Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Sinyal Pasar dan Ekonomi Global

Jumat, 10 Januari 2020 | 11:27 WIB
Tri Winarno *)

Pada bulan Mei dan Agustus 2019, eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah merontokkan pasar modal dan mendorong imbal hasil obligasi pada titik terendah dalam sejarah AS. Tetapi kondisi itu telah berlalu dan pasar keuangan AS sekali lagi menjadi semakin menguat.

Pasar modal AS bergairah dan beberapa harga saham di berbagai belahan dunia juga cenderung semakin menguat menuju harga keseimbangan tinggi terbaru, bahkan berkembang kegairahan baru bahwa pasar modal menuju nilai tertinggi potensialnya.

Kegairahan di pasar keuangan AS tersebut telah membesut harapan bahwa perlambatan ekonomi global yang sedang terjadi akan diikuti percepatan pertumbuhan ekonomi global tahun 2020. Pergeseran mendadak dari lesu ke gairah tinggi pasar keuangan tersebut mencerminkan tiga perkembangan yang positif.

Pertama, AS dan Tiongkok telah mencapai fase pertama persetujuan perdagangan, yang setidak-tidaknya akan bertahan hingga konflik perdagangan dan teknologi antarkeduanya tercapai secara menyeluruh pada fase-fase berikutnya. Kedua, walaupun ada ketidakpastian hasil dari pemilu Inggris pada 12 Desember 2019 mendatang, setidak-tidaknya Perdana Menteri Boris Johnson telah berhasil mengamankan persetujuan “soft Brexit” dengan Uni Eropa.

Peluang Inggris terkucil dari blok Uni Eropa secara substantif telah mengecil. Ketiga adalah bank sentral utama dunia, seperti The Fed, bank sentral Eropa dan bank sentral Jepang telah mengantisipasi gejolak geopolitik dengan melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Dengan langkah bank sentral melakukan penyelamatan tersebut, maka sektor manufaktur AS menjadi stabil kembali dan daya tahan sektor jasa serta pertumbuhan konsumsi meningkat lagi, sehingga tumbuh harapan bahwa tandatanda ekspansi global mulai menguat lagi. Namun demikian, perkembangan tersebut belum menjamin pemulihan ekonomi global.

Alasan pertama, data terbaru menunjukkan bahwa Tiongkok, Jerman dan Jepang masih mengalami perlambatan ekonomi walaupun kondisinya tidak parah-parah amat. Kedua, walaupun AS dan Tiongkok telah menyepakati gencatan senjata, perseteruan antara kedua raksasa ekonomi dunia tersebut dipastikan akan meningkat lagi setelah Pemilu Presiden AS pada November 2020 nanti.

Dalam jangka menengah, skenario yang paling optimistis adalah perang dingin antara kedua Negara tersebut tidak semakin memanas. Ketiga, walaupun Tiongkok telah mampu menahan diri untuk tidak ikut campur secara langsung menghadapi kerusuhan di Hong Kong, situasi di kota tersebut semakin memburuk. Sehingga dimungkinkan Tiongkok akan menggunakan kekuatan militer pada tahun 2020 untuk memberangus gelombang demonstrasi tersebut.

Akibatnya, kesepakatan perdagangan dengan AS akan bubar dan akan mengguncang pasar keuangan global, serta akan mendorong Taiwan ke arah kemerdekaan yang merupakan garis merah bagi Beijing.

Keempat, walaupun “hard Brexit” sudah tidak masuk dalam skenario, Uni Eropa sedang menghadapi malaise atau kelesuan perekonomian yang tak terkait dengan keluarnya Inggris dari blok tersebut. Jerman dan negara lain yang mempunyai kelonggaran untuk menggunakan kebijakan fiskalnya tetap kukuh menolak menggunakan kebijakan fiskal untuk menstimulus ekonomi. Lebih buruk lagi, Christine Lagarde, presiden Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang baru, dipastikan tidak akan mampu memberikan tambahan stimulus kebijakan moneter. Hal itu karena sepertiga dari Dewan Gubernur ECB telah menentang pelonggaran kebijakan moneter lanjutan.

Di samping tantangan yang berasal dari penduduknya yang semakin menua, permintaan Tiongkok yang semakin melemah, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi ketentuan emisi gas karbon, Eropa masih rentan terhadap ancaman kebijakan tarif dari Presiden Trump pada industri otomotifnya. Negara-negara kunci Uni Eropa, seperti Jerman, Spanyol, Perancis, dan Italia sedang menghadapi tantangan politik dalam negeri yang dapat menjadi penghambat kinerja ekonominya.

Kelima, sanksi AS telah memicu kerusuhan jalanan di Iran. Dipastikan pemerintahan Iran tidak mau sendirian menderita di kawasan tersebut. Sehingga Iran akan menjadi faktor instabilitas di Timur Tengah (Timteng) yang saat ini sedang memanas. Protes besar-besaran telah meletus di Irak dan Lebanon, suatu negara yang secara efektif telah bangkrut dan berada pada risiko krisis mata uang, utang publik dan krisis perbankan.

Dalam kondisi kevakuman politik di Lebanon, bisa jadi Hezbollah melakukan serangan ke Israel. Terlibatnya Turki di Syria juga dapat mengganggu pasokan minyak yang berasal dari Kurdistan, Irak. Sedangkan perang saudara di Yaman belum ada tanda-tanda mereda. Israel pun saat ini hampir tanpa pemerintahan.

Oleh karena itu, Timteng dapat menjadi bubuk mesiu yang siap meletus, sehingga akan berakibat pada melonjaknya harga minyak jika Timteng membara. Kalau kondisi ini terjadi, dipastikan ekonomi global akan mengalami stagflasi. Keenam, bank sentral telah mencapai batas kemampuannya untuk menyangga ekonomi, sedangkan kebijakan fiskal masih terkendala kondisi politik.

Memang betul, pemangku kebijakan masih dapat menggunakan kebijakan unconventional –seperti monetized fiscal deficits– ketika ekonomi mengalami resesi. Tetapi mereka baru akan menggunakan kebijakan tersebut tatkala krisis sudah benar-benar parah.

Ketujuh, kecenderungan politik global mengarah pada antiglobalisasi, antimigrasi dan antitransfer teknologi. Sehingga akan semakin banyak negara melakukan kebijakan pembatasan aliran barang, modal, teknologi dan data. Berbagai protes jalanan yang terjadi di Bolivia, Chili, Ekuador, Mesir, Perancis, Spanyol, Hong Kong, Irak, Iran, dan Lebanon merefleksikan berbagai sebab. Akan tetapi, pada dasarnya mereka sedang menghadapi malaise ekonomi dan meningkatnya ketidakpuasan politik terhadap ketimpangan pendapatan dan beratnya beban hidup.

Kedelapan, AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump telah menjadi sumber ketidakpastian global terbesar. Slogan Trump: “America First” telah merusak tatanan internasional yang diciptakan AS dan sekutunya setelah Perang Dunia Kedua. Bahkan di Eropa muncul berbagai kekhawatiran bahwa NATO akan mati suri, dan AS tidak lagi sejalan dengan sekutu-sekutunya di Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan.

Sedangkan di AS sendiri, Trump sedang menghadapi upaya pelengserannya dari tampuk pemerintahan, yang semakin menambah suhu politik, apalagi beberapa kandidat presiden dari Partai Demokrat memiliki platform kebijakan yang membuat pasar semakin meriang.

Terakhir kesembilan, kecenderungan jangka menengah masih berpotensi mengganggu ekonomi. Faktor penduduk yang semakin menua serta pembatasan migrasi dipastikan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi potensial. Perubahan cuaca juga akan semakin membebani ekonomi global.

Selain itu, walaupun inovasi teknologi akan menjadi sumber pertumbuhan, tetapi artificial intelligence dan automation akan mengacaukan lapangan kerja, perusahaan dan keseluruhan industri yang berujung pada peningkatan ketimpangan ekonomi. Ketika resesi mendatang benar-benar terjadi, maka kondisi utang yang tidak berkelanjutan akan memicu gelombang default dan kebangkrutan.

Ketidaksinkronan antara kondisi pasar keuangan dan ekonomi riil bakal semakin membesar. Sehingga investor hanya berfokus pada jangka pendek dan bertumpu pada penghasilan yang ditopang oleh pelonggaran moneter. Ujung-ujungnya akan semakin memperburuk risiko fundamental ekonomi global. Karena itu, memperkuat daya tahan ekonomi nasional yang berbasis kearifan lokal menjadi semakin relevan di tengah gejolak kondisi global yang penuh ketidakpastian.

*) Pengamat Kebijakan Ekonomi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN