Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
5G, atau Generasi ke-5, adalah istilah umum, yang digunakan untuk mengacu pada perkembangan baru dalam ranah telekomunikasi. Foto:: IST

5G, atau Generasi ke-5, adalah istilah umum, yang digunakan untuk mengacu pada perkembangan baru dalam ranah telekomunikasi. Foto:: IST

Pemerintah Diminta Siapkan Frekuensi Millimeter Waves untuk 5G

Minggu, 20 Juni 2021 | 19:17 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Ketua Forum 5G Indonesia Sigit Puspito Wigati Jarot berharap, pemerintah bisa segera menyiapkan frekuensi yang tinggi (millimeter waves) untuk layanan 5G di Indonesia yang lebih baik. Pemerintah bisa menyiapkan mid band dan lower band di frekuensi 2.600 MHz dan 700 MHz untuk layanan tersebut.

Saat ini, ekosistem layanan 5G di Indonesia digelar di frekuensi 700 MHz dan 2.600 MHz yang sebenarnya sudah mulai terbentuk. Karena itu, pemerintah dapat segera memanfaatkan frekuensi 2.600 MHz sebagai pilihan yang tepat dan cepat untuk menjawab kebutuhan frekuensi 5G di mid band.

Pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo),  pun diminta segera membebaskan frekuensi 2.600 MHz yang masih diduduki oleh penyelenggara TV berbayar agar operator seluler dapat memberikan layanan 5G lebih optimal.

“Pemerintah akan rugi jika tidak segera menyiapkan frekuensi 2.600 MHz dan millimeter waves dari sekarang. Apalagi, frekuensi 1.800 MHz, 2.300 MHz, atau 3.500 MHz sudah penuh dengan operator telekomunikasi," tutur Sigit, dalam pernyataannya, Minggu (20/6).

Dia juga meminta pemerintah agar dapat mencari formula yang ideal agar harga lelang frekuensi 5G tidak terlalu mahal. Jika harga layanan terlalu mahal, dampaknya masyarakat akan kesulitan mengakses layanan 5G.

"Frekuensi yang bisa dimanfaatkan untuk 5G sangat banyak. Saya berharap pemerintah tak hanya melihat lelang frekuensi sebagai opsi untuk mengalokasikan frekuensi. Ada metode lain seperti beauty contest untuk operator selular eksisting untuk kemaslahatan masyarakat," imbuhnya.

Untuk mengembangkan bisnis layanan 5G di Indonesia, lanjut Sigit, operator masih memiliki banyak kendala, terutama ketersediaan spektrum frekuensi yang sangat terbatas. Sementara itu, layanan 5G idealnya membutuhkan lebar pita frekuensi 80-100 MHz contiguous.

Saat ini, Telkomsel menyelenggarakan layanan 5G di frekuensi 2.300 MHz dengan lebar pita 30 MHz. Sedangkan Indosat Ooredoo menggelar layanan 5G di frekuensi 1.800 MHz dengan lebar pita 20 MHz.

Masyarakat baru akan bisa merasakan layanan 5G yang lebih baik ketika operator mendapatkan frekuensi 100 MHz contiguous, atau millimeter waves dengan lebar frekuensi ratusan MHz. Atau setidaknya, operator memiliki frekuensi 80 MHz contiguous, bukan terpencar-pencar seperti sekarang.

"Frekuensi yang ada saat ini jauh dari optimal. Kini, operator yang menyelenggarakan 5G hanya sekadar memberikan layanan agar masyarakat dapat mencicipi 5G, bukan 5G yang sebenarnya,” ucapnya.

Operator Berlomba

Sigit menilai, wajar jika operator di Indonesia berlomba-lomba untuk menggelar 5G. Sebab, sudah banyak negara di dunia yang menggelarnya, sehingga bukanlah hal yang aneh dan sudah saatnya Indonesia kini mengadopsinya.

Setelah Telkomsel mendapatkan Surat Keterangan Laik Operasi (SKLO) dan memberikan layanan 5G di sejumlah kota, pekan lalu, Indosat Ooredoo giliran mengikuti langkah anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk tersebut.

Dia menyampaikan, dalam menggelar layanan 5G, operator memiliki pandangan objektif masing-masing. Tujuan utamanya agar bisnisnya tersebut bisa terus berlanjut dan kompetitif dibandingkan operator lain.

Layanan 5G di dunia didesain untuk komunikasi data yang cepat, aplikasi IoT yang masif, serta aplikasi khusus dengan latensi sangat rendah. Karena itu, operator di Tanah Air harus berani mengeksplorasi bisnis model 5G yang lain, seperti 5G untuk private selular network, daerah rural, industri, atau melengkapi fixed broadband.

"Banyak sekali potensi bisnis yang dapat dibuat dengan layanan 5G. Saya berharap, operator tidak terlalu konservatif dalam mengimplementasikan 5G. Rugi jika operator konservatif dalam mengembangkan 5G," pungkas Sigit.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN