Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kolaborasi lima APM dalam membentuk eksositem mobil elektrifikasi. (ist)

Ilustrasi kolaborasi lima APM dalam membentuk eksositem mobil elektrifikasi. (ist)

DUKUNG PRESIDENSI G20

Lima APM Jepang Berkolaborasi Bentuk Ekosistem Mobil Elektrifikasi di Bali

Selasa, 24 Mei 2022 | 12:53 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Sebanyak lima agen pemegang merek (APM) otomotif Jepang, yakni PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia, PT Nissan Motor Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (Fuso), PT Isuzu Astra Motor Indonesia, dan PT Toyota Astra Motor (TAM) sepakat berkolaborasi untuk mempopulerkan kendaraan elektrifikasi di Indonesia melalui pengembangan model ekosistem mobilitas elektrifikasi di Bali bertajuk EV Smart MobilityJoint Project.

Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk mendukung upaya pemerintah mempercepat pengurangan emisi karbon, tetapi untuk memperluas pengenalan dan makin mempopulerkan kendaraan elektrifikasi sebagai salah satu kunci mobilitas massal di masa depan.

Selain itu, kehadiran joint project ini membantu upaya revitalisasi sektor pariwisata Indonesia melalui pengembangan wisata ramah lingkungan (ekowisata) sekaligus diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap posisi Indonesia sebagai presidensi G20 pada 2022 yang akan diselenggarakan di Bali.

EV Smart Mobility–Joint Project merupakan wujud kontribusi lima APM otomotif untuk mengambil peran dalam upaya pengurangan emisi karbon di industri ini. Para distributor otomotif ini bekerja sama mengembangkan multi-pathway guna memperluas pilihan kendaraan elektrifikasi kepada masyarakat, termasuk di dalamnya hydrogen fuel cell electric vehicle (FCEV), battery electric vehicle (BEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) yang bersumber tenaga listrik, hybrid electric vehicle (HEV) yang menggabungkan EV dan mesin konvensional (internal combustion engine/ICE) yang mampu mengurangi emisi karbon tanpa melalui proses charging. Bahkan, teknologi ICE dapat berkontribusi besar dengan memanfaatkan penggunaan biofuel.

Pendekatan multi-pathway diyakini dapat mempercepat kehadiran teknologi ramah lingkungan yang mudah diakses publik agar mampu mengurangi emisi sesuai dengan keberadaan sumber energi terbarukan, kesiapan infrastruktur pengisian daya, dan kebutuhan penggunaannya. Dengan pendekatan ini, seluruh pengguna dapat ikut berkontribusi dalam langkah pengurangan emisi karbon melalui cara mereka masing-masing.

Oleh karena itu, EV Smart Mobility–Joint Project yang menghadirkan BEV dan PHEV diposisikan sebagai bagian dari inisiatif bersama untuk membuka peluang bagi penggunaan kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

“Melalui proyek ini, kami ingin menegaskan komitmen bersama untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam upaya pengurangan emisi karbon dengan mengembangkan dan mempopulerkan kendaraan listrik ramah lingkungan. Selain itu, proyek ini merupakan bentuk dukungan kami selaku pelaku industri otomotif kepada pemerintah demi mensukseskan posisi Indonesia sebagai presidensi G20 pada tahun 2022,” ujar Susumu Matsuda, sekretariat proyek yang mewakili lima APM otomotif tersebut, Selasa (24/5/2022).

Kerja sama ini, kata dia, dirancang dengan membawa semangat yang sama dengan Indonesia, yaitu recover together, recover stronger, dan tumbuh lebih kuat serta berkelanjutan. Apalagi, salah satu isu penting yang memperkuat Indonesia sebagai tuan rumah presidensi adalah transisi energi menuju green economy.

Dalam joint project ini, masing-masing APM akan menyediakan kendaraan listrik andalannya untuk membentuk line-up di sektor kendaraan penumpang dan komersial. Penyediaan kendaraan listrik itu diperlukan dan bertujuan mempercepat pengenalan kepada masyarakat mengingat dalam pengembangan kendaraan listrik juga memerlukan kegiatan pilot project dan ketersediaan infrastruktur, seperti stasiun pengisian listrik, hingga uji coba ekosistem secara keseluruhan.

Line-up kendaraan elektrifikasi penumpang akan digunakan untuk mendukung mobilitas di kawasan Nusa Dua dan Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Sementara itu, line-up komersial akan digunakan untuk mendukung logistik dan selanjutnya akan menjadi pertimbangan untuk berkolaborasi dengan bisnis lokal di wilayah Bali.

“Kami berharap EV Smart Mobility–Joint Project ini dapat mendukung upaya pemerintah dalam memberikan solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan dan meningkatkan ekowisata, khususnya di Bali. Melalui joint project, masyarakat memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengalaman secara langsung dan bisa lebih mengenal ekosistem mobilitas kendaraan elektrifikasi." kata Matsuda.

EV Smart Mobility–Joint Project akan diadakan pada Juli 2022 bersamaan dengan berbagai acara dalam rangka pertemuan G20 di Bali. Kegiatan ini akan menjadi peluang besar bagi pemerintah dan industri otomotif nasional untuk menunjukkan komitmen dan keseriusan dalam menerapkan kebijakan transisi energi hijau dan menyambut era mobilitas masa depan berbasis kendaraan ramah lingkungan atau elektrifikasi kepada negara-negara yang tergabung dalam pertemuan G20.

Inisiatif bersama menghadirkan EV Smart Mobility–Joint Project juga tidak lepas dari keinginan bersama untuk meningkatkan kerjasama bilateral Indonesia dan Jepang, termasuk di industri otomatif yang diungkapkan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan Presiden Indonesia Joko Widodo saat kepala pemerintahan Jepang tersebut berkunjung ke Indonesia pada akhir April 2022.

“Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Fumio Kishida, Presiden Jokowi sangat mengharapkan peran sektor otomotif, termasuk produsen mobil Jepang untuk memposisikan Indonesia sebagai regional hub,” ujar Duta Besar Jepang untuk indonesia, Kenji Kanasugi mengutip pernyataan PM Jepang Fumio Kishida.

Sebagaimana diketahui, untuk memenuhi komitmen penurunan emisi CO2 atau emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada 2030, pemerintah telah mencanangkan berbagai kebijakan, termasuk percepatan popularisasi kendaraan listrik dan mengembangkan industri tersebut. Pengembangan ekosistem membutuhkan keterlibatan pemangku kepentingan termasuk industri otomotif, produsen baterai, dan konsumen.

 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN