Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Kartu seluler/SIM card (Foto: blog.latism.org)

Ilustrasi Kartu seluler/SIM card (Foto: blog.latism.org)

Belajar dari Kasus Pembobolan Akun Keuangan Ilham Bintang

Operator Diminta Perketat SOP Penggunaan Kartu Seluler

Emanuel Kure, Selasa, 21 Januari 2020 | 10:00 WIB

JAKARTA, investor.id - Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengingatkan operator seluler di Tanah Air menerapkan standard operating procedure (SOP) yang ketat dalam penggunaan kartu seluler (SIM card). Hal ini perlu dilakukan agar kasus pengambialihan SIM card wartawan senior Ilham Bintang oleh pihak lain tanpa hak dan diikuti pembobolan uang ratusan juta rupiah tak terulang.

Ilham Bintang mengaku baru saja mengalami pengambialihan kartu subscriber identity module (SIM card) Indosat Ooredoo miliknya (SIM swap) tanpa hak oleh pihak lain.

Dari situ, operator Indosat pun memblokir SIM card Ilham atas permintaan dari si pelaku, penjahat siber. Selanjutnya, pelaku masuk ke sejumlah akun aplikasi pembayaran dan keuangan yang dimiliki Ilham dan membobol uang ratusan juta rupiah.

Anggota BRTI I Ketut Prihadi Kresna Mukti mengatakan, terkait kasus SIM swap seperti yang dialami oleh Ilham Bintang, BRTI akan meminta operator seluler untuk lebih berhati-hati dan menerapkan mekanisme penggantian kartu SIM card yang lebih baik.

Caranya, penggantian kartu SIM card hanya dapat dilakukan berdasarkan mekanisme dan SOP yang diberlakukan oleh penyelenggara jasa telekomunikasi berdasarkan Prinsip Mengenal Pelanggan (Know Your Customer/KYC), yaitu prinsip yang diterapkan untuk mengetahui identitas pelanggan adalah benar dan hanya boleh digunakan oleh orang yang berhak.

“Semestinya, jika SOP telah dijalankan dengan baik, tidak akan terjadi permasalahan SIM swap tanpa hak dan, atau melanggar hukum,” kata Ketut kepada Investor Daily, Senin (20/1).

Menurut Ketut, BRTI pun menebarkan ancamannya, jika ditemukan tidak menjalankan SOP dengan benar, atau melanggar SOP tersebut, operator telekomunikasi seluler yang bersangkutan akan dikenakan sanksi. Sayangnya, Ketut tidak membeberkan detail sanksi yang akan dikenakan.

“Untuk pengenaan sanksi, tentunya jika terdapat kelalaian dari operator seluler yang menyebabkan kerugian bagi pelanggan, operator yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi,” tegasnya.

Ketut mengakui, dari sisi regulasi, masih butuh banyak penyempurnaan untuk menutup celah yang dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan berbuat kejahatan melalui kartu seluler. Karena itu, BRTI segera berkoordinasi dengan semua operator seluler untuk mencermati SOP penggantian SIM card pada masing-masing operator seluler beserta implementasinya.

“Jika ditemukenali terdapat SOP yang masih kurang dapat melindungi pelanggan, SOP akan dirumuskan bersama yang dapat mencegah penyalahgunaan identitas pelanggan tanpa hak dan, atau melanggar hukum,” jelasnya.

Lalu, terkait dengan data, atau identitas nasabah layanan keuangan yang melekat pada nomor katu seluler di ponsel pintar (smartphone), BRTI juga akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tujuannya untuk mengantisipasi celah-celah prosedur yang ada jika dikaitkan dengan layanan keuangan.

“Jadi untuk menghindari tindakan SIM swap, tentunya, pertama yang perlu dilakukan adalah meyakini bahwa SOP SIM swap yang diterapkan oleh para operator seluler sudah baik, ketat, dan diimplementasikan dengan benar. Jika SOP sudah dilakukan dengan baik oleh para operator seluler, tentunya akan mengurangi celah tindakan SIM swap tanpa hak,” ungkap Ketut.

Celah Registrasi

Ketut mengakui, saat ini, masih ada celah dalam registrasi kartu seluler prabayar yang dilakukan secara mandiri oleh penggunanya. Registrasi pelanggan saat ini dilakukan dengan menggunakan dua identitas pelanggan, yaitu Nomor Idnetitas Kependudukan (NIK) dan Kartu Keluarga (KK).

Pelanggan pun dapat mendaftar secara mandidi (self registration) melalui SMS ke 4444. “Mekanisme ini masih terdapat celah, yaitu sulit untuk memastikan bahwa 'saya adalah saya'. Artinya, saya adalah orang yang berhak untuk menggunakan identitas kependudukan tertentu,” tuturnya.

Karena itu, ke depannya, BRTI mengusulkan proses registrasi kartu perdana harus datang sendiri ke gerai operator dengan membawa identitas asli. Atau bisa juga, pendaftaran melalui self registration dengan menggunakan teknologi biometrik pengenalan wajah (face recognition), cetak jari (finger print), dan pola iris mata (iris recognition).

“Langkah BRTI ke depan ya seperti yang saya jelaskan tadi, akan ada mekanisme registrasi yang dapat lebih menjamin 'saya adalah saya'. Kemudian, untuk proses penggantian SIM card pun harus jelas SOP-nya yang diimplementasikan dengan baik,” tegas Ketut.

Perbaiki Sistem

Sementara itu, SVP-Head Corporate Communications Indosat Ooredoo Turina Forouk mengakui, ada kelemahan verifikasi identitas dalam kasus pembobolan nomor kartu seluler ponsel Ilham Bintang. Karena itu, pihaknya berjanji akan memperbaiki sistem. “Hasil investigasi, benar ada pergantian kartu mengatasnamakan Bapak Ilham Bintang," kata Turina.

Pasalnya, dalam kejadian di gerai Indosat Bintaro Jaya Xchange pada Jumat, 3 Januari 2020, pukul 21.02 WIB, pelaku berpura-pura menjadi Ilham dan meminta pergantian SIM card. Petugas gerai pun disebut Turina mestinya melakukan verifikasi yang ketat.

“Kami juga mengakui adanya kekurangan pada proses verifikasi yang dilakukan agen di lapangan,” uajr Turina.

Dia pun menegaskan, Indosat akan memperbaiki sistem pendaftaran kartu seluler dan akan selalu berupaya menjaga keamanan data konsumen. “Kami berkomitmen untuk memperbaiki sistem kami demi menjamin keamanan pelanggan,” tuturnya.

Turina juga menyesalkan adanya kejadian dalam proses penggantian kartu seluler atas nama Ilham Bintang. “Kami telah bertemu dengan beliau dan menjelaskan tentang apa yang terjadi. Kami akan bekerja sama, termasuk jika ada proses yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini,” pungkas Turina.

SIM Swap

Dilansir dari berbagai sumber, SIM swap merupakan modus yang digunakan peretas untuk mengambil alih akun media sosial, atau akun perbankan korban dengan menggunakan nomor kartu seluler (SIM card).

Seperti diketahui, nomor kartu seluler pada smartphone, atau SIM card saat ini merupakan kunci yang terhubung dengan berbagai layanan perbankan hingga media sosial untuk memudahkan proses log in. Hanya saja, nomor ponsel juga rentan diambil alih dan disalahgunakan oleh para peretas untuk mengeruk keuntungan materi.

Padahal, untuk mengambil alih nomor ponsel, seseorang harus mengantongi data-data pribadi korban. Data tersebut antara lain nama ibu kandung, nama lengkap, tanggal lahir, hingga alamat tempat tinggal.

Untuk mendapatkan informasi tersebut, para pelaku memiliki berbagai trik dan tipu daya. Salah satunya dengan mengatakan bahwa korban menang undian, sehingga membutuhkan salinan identitas diri. Peretas juga bisa mengakses profil di media sosial untuk mengambil data pribadi korban.

Bermodalkan informasi data pribadi korban, peretas bisa mendatangi gerai penyedia nomor ponsel untuk membuat duplikasi. Atau bisa juga, peretas menelepon operator seluler untuk meminta duplikasi nomor telepon.

Setelah duplikasi dilakukan, nomor telepon asli di ponsel korban akan diblokir oleh operator seluler, sehingga tidak bisa digunakan. Sebaliknya, nomor ponsel korban justru sudah berpindah ke tangan peretas.

Untuk menghindari hal tersebut, pengguna pun disarankan tidak mempublikasikan informasi data pribadinya di media sosial. Informasi mengenai nama lengkap, alamat, nomor ponsel, dan nama ibu kerap dibutuhkan operator seluler dan layanan keuangan untuk konfirmasi data pribadi.

Selain itu, kita pastikan untuk menggunakan nomor ponsel yang berbeda untuk layanan perbankan dan media sosial. Jika mendadak nomor ponsel tidak aktif, sebaiknya segera melapor ke operator seluler. Terlebih, jika nomor ponsel tersebut terhubung dengan layanan perbankan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA