Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

Tren Positif Ekonomi

Kamis, 6 Mei 2021 | 18:18 WIB
Investor Daily

Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengumumkan ekonomi Indonesia kembali tumbuh negatif atau mengalami kontraksi sebesar 0,74% secara year on year (yoy) pada kuartal perta ma 2021.

Ini adalah kontraksi keempat berturut-turut sejak kontraksi terdalam sebesar -5,32% pada kuartal II-2020. Meski masih tumbuh negatif, ekonomi Indonesia sudah bergerak dalam tren positif karena kontraksinya terus mengecil dibandingkan tiga kuartal sebelumnya.

Beberapa indikator ekonomi pun menunjukkan perbaikan. BPS mencatat, dari sisi produksi, ada enam sektor lapangan usaha yang masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2021, sisanya masih terkontraksi.

Keenam sektor itu adalah informasi dan komunikasi yang tercatat tumbuh paling tinggi sebesar 8,72%, diikuti pengadaan air 5,49%, jasa kesehatan 3,64%, pertanian 2,95%, pengadaan listrik dan gas 1,68%, dan real estat 0,94%. Namun demikian, sektor lapangan usaha yang menyumbang kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) seperti industri, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan masih mengalami kontraksi.

Sektor industri pengolahan tumbuh negative 1,38%, diikuti perdagangan yang terkontraksi 1,23%, konstruksi -0,79%, dan pertambangan -2,02%. Sedangkan dua sektor lapangan usaha yang masih terdampak parah dari pandemi Covid-19 adalah transportasi dan pergudangan yang tumbuh negatif 13,12% serta akomodasi dan makanan minuman -7,26%.

Mengacu pada pergerakan berbagai sektor tersebut, proses pemulihan akan berbeda-beda pada setiap sektor usaha. Sektor-sektor usaha yang bergantung pada mobilitas masyarakat masih akan membutuhkan waktu lama untuk bangkit.

Kendati demikian, ada sinyal pe mulihan ekonomi mengingat sektor yang terkontraksi tersebut masih bisa tumbuh lebih baik dari kuartal sebelumnya. Contohnya sektor industri pengolahan tumbuh lebih baik dari kuar tal IV-2020 yang tumbuh minus -3,14%. Hal yang sama juga terjadi pada sektor perdagangan yang tumbuh lebih baik dari kuar tal sebelumnya yang terkontraksi 3,64%.

Dari sisi pengeluaran, BPS mencatat kinerja ekspor dan konsumsi pemerintah yang tumbuh positif membantu penguatan kinerja perekonomian kuartal I-2021. Ekspor barang dan jasa tumbuh 6,74% dan konsumsi pemerintah tumbuh 2,96%. Kinerja ekspor yang mulai pulih ini karena membaiknya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat.

Pertumbuhan ekspor nonmigas disumbangkan oleh ekspor komoditas seperti lemak dan minyak hewan nabati, besi dan baja, serta mesin dan peralatan listrik. Sedangkan pertumbuhan konsumsi pemerintah didorong oleh kenaikan realisasi belanja barang dan jasa serta bantuan sosial di APBN masing-masing sebesar 40,51% dan 16,52%. Kenaikan belanja barang dan jasa, baik untuk pengeluaran konsumsi kolektif maupun individu, lebih banyak terjadi pada belanja penanganan pandemi Covid-19 untuk obat-obatan dan vaksin.

Untuk menggenjot konsumsi, pemerintah daerah mesti mempercepat penyerapan belanja barang dan jasa yang masih melambat dan belum memberikan kontribusi kepada perekonomian nasional. BPS mencatat belanja barang, jasa dan pegawai di APBD yang mengalami kontraksi ini menghambat konsumsi pemerintah.

Peningkatan konsumsi pemerintah daerah bisa membantu perekonomian dengan pertumbuhan yang kuat. Kontraksi ekonomi nasional pada kuartal I-2021 disebabkan komponen pengeluaran penyumbang terbesar PDB seperti konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tumbuh negatif.

Konsumsi rumah tangga tercatat kontraksi 2,23% dan PMTB tumbuh negatif 0,23%. Kedua komponen pengeluaran ini menyumbang 88,91% PDB pada kuartal I-2021. Meski terkontraksi, kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi ini mengalami tren kenaikan.

Keduanya tumbuh lebih baik dari kuartal sebelumnya, sehingga memunculkan optimisme akan terjadi perbaikan ekonomi pada kuartal berikutnya. Tanda-tanda pemulihan ekonomi itu muncul dari membaiknya Indeks Penjualan Ritel, Indeks Keyakinan Konsumen maupun PMI Manufaktur selama Januari-Maret 2021. Kemudian, penjualan mobil, konsumsi listrik dan permintaan semen yang meningkat juga memberikan sinyal positif pemulihan ekonomi.

Beberapa indikator sektor industri juga membangkitkan optimisme pemulihan manufaktur nasional.

Sejumlah sektor industri yang tumbuh positif secara konsisten hingga kuartal I-2021 yakni industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh 11,46%, industri furniture tumbuh 8,04%, industri logam dasar naik 7,71%, industri karet, barang dari karet dan plastik naik 3,84%, serta industri mesin dan perlengkapan 3,22%.

Kemudian, industri makanan dan minuman (mamin) tumbuh 2,45%. Industri nonmigas masih menjadi penggerak ekonomi nasional yang kontribusinya mencapai 17,91% pada kuartal I-2021. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yakni 17,86%.

Di sisi lain, Purchasing’s Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencapai rekor tertinggi pada April di level 54,6 juga menunjukkan industri manufaktur nasional semakin agresif dan ekspansif.

Sedangkan utilisasi manufaktur pada Maret sebesar 61,30% menunjukkan tren peningkatan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Indikator lain yang menumbuhkan optimism adalah investasi sektor industri pada Januari-Maret 2021 yang mencapai Rp 88,3 triliun atau naik 37,97% dibandingkan periode sama tahun lalu. Kontribusi terbesar pada peningkatan investasi ini berasal dari industri logam, mesin dan elektronik, juga kimia farmasi.

Selain upaya yang dilakukan pemerintah, yang tidak kalah penting dalam meningkatkan kinerja sektor industri adalah dukungan dari pelaku usaha. Dari sisi faktor eksternal juga ada optimis me yang dapat mendorong penguatan ekonomi Indonesia.

Beberapa negara mitra dagang utama Indonesia sudah memasuki fase pertumbuhan positif, seper ti Tiongkok mencatatkan pertumbuhan ekonomi 18,3%, Amerika Serikat 0,4%, dan Singapura 0,2%.

Kondisi ini diyakini bisa memperkuat permintaan ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut. Namun demikian, yang perlu diwaspadai adalah kondisi India yang justru mengalami pemburukan dalam kasus pandemi Covid-19, sehingga bisa mempengaruhi perdagangannya dengan Indonesia. Negara-negara utama di Uni Eropa juga masih mengalami pertumbuhan negatif.

Dalam konteks ini, pemerintah perlu mencermati perkembangan dan melakukan langkah-langkah antisipasi. Optimisme yang terbangun hingga kuartal I-2021 akan membawa ekonomi Indonesia berada di zona positif pada kuartal II, III, dan  IV, sehingga secara kumulatif atau full year 2021 akan tumbuh positif dibandingkan 2020. Namun, untuk memastikan pemulihan ekonomi tercapai, penanganan pandemi Covid-19 harus lebih digalakkan untuk mempertahankan tren penurunan kasus aktif Covid-19.

Tak hanya itu, penerapan protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan tidak boleh diabaikan. Pelaksanaan program vaksinasi gratis bagi sekitar 181,5 juta orang untuk mencapai herd immunity pada awal 2022 harus terwujud. Sementara pelaksanaan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) dengan anggaran Rp 699,43 triliun juga harus terus diperkuat dan semakin terarah untuk mendukung dunia usaha dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Hingga 30 April 2021, program PEN sudah terealisasi sebesar Rp 155,63 triliun atau 22,3% dari pagu anggaran.

Kewaspadaan dan langkah antisipatif harus dijaga mengingat pandemi belum sepenuhnya usai. Kasus Covid-19 di India yang mencatat rekor tertinggi hingga mencapai 400 ribu kasus per hari harus menjadi pelajaran berharga untuk Indonesia. Karena itu, upaya pembukaan aktivitas ekonomi perlu dilaksanakan secara lebih hati-hati dan tetap memperhatikan disiplin penerapan protokol kesehatan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN