Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pertambangan Adaro. Foto:  DEFRIZAL

Salah satu pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

Kinerja Adaro Bisa Tumbuh Lebih Pesat dari Perkiraan

Sabtu, 18 September 2021 | 10:22 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Solidnya harga jual batu bara dan volume produksi yang diekspektasi meningkat pada semester II tahun ini bakal mendorong laju pertumbuhan kinerja keuangan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) lebih pesat dari perkiraan.

“Kami memperkirakan peningkatan kinerja keuangan Adaro Energy terus berlanjut dalam dua kuartal ke depan. Seperti pada kuartal III-2021, peningkatan akan ditopang oleh harga jual batu bara dan kondisi cuaca yang diekspektasi lebih kering untuk penambangan,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya.

Meski realisasi volume produksi batu bara perseroan pada semester I-2021 lebih rendah dibandingkan perkiraan, dia menyebutkan bahwa Adaro Energy tetap akan mampu mewujudkan target sebanyak 52-54 juta ton tahun ini dibandingkan tahun lalu 54,5 juta ton.

Sebab itu, BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target kinerja keuangan Adaro Energy tahun 2021-2022. Penguatan kinerja keuangan sudah terlihat dalam laporan keuangan semester I-2021.

Harga Saham ADRO dalam satu dekade terakhir
Harga Saham ADRO dalam satu dekade terakhir

Adapun target laba bersih tahun ini dinaikkan menjadi US$ 441 juta dari US$ 292 juta. Begitu juga dengan pendapatan dinaikkan menjadi US$ 3,18 miliar dari US$ 2,68 miliar.

Revisi naik ini sejalan dengan peningkatan target rata-rata harga jual batu bara perseroan dari US$ 47 per ton menjadi US$ 56 per ton tahun 2021.

Begitu juga dengan perkiraan laba bersih pada 2022 yang direvisi naik dari US$ 310 juta menjadi US$ 367 juta. Perkiraan pendapatan dinaikkan dari US$ 2,86 miliar menjadi US$ 3,11 miliar.

Hal ini sejalan dengan revisi naik perkiraan harga jual batu bara perseroan dari US$ 49 per ton menjadi US$ 53 per ton. Perseroan diperkirakan mampu menjual sebanyak 54 juta ton batu bara pada tahun depan.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham ADRO dari Rp 1.600 menjadi Rp 1.700 dengan rekomendasi beli. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun 2022 sekitar 12,5 kali dan kuatnya harga jual batu bara.

Kinerja keuangan Adaro Energy
Kinerja keuangan Adaro Energy

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Juan Harahap mengungkapkan, kenaikan rata-rata harga jual batu bara akan mendongkrak laba bersih Adaro Energy pada paruh kedua tahun ini.

“Kami juga memperkirakan bahwa Adaro Energy akan mampu menaikkan volume produksi batu bara pada semester II, sehingga bisa mengejar target sepanjang tahun ini. Peluang tercapainya target tersebut bakal didukung oleh cuaca yang diperkirakan lebih baik dan pelonggaran pembatasan sosial,” tulis Juan dalam risetnya.

Mengenai kinerja keuangan perseroan pada semester I-2021, dia menyebutkan bahwa perolehan laba bersih sebesar US$ 178 juta masih di bawah estimasi Mirae dan konsensus analis. Pencapaian tersebut merefleksikan 40,5% dari proyeksi Mirae dan 45% dari konsensus analis. Namun, terbukanya peluang untuk mencatatkan kinerja yang lebih baik pada paruh kedua tahun ini mendorong Mirae untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ADRO dengan target harga dipertahankan Rp 1.600.

Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE sekitar 8,4 kali. Target harga tersebut juga mempertimbangkan kuatnya diversifikasi bisnis perseroan. Adapun laba bersih Adaro Energy tahun ini diproyeksikan naik menjadi US$ 420 juta dibandingkan tahun 2020 senilai US$ 147 juta. Begitu juga dengan pendapatan perseroan diestimasi naik menjadi US$ 3,27 miliar pada 2021 dibandingkan tahun lalu US$ 2,53 miliar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN