Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu gerai BNI. Foto: DAVID GITA ROZA

Salah satu gerai BNI. Foto: DAVID GITA ROZA

Momentum Penguatan Kinerja BNI

Rabu, 31 Maret 2021 | 05:41 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Kuatnya penetrasi pasar kredit korporasi dan payroll diharapkan menjadi faktor penopang pemulihan pertumbuhan kredit dan kinerja keuangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI tahun ini. Perseroan juga cenderung mampu menurunkan biaya dana.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, kredit korporasi dan kredit payroll akan menjadi mesin pertumbuhan kredit BNI sepanjang tahun ini, jika produk domestik bruto (PDB) pulih tahun ini.

“Kami memperkirakan kredit segmen korporasi, khususnya perusahaan papan atas, akan menjadi fokus utama penyaluran kredit perseroan. Hal ini didukung optimisme manajemen terkait kuatnya jaringan dalam penyaluran kredit ke segmen korporasi,” tulis Eka dalam risetnya.

Selain segmen korporasi, BNI mencatat sebanyak 3,4 juta tenaga kerja menggunakan payroll melalui bank tersebut hingga Desember 2020. Hal ini menjadi modal besar bagi perseroan untuk mendongkrak kredit payroll dengan harapan mulai pulih tahun ini.

“Dengan dua faktor tersebut, pertumbuhan kredit perseroan tahun ini diperkirakan mencapai 6,1%,” jelas dia.

BNI di sebuah pusat perbelanjaan
BNI di sebuah pusat perbelanjaan

Terkait restrukturisasi kredit, Eka memprediksi bahwa itu akan tetap menjadi agenda utama manajemen BNI dalam rangka meningkatkan kualitas aset perseroan. Pemantauan secara berkala nasabah yang masuk dalam restrukturisasi kredit akan terus dilakukan. Berdasarkan hasil survei kepada 90% pelanggan korporasi besar, menengah, dan usaha kecil menengah terungkap penurunan rasio kredit bermasalah.

Selain faktor tersebut, BNI masih memiliki ruang untuk menekan biaya dana (CoF), meskipun posisi biaya dana perseroan sudah terendah kedua setelah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Biaya dana perseroan diperkirakan bisa turun sekitar 20 basis poin tahun ini menjadi 2,4%.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 8.000. Target harga tersebut mengimplikasikan PBV tahun ini sekitar 1,3 kali.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan proyeksi laba bersih BNI tahun ini senilai Rp 7,08 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 3,28 triliun. Laba operasional sebelum provisi perseroan diharapkan meningkat menjadi Rp 30,83 triliun pada 2021 dibandingkan 2020 sebesar Rp 27,82 triliun.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 8.500. Rekomendasi dan target harga tersebut menunjukkan perbaikan berbagai indikator keuangan BNI hingga Februari 2021.

Harga saham BBNI satu dekade terakhir, prospek BBNI, dan kinerja keuangan BNI.
Harga saham BBNI satu dekade terakhir, prospek BBNI, dan kinerja keuangan BNI.

Perseroan menunjukkan perbaikan risiko kredit, yaitu terjadi pergeseran kolektibilitas ke kredit dengan resiko rendah. Status kolektibilitas yang berisiko tinggi turun dari 14% pada Oktober 2020 menjadi 9,6% pada Februari 2021 dan kredit berisiko medium turun dari 32,7% menjadi 31,4%. Di sisi lain, terjadi kenaikan kredit berisiko rendah dari 53,3% menjadi 59,1%.

Sedangkan peningkatankredit berisiko tinggi hanya terjadi pada current restructured non-Covid dari 0,9% menjadi 1,6% atau dari Rp 4 triliun menjadi Rp 7,2 triliun.

“Secara umum, status kolektibilitas kredit BNI di luar kredit konsumer mencatatkan pergeseran distribusi ke kredit dengan risiko rendah hingga Februari 2021,” tulis Suria dalam risetnya.

Nasabah BNI menarik uang di ATM di Digital Branch Gandaria City, Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan AR
Nasabah BNI menarik uang di ATM di Digital Branch Gandaria City, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Adapun BNI memproyeksikan peningkatan rasio cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) tahun ini sebesar Rp 9 triliun dibandingkan perkiraan semula Rp 20 triliun atau dibandingkan hingga akhir Desember 2020 sebesar Rp 43 triliun. Penambahan senilai Rp 6,8 triliun atau setara dengan 74% berasal dari kredit korporasi dan UKM.

“Dengan adanya penamba han Rp 9,2 triliun tersebut, maka provision coverage untuk shadow NPL adalah 50% dengan NPL coverage mencapai 180%. Jika hanya memperhitungkan penambahan, seperti sebelumnya (Rp 20 triliun), maka provision coverage adalah 75% dengan NPL coverage sebesar 240%,” jelas dia.

Samuel Sekuritas memperkirakan peningkatan laba bersih BNI menjadi Rp 12,91 triliun pada 2021 dibandingkan raihan tahun lalu Rp 3,28 triliun. Pendapatan bunga bersih diharapkan naik dari Rp 37,15 triliun menjadi Rp 36,03 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN