikan akses pembiayaan bagi perusahaan tambang/refinery, sehingga pengusaha tambang emas mampu memperbesar kapasitas produksi. Dampak pendirian bullion bank terhadap optimalisasi PNBP menjadi penting untuk disikapi dengan bijak.

Peningkatan investasi kegiatan pertambangan emas akan me ningkatkan produksi emas dan akan berkontribusi pada peningkatan PNBP serta kemakmuran masyarakat. Namun, kegiatan pertambangan emas tetap harus mengutamakan pelestarian lingkungan hidup untuk kesinambungan antargenerasi dengan tetap mempertimbangkan aspek keadilan.

Selain itu, sebagai suatu lembaga, pembentukan bullion bank harus didukung dengan paying hu kum dan pengaturan tata kelola yang baik. Untuk mendukung pengambilan keputusan pembentukan bullion bank wajib didukung dengan analisis dan pertimbangan yang matang oleh pemangku kepentingan, baik dari aspek bisnis, aspek regulasi, aspek finansial, dan aspek risiko.

*) Analis Anggaran Ahli Madya, Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu. (Disclaimer: Tulisan merupakan pendapat pribadi penulis, tulisan tidak mencerminkan pendapat institusi penulis bekerja).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN