Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Agus Sugiarto, Advisor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tantangan Meningkatkan Investasi Masyarakat

Selasa, 1 Desember 2020 | 22:11 WIB
Agus Sugiarto *)

Salah satu tolok ukur kemakmuran dari suatu bangsa adalah dengan melihat seberapa banyak jumlah masyarakat yang telah berinvestasi di Negara tersebut. Semakin banyak masyarakat yang berinvestasi, tentunya akan mendorong negara bersangkutan menjadi semakin makmur, seperti yang diungkapkan oleh begawan ekonomi Adam Smith (1776).

Kemakmuran suatu bangsa merupakan akumulasi  dari berbagai investasi yang telah dilakukan di berbagai sektor produktif, sehingga dapat membuka kesempatan kerja yang seluas-luasnya dan mendorong produksi yang lebih besar.

Investasi besar-besaran di berbagai sektor ekonomi merupakan salah satu kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara ke tingkat yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, dalam kegiatan investasi bukan hanya melibatkan pemerintah maupun korporasi-korporasi besar saja, melainkan juga perlu melibatkan masyarakat luas.

Keterlibatan masyarakat luas dalam berinvestasi memiliki peran yang sangat penting bukan hanya bagi perekonomian negara, melainkan juga untuk menumbuhkembangkan kekayaaan orang tersebut. Namun sayang sekali, ternyata minat masyarakat kita untuk berinvestasi di sektor keuangan masih jauh dari harapan.

Berdasarkan data, investor perorangan kita yang sudah berinvestasi di pasar mo dal baru 3,2 juta orang saja atau hanya sekitar 1,1% saja dari seluruh jumlah penduduk. Angka ini sangat kecil bila kita bandingkan dengan Malaysia yang memiliki jumlah investor perorangan hampir 2,5 juta orang atau sekitar 7,8% dari jumlah pen duduk, sedangkan Thailand 5,54 juta investor atau 8% dari jumlah penduduk.

Pasar modal sering dipakai sebagai indikator untuk berinvestasi karena pasar modal merupakan tempat berbagai instrumen keuangan jangka panjang diperdagangkan, seperti saham, reksa dana dan obligasi.

Di sinilah para pengusaha mencari dana guna membiayai kegiatan usahanya dengan mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dengan membeli saham-saham perusahaan mereka.

Tantangan yang Dihadapi

Mendorong masyarakat berinvestasi bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan mengingat adanya beberapa permasalahan mendasar yang kita hadapi.

Pertama, keinginan untuk berinvestasi sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang, sehingga semakin tinggi tingkat pendidikannya semakin besar kemampuannya untuk melakukan investasi. Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat kita hanyalah sampai jenjang SMP kelas 2 saja (rata-rata lama sekolah 8 tahun), sehingga tidaklah mudah memberikan pengetahuan yang mendalam mengenai berinvestasi.

Pemahaman mengenai manfaat dan risiko dalam suatu investasi harus betul-betul dimengerti bagi seseorang yang akan berinvestasi.

Oleh sebab itu, tidaklah mengheran kan apabila masyarakat yang sudah berinvestasi di pasar modal rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.

Kedua, hasil survei literasi keuang an yang dilakukan oleh OJK pada tahun 2019 menunjukkan bahwa tingkat literasi ke uangan ma syarakat untuk sektor pasar modal baru mencapai 4,92%. Ar ti nya dari setiap 100 penduduk hanya ada 5 orang saja yang mengerti dan memahami dengan benar instrumen-instrumen keuangan di pasar modal, seperti saham, reksa dana dan obligasi.

Sebagian besar masyarakat Indonesia belum melek investasi, sehingga tidak menghe rankan apabila indeks inklusi ke uangan masyarakat di sektor pasar modal juga masih rendah, yaitu baru mencapai 1,55% saja.

Rendahnya literasi keuangan masyarakat untuk sektor pasar modal tersebut menyebabkan keengganan dan ketakutan masyarakat untuk menanamkan uangnya di instrumen- instrumen keuangan pasar modal.

Perlu Strategi Baru

Melihat betapa pentingnya peran investasi guna menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional, maka sudah selayaknya masyarakat terus didorong untuk berinvestasi. Men dorong minat masyarakat untuk berinvestasi dapat dilakukan melalui dua jalur yang harus dilaksanakan secara bersama-sama.

Pertama, meningkatkan kemampuan literasi masyarakat mengenai berbagai jenis instrumen investasi baik untuk sektor keuangan maupun nonkeuangan. Untuk itu, perlu dirumuskan suatu strategi guna meningkatkan literasi keuangan masyarakat di pasar modal.

Strategi baru dapat berupa “kampanye nasional melek investasi” yang dilaksanakan oleh berbagai elemen di industri jasa keuangan, mulai dari OJK sebagai regulator industri jasa keuangan maupun pelaku usaha di sektor pasar modal dan para akademisi. Kampanye melek investasi ini sangat bermanfaat untuk mendongkrak sisi permintaan masyarakat terhadap pro duk-produk investasi keuangan.

Kedua, memperkuat sisi suplai produk-produk investasi keuangan menjadi lebih beragam dan terjangkau dari sisi harganya. Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah menurunkan minimum jumlah saham yang bisa dibeli dalam 1 lot, dari 500 lembar saham menjadi 100 lembar saham, sehingga lebih terjangkau.

Investasi reksa dana bisa dimulai dengan uang Rp 100 ribu, sehingga bisa menarik minat kaum milenial yang memiliki keterbatasan dana untuk diinvestasikan. Penawaran obligasi ritel pemerintah dalam bentuk Obligasi Negara Ritel (ORI) dan Sukuk Negara Ritel (SR) minimum harus Rp 1 juta, sehingga dianggap belum mampu menjangkau lapisan masyarakat bawah atau kelompok milenial yang memiliki uang pas-pasan untuk berinvestasi.

Sudah sewajarnya perlu dipikirkan kembali apakah minimum pembelian ORI atau SR tersebut dapat diturunkan menjadi Rp 250 ribu atau bahkan Rp 100 ribu, dengan tujuan agar semakinbanyak masyarakat yang membeli surat utang pemerintah sebagai bagian dari kegiatan investasi mereka.

Semakin banyak masyarakat yang membeli surat utang pemerintah dalam bentuk ORI dan SR, akan memperkuat kapasitas pembiayaan pemerintah dalam mendanai pembangunan nasional.

*) Kepala OJK Institute (Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari penulis).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN