Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pejalan kaki melintas di depan papan pergerakan harga saham di Tokyo. Foto: Investor Daily/AFP

Pejalan kaki melintas di depan papan pergerakan harga saham di Tokyo. Foto: Investor Daily/AFP

Investor Saham Lebih Memedulikan Pelonggaran Terkait Covid-19

Happy Amanda Amalia, Rabu, 3 Juni 2020 | 07:18 WIB

LONDON, investor.id – Pasar saham global menguat pada Selasa (2/6) karena para investor lebih memedulikan pelonggaran-pelonggaran dari aturan karantina di berbagai negara. Walaupun mereka tetap mencermati ketegangan antara Tiongkok-Amerika Serikat (AS). Serta aksi protes anti-rasisme disertai kekerasan yang mencengkeram sejumlah kota terbesar di AS akibat tewasnya pria kulit hitam oleh polisi di Minneapolis.

Di Eropa, indeks saham Frankfurt DAX 30 menguat 3,9% ke level 9.976,10 dalam transaksi perdagangan sesi siang. Hal itu disebabkan para investor Jerman langsung aktif pascalibur panjang di akhir pekan. Mereka juga menunggu paket stimulus domestik untuk mengatasi dampak Covid-19.

Pada saat yang sama, indeks saham Paris CAC 40 menguat 2,1% ke level 4.862,83 poin. Kendati Pemerintah Prancis memperkirakan ekonomi kontraksi 11% pada tahun ini. Sementara itu, indeks saham London FTSE 100 naik 1,0% ke level 6.226,81.

“Pasar saham di Eropa menunjukkan keuntungan yang layak karena masih ada optimisme sehubungan dengan pembukaan kembali ekonomi. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan pembatasan karantina mereka, jadi ada perasaan yang berkembang bahwa semuanya perlahan-lahan kembali normal,” ujar David Madden, analis dari CMC Markets UK.

Kabinet Jerman dilaporkan melakukan pertemuan pada Selasa untuk membahas paket stimulus ekonomi guna mempercepat pemulihan dari karantina terkait Covid-19. Perdebatan sengit diperkirakan terjadi saat membahas stimulus untuk industri otomotif.

Sementara itu saham maskapai Jerman Lufthansa melonjak 3,9% menjadi 9,5 euro per lembar saham setelah dewan pengawas menyetujui dana talangan (bailout) sebanyak 9 miliar euro (US$ 10 miliar) dari Pemerintah Jerman.

Di luar itu, para pialang masih mencermati ketegangan Tiongkok-AS dan protes anti-rasisme di sejumlah kota besar di AS.

“Tidak adanya keretakan perdagangan yang serius antara AS dan Tiongkok, juga membantu sentimen. Para pialang di bagian Atlantik ini pun menyaksikan dengan tatapan ngeri ke tempat kerusuhan dan penjarahan di AS. Tapi hal itu tidak memengaruhi sentimen di bagian dunia ini, walau mungkin memengaruhi transaksi saham AS ketika perdagangan akan berlangsung nanti,” papar Madden.

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk tidak menjatuhkan sanksi tegas terhadap Beijing atas undang-undang keamanan Hong Kong juga memungkinkan investor memulai kegiatan pada Juni dengan awal yang sehat. Sementara itu, melambatnya penyebaran infeksi virus dan angka kematian secara global tetap dipertahankan agar suasana hati tetap positif.

Asia Menguat

Bursa saham di Tokyo dan Seoul ditutup naik lebih dari satu persen pada Selasa, setelah data menunjukkan laju ekonomi Negeri Ginseng menyusut pada kuartal I tapi di bawah perkiraan.

Indeks saham Nikkei 225 ditutup menguat 1,2% pada level 22.325,61. Sedangkan indeks saham Hang Seng ditutup naik 1,1% di level 23.995,94 sehingga memperpanjang kenaikan yang lebih dari 3% pada Senin (1/6).

Indeks saham Shanghai ditutup menguat 0,2% pada level 2.921,40. Sedangkan indeks saham di Mumbai melonjak 0,9%, Sydney naik 0,3%, dan Taipei menguat 0,4% lebih tinggi.

Sementara itu, pasar saham Kuala Lumpur, Manila dan Wellington naik lebih dari satu persen, dan Jakarta menguat lebih dari 2%. Bursa saham Singapura dilaporkan naik lebih dari 2% ketika pihak berwenang mulai mengurangi langkah-langkah lockdown.

Para investor tampaknya menepis berita bahwa Tiongkok telah memerintahkan perusahaan-perusahaan pertanian pelat merah untuk sementara waktu menghentikan pembelian beberapa barang pertanian AS – yang dipastikan bakal menimbulkan pertanyaan tentang dampak pada pakta perdagangan negara yang ditandatangani pada Januari.

“Menggali lebih dalam, perusahaan swasta tidak mengeluarkan perintah dan pelaksanaan yang sama. Tampaknya, itu lebih merupakan suntikan peringatan terhadap AS atas Hong Kong, dan bukan ancaman penarikan segera dari perjanjian perdagangan AS-Tiongkok,” kata Jeffrey Halley dari OANDA. (afp)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN