Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Revolusi Senyap Kebijakan Moneter di Emerging Market

Senin, 21 September 2020 | 09:49 WIB
Tri Winarno *)

Bank sentral di emerging markets telah melakukan revolusi kebijakan moneternya selama pandemi Covid-19. Tidak seperti masa krisis sebelumnya, mereka sekarang dapat melakukan kebijakan moneter yang meniru kebijakan moneter negara maju: kebijakan untuk menekan tekanan ekonomi dengan menggelontorkan likuiditas (quantitative easing/QE), pembelian aset dengan mata uang lokal, pemangkasan suku bunga, serta melakukan monetisasi defisit fiscal.

Pada masa lampau, kebijakan tersebut akan memicu inflasi dan menekan nilai tukar mata uang. Saat ini, tidak begitu. Kecuali bagi sebagian bank sentral yang telah mengalami masalah ekonomi sebelum pandemi, mereka dapat melakukan QE untuk menciptakan ruang manuver dalam menyikapi krisis yang sedang terjadi. Ini bisa terjadi karena kebijakan moneter di negara maju memungkin kan terjadinya perubahan ini.

Kebijakan pelonggaran likuiditas memiliki dampak positif terhadap kebijakan moneter di negara-negara emerging markets. Di samping itu, me reka telah memperluas pertukar an mata uang dan operasi repo mata uang asing dalam merespons pandemi.

Di antara beragam kebijakan mo ne ter yang dilakukan sekelompok bank sentral yang tergabung dalam Globally Systemic Central Banks (GSCBs), kebijakan yang dilakukan oleh The Fed adalah yang paling penting. Kebijakan swaps dan repo oleh European Central Bank (ECB) dan People’s Bank of China’s (PBOC) juga telah memberikan dampak signifikan di tingkat regional.

Dampak pemangkasan suku bunga dan injeksi likuiditas yang berlimpah di negara maju telah membajiri likuiditas di emerging markets sebagai akibat dari perburuan yield global.

Setelah pasar uang rontok pada bulan Maret 2020, aliran modal berbalik lagi ke emerging markets untuk diinvestasikan ke utang pemerintah.Sehingga emerging markets dapat melakukan pemangkasan suku bunga, dan bank sentralnya telah mulai menerbitkan asset yang dinominasikan dalam mata uang domestik.

Sementara itu, ekspansi besar-besaran currency swaps oleh GSCBs telah menurunkan tekanan nilai tukar mata uang di emerging markets. Swap lines tersebut menjadi jaminan kekurangan devisa bagi emerging markets.

Di awal pandemi, The Fed mereaktivasi standing swap arrangements dengan ECB, Bank of Canada, Bank of England, Bank of Japan, dan Swiss National Bank, serta memperlama masa jatuh temponya. Kemudian diikuti pemberian fasilitas swap dengan bank sentral Australia, Brasil, Denmark, Korea Selatan, Meksiko, Selandia Baru, Norwegia, Singapura, dan Swedia.

Saat ini The Fed telah melakukan kebijakan moneter yang sama de ngan kebijakan saat GFC 2008, serta ditambah kebijakan lain yang se makin memompa dolar AS di pasar uang global. Pada akhir Maret, The Fed menawarkan tambahan repo facility sementara bagi Foreign and International Monetary Autho rities (FIMAs).

Kebijakan ini memungkinkan bank sentral dan in stitusi moneter seluruh dunia me makai stock of US Treasury bills yang dimilikinya sebagai sarana un tuk keperluan likuiditas dolarnya.

Walaupun kebijakan repo bukan asli currency swaps (karena FIMAs harus menyediakan asset dalam denominasi do lar AS sebagai jaminan), namun ins tru men itu sangat mangkus (efektif) sebagai sumber penjaga kepercayaan pasar (a powerful source of market confidence).

Dan oleh karena repo telah mencukupi sebagai penjamin pasar, mereka tidak perlu memakainya untuk mengintervensi pasar.

Di samping itu, repo dapat berfungsi sebagai awal instrument kesepakatan currency-swap, seperti yang pernah terjadi dalam operasi repo ECB dengan Polandia dan Hungaria pada tahun 2009. Dalam menghadapi krisis kali ini baik ECB maupun PBOC telah memperluas swap lines dan repo dengan negara lain. Sehingga risiko tekanan nilai tukar di emerging markets turun drastis.

Saat ini bank sentral di emerging markets memiliki ruang maneuver yang longgar, selama kebijakan moneter longgar di negara maju masih berlangsung. Dalam jangka pendek maupun jangka menengah manuver kebijakan tersebut akan masih dimiliki bank sentral di negara emerging markets. Karena bank sentral di negara maju tidak akan keluar dari kebijakan QE, bahkan tatkala pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja telah pulih. Apalagi dalam masa pandemi dan resesi ekonomi, tak ada tanda-tanda negara maju untuk keluar dari QE.

Di samping itu, beberapa bank sentral secara formal telah berkomitmen akan menjaga agar suku bunga tetap rendah atau bahkan negatif, dan central- bank digital currencies yang baru akan menjadikan implementasi kebijakan tersebut relatif semakin mudah.

Dengan memperhatikan fenomena di atas, maka dapat dipastikan bank sentral di emerging markets masih akan menikmati limpahan kebijakan moneter dari Negara maju dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, saat ini tekanan inflasi dan tekanan nilai tukar tidak akan menjadi isu lagi di negara emerging markets.

Tema pokok saat ini adalah bagaimana menjaga agar pertumbuhan ekonomi menjadi positif dan mengurangi tingkat pengangguran serta meminimalisasi penambahan jumlah orang miskin baru maupun miskin kambuhan; serta menjaga kesehatan masyarakat, karena tidak akan ada pertumbuhan ekonomi di tengah masyarakat yang sakit.

Akan tetapi, tentu ada batasnya kenikmatan kebebasan kebijakan yang dimiliki bank sentral di emerging markets. Karena bank sentral di emerging markets akan menghadapi konsekuensi yang tak diinginkan, yang berasal dari stabilitas keuangan dan governance. Yaitu, QE dan resesi yang berkelamaan akan berdampak negative terhadap neraca perusahaan, rumah tangga dan akhirnya akan memukul neraca bank.

Ketika itu terjadi, maka yang harus diwaspadai adalah kebangkrutan perusahaan dan kredit macet yang meningkat. Apalagi bila pemerintah di emerging markets tidak memiliki kebijakan fiskal yang memadai untuk mengatasi akumulasi masalah tersebut disbanding pemerintahan di negara maju.

Isu governance akan menghantui bank sentral di emerging markets. Pembelian aset bank sentral yang me lampui kewajaran akan mencuatkan keprihatinan tentang transparansi dan akuntabilitasnya. Karena itu, kerentanan stabilitas keuangan dan governance di emerging markets akan semakin mencuat seiring dengan ber jalannya waktu sampai dengan pan demi ini dapat diminimlisasi. De ngan demikian, pembuat kebijakan di emerging markets saat ini harus me ningkatkan kehati-hatiannya agar nantinya mereka tidak berakhir di hotel prodeo.

*) Pengamat Kebijakan Ekonomi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN