Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto ilustrasi: Para pialang  sedang bekerja di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat (Reuters/ANTARA)

Foto ilustrasi: Para pialang sedang bekerja di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat (Reuters/ANTARA)

Saham Wall Street Naik 1 %, Optimistis Pemulihan Ekonomi

Listyorini, Rabu, 3 Juni 2020 | 06:08 WIB

NEW YORK, Investor.id -Indeks utama saham di bursa Wall Street pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB) naik sekitar 1%. Investor melihat tanda-tanda pemulihan ekonomi AS di tengah kekhawatiran terhadap kerusuhan sosial dan demonstrasi, serta ketegangan hubungan AS-Tiongkok.

Dow Jones Industrial Average naik 267 poin, atau 1,05%. S&P 500 juga mencatatkan kenaikan, naik 0,82%.

Saham terkait dengan pembukaan kembali ekonomi bergerak lebih cepat, seperti Citigroup, Wells Fargo dan Bank of America semuanya naik setidaknya 0,9%. Gap naik 7,7%. Southwest naik 2,6%. Operator mal dan pusat perbelanjaan melihat kenaikan kuat pada hari Selasa.

“Pasar saham menguat secara lebuh luas. Tak hanya saham-saham berkapitalisasi besar, tetapi juga yang berkapitalisasi kecil, “ kata  Jim Paulsen, chief investment strategist at the Leuthold Group, kepada CNBC.

Saham-saham melanjutkan perjalanan untuk naik lebih tinggi karena optimisme bahwa pemburukan ekonomi sudah mencapai dasarnya sehingga saat ini adalah waktu untuk pemulihan. Kenaikan indeks pada Juni adalah lanjutan rally indeks pada April dan Mei pada saham-saham AS.

Dow sekarang naik lebih dari 41% dari level terendahnya dalam 52 minggu pada 23 Maret. S&P 500 telah menguat lebih dari 40% dan Nasdaq Composite naik hampir 45% sejak saat itu.

Profesor Wharton Jeremy Siegel mengatakan, reli pasar saham masih harus berlanjut berkat dukungan besar dari Federal Reserve. “Saya pikir reli ini semakin jauh. Ia memiliki semua orang yang ragu di sana tetapi ini adalah likuiditas yang disediakan oleh Fed yang menurut saya merupakan penentu utama, "kata Siegel.

Pasar saham mengabaikan faktor kerusuhan di seluruh negara bagian AS. Kerusuhan dan demonstrasi itu dipicu oleh kematian George Floyd di tangan polisi. Demo terjadi ketika negara itu terhuyung-huyung dari dampak ekonomi akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Kota-kota besar seperti New York dan Chicago telah memberlakukan jam malam dalam upaya meredam pertemuan massa. Presiden Donald Trump mengatakan Senin malam ia akan mengerahkan militer jika negara bagian dan kota gagal menumpas demonstrasi.

Di sisi lain, ketegangan hubungan antara Tiongkok da AS juga makin tinggi. Beijing memerintahkan perusahaan-perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian kedelai dan daging babi AS, sebagai balasan atas pengumuman Presiden Donald Trump bahwa ia akan mengakhiri perlakuan khusus untuk Hong Kong setelah diberlakukan UU Keamanan Nasional di wilayah semi-otonomi itu.

Sumber : CNBC.com

BAGIKAN